Tour Samosir Dengan Becak Wisata Khas

Beca Wisata

Sedang liburan di Pulau Samosir mengunjungi lokasi wisata yang menarik disana tentunya sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan lagi jika berkeliling Pulau Samosir dengan naik kenderaan yang unik. Ya, Anda bisa berkeliling pulau Samosir dengan naik becak mesin yang unik.

Bagi pengunjung wisata di Pulau Samosir bisa memilih naik becak mesin untuk berkeliling Pulau Samosir untuk menikmati keindahan pemandanga alam Danau Toba. Dengan naik becak Anda akan menikamti kesejukan udara danau Toba saat berkeliling naik becak ini.

Keberadaan becak wisata ini akan membantu perjalanan wisata Anda ke berbagi obyek wisata yang menari yang banyak terdapat di Pulau Samosir.

Bagi wisatawan yang berminat menikmati keindahan alam Danau Toba dengan naik beca wisata bisa menghubungi :

 

Lapendos

+62 822-7374-3300

 

Beca Wisata

KMP Ihan Batak Penyeberangan dari Ajibata ke Ambarita

KMP Ihan Batak Penyeberangan dari Ajibata ke Ambarita

Kado Natal Untuk Masyarakat Danau Toba di tahun 2018 ini, KMP Ihan Batak telah beroperasi sejak hari Kamis 27/12 2018 dari Pelabuhan Ajibata menuju Pelabuhan Ambarita Kabupaten Samosir, dengan pelayaran perdana mengangkut 282 penumpang, 34 unit minibus, 3 unit sepeda motor, dengan jarak tempuh sekitar 9 mil dengan kecepatan 10 Knot/Jam.

Harga tiket untuk kendaraan minibus Rp 135.000 per unit, sepedamotor Rp 13.000 per unit, untuk penumpang dewasa Rp 9.000 per orang, anak anak Rp 4.000 per orang.

Pelayaran Perdana ini dioperasionalkan oleh ASDP Sibolga Gunung Sitoli didampingi oleh Balai Perhubungan Transportasi Darat Wilayah II.

Dioperasikannya KMP Ihan Batak adalah sebagai bentuk dukungan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan transportasi prima bagi pariwisata di Kawasan Danau Toba

Ini dia tarif angkutan penyeberangan Kapal KMP IHAN BATAK dengan rute Ajibata – Ambarita beserta jadwalnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is tarif-dan-jadwal.jpeg

Selamat berliburan di kawasan Danau Toba. Tetap utamakan Keselamatan. jangan lupa pake Life Jacket saat di kapal penyeberangan .

Landmark Instagrammable di Medan

Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara, kaya akan keanekaragaman budaya. Selama berabad-abad, ribuan pedagang dari Cina, India, Timur Tengah, Semenanjung Malaya, Singapura, dan Eropa telah datang ke kota ini untuk berdagang dan tempat banyak yang menetap, masing-masing membawa budaya mereka sendiri. Asimilasi budaya-budaya ini telah menciptakan kota beragam yang hidup, serta warisan arsitektur dan kuliner yang menarik. 

Kota ini memiliki banyak landmark terkenal yang dipahat dengan detail yang teliti dan karya seni yang luar biasa. Di sini, Anda akan dengan mudah menemukan gedung-gedung tua yang berdiri tepat di sebelah konstruksi modern yang ramping. 

Di bawah ini adalah sekilas semangat penuh warna yang akan Anda temukan di pusat kota Medan: 

 

Masjid Agung Al Mashun 

Masjid agung ini terletak di jalan yang sibuk di Medan. Masjid ini dibangun pada tahun 1906-1909, pada masa pemerintahan Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam dari Kesultanan Deli. Dikelilingi oleh taman yang luas, gaya arsitektur bangunan utama adalah kombinasi pengaruh Timur Tengah, Moghal, dan Spanyol. Itu dibangun dalam bentuk segi delapan dan memiliki empat sayap di selatan, timur, utara dan barat. Masjid ini dibangun berdasarkan perintah ketat yang diberikan oleh Sultan: bahwa itu harus lebih megah daripada istana agungnya sendiri – Istana Maimoon. Struktur elegan dengan detail rumit pada desain eksterior dan interior, ini pasti tempat yang perlu Anda kunjungi. 

Alamat: Medan 20218, Indonesia 

Lihat Lokasinya klik disini!

This image has an empty alt attribute; its file name is mesjid-raya-medan.jpg

Sumber foto inibaru.id

Istana Maimoon 

Dibangun oleh Sultan Ma’mun Al Rashid Perkasa Alamsyah pada tahun 1887-1891, istana ini memiliki total 30 kamar di tanah 2.772 m2. Namun, hanya satu ruang utama yang terbuka untuk umum, yaitu ruang tahta. Gaya arsitekturnya adalah campuran budaya dari warisan Melayu, Islam dan Moghal. Sementara desain interiornya mengambil suasana yang lebih Spanyol-Italia. Ambil foto diri Anda mengenakan kostum tradisional kerajaan Melayu Deli atau duduk di singgasana Sultan dan Ratu-Nya. Koleksi perhiasan, barang antik, dan hadiah Royal yang dipersembahkan oleh para pemimpin kerajaan negara lain juga dipajang di sini. 

Alamat: Jl. Brigjen Katamso, Medan 

Lihat lokasi klik disini!

This image has an empty alt attribute; its file name is istana-maimun.jpg

Sumber foto http://trilio.net

Graha Maria Annai Velangkanni 

Sebuah bangunan megah dengan façade yang rumit, Kuil Maria di Graha Maria Annai Velangkanni didedikasikan untuk Bunda Maria yang terberkati. Itu dibangun pada 2001-2005. Anda mungkin keliru menganggapnya sebagai kuil Hindu atau mungkin masjid karena ornamen dan kubahnya. Pastor James Barathaputra, SJ adalah pencetus ide untuk membangun Gereja Katolik yang unik ini. Visinya adalah menjadikan tempat ini tempat perlindungan bagi orang-orang yang mencari kedamaian, penghiburan, penyembuhan, dan keilahian. 

Alamat: Jl. Sakura III no. 10 Tanjung Selamat, Medan, Indonesia 

This image has an empty alt attribute; its file name is gereja-maria-annai-velangkanni.jpg

Sumber foto https://travel.tribunnews.com

 

Rumah Tjong A Fie 

Mengunjungi mansion ini akan membuat Anda merasa segera terangkut kembali dalam sejarah. Setiap perabot dan aksesori di mansion ini ditata persis seperti mansion yang masih dihuni oleh pemiliknya. Terletak di pusat kota Medan, bangunan ini memiliki kombinasi pengaruh Cina, Melayu, dan Art-Deco. Rumah besar terus dipertahankan dengan baik di antara struktur modern di sekitarnya. Tjong A Fie adalah seorang pedagang Cina yang berusaha mencari rezeki yang lebih baik di kota yang sekarang dikenal sebagai Medan. Ia bangkit untuk menjadi wirausahawan kaya, pemimpin dan dermawan yang disegani. Dengan ukiran, ornamen, barang antik, dan karya seni yang indah, rumah besar ini didedikasikan untuk istri tercintanya. Inilah fakta yang menyenangkan: Tjong A Fie adalah di antara tiga kepribadian yang membiayai pembangunan Masjid Raya Al Mashun. 

Alamat: Jln. A. Yani 105, Medan 20111 

3.jpg

Sumber Foto http://tjongafiemansion.org/

 

Maha Vihara Maitreya 

Menjadi candi Budha terbesar di Medan, ia membanggakan diri dengan slogan “Satu Dunia Satu Keluarga”. Dibangun pada tahun 1991 di sebidang tanah seluas 4,5 hektar, diresmikan pada tahun 2008. Anda dapat menemukan patung-patung besar di sekitar lokasi, tetapi sayangnya mengambil foto beberapa di antaranya dilarang. Interiornya anggun dan sederhana, didedikasikan bagi umat untuk melakukan ibadah hening yang hening, mengikuti ajaran Buddha Maitreya. Kuil ini juga memiliki taman bermain untuk anak-anak untuk bermain dan toko suvenir. 

Sumber Foto https://bobo.id

 

Kuil Sri Mariamman 

Kuil ini dibangun pada tahun 1884 oleh donor muda Tamil bernama Gurdhuara Sahib dan Sami Rangga Naiher. Terletak di daerah Kampung Madras (juga dikenal sebagai Little India di Medan), ini adalah kuil Hindu tertua di Medan. Itu dibangun untuk menyembah Dewi Mariamman dan dikhususkan untuk Dewa Hindu Ganesha dan Murugan. gaya arsitekturnya diambil dari kuil-kuil Hindu yang ditemukan di India Selatan dan Sri Lanka. Itu dihiasi dengan warna-warna cerah, patung dan ukiran yang indah. Ruang sholat kuil ditutup pada hari Sabtu, tetapi halaman selalu dibuka pada hari lain. 

Alamat: Jln. Teuku Umar no. 18, Medan 20112, Indonesia 

 

https://wisatasumatera.wordpress.com

 

Malindo Air Buka Penerbangan Subang-Danau Toba

Malindo Air

Malindo Air akan membuka penerbangan baru dari pusat kota Bandara Subang Skypark Kuala Lumpur ke Bandara Internasional Silangit, Danau Toba, Sumatera Utara, mulai 17 Agustus 2018.

 

Menurut siaran pers Malindo Air di Kuala Lumpur, Rabu (8/8/2018), tarif promosi ditawarkan seharga 189 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp 669.000 sekali jalan.

 

Penerbangan OD 360 dari Subang ke Siborong-Borong, lokasi Bandara Internasional Silangit berada, dijadwalkan berangkat pukul 13.45 waktu setempat.

 

Penerbangan selama satu jam 30 menit akan tiba di Siborong-borong pukul 14.15 sore waktu setempat.

 

Penerbangan OD361 kemudian akan berangkat pada jam 14.50 waktu setempat dan tiba di Subang pada jam 17.15 waktu setempat.

 

Rute ini akan dioperasikan oleh pesawat ATR72-600 yang terdiri dari 72 penumpang. CEO Malindo Air, Chandran Rama Muthy mengatakan pihaknya bangga memperkenalkan kota ketiga penerbangan Malindo ke Indonesia.

 

“Kami sangat gembira untuk memperkenalkan kota ketiga yang kami terbang dari Subang ke Indonesia, setelah Batam dan Pekanbaru.

 

Ini menandai upaya berkelanjutan kami untuk memperluas jaringan rute kami ke Sumatera Utara, sebagai hasil dari kerja sama kami dengan Badan Pariwisata Indonesia untuk mempromosikan tujuan ekowisata,” katanya.

 

Keberangkatan dari Subang Skypark langsung ke kota dimana Danau Toba berada, menurut Chandran Rama Muthy, adalah keuntungan utama di mana penumpang akan menikmati kemudahan akses menuju ikon wisata di Sumut.

 

“Pemberian bagasi gratis 15 kg akan menambah nilai lebih bagi wisatawan dalam hal efektivitas biaya,” tambahnya. (*)

 

 

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Malindo Air Buka Penerbangan Subang-Danau Toba”

 

Editor : I Made Asdhiana

Ketika Bumi Berkisah Si Tao Toba dan Si Bukitbarisan

Ketika Bumi Berkisah Si Tao Toba dan Si Bukitbarisan
oleh : Dr.Ir. Budi Brahmantyo, M.Sc

“Dasar kau si anak ikan!”

Tiba-tiba Bumi berguncang keras. Gempa bumi besar mengguncang tanah pegunungan itu. Tanah retak merekah memanjang. Segera air menyembur keluar tiada henti-hentinya dari rekahan-rekahan tanah dan batuan. Di atas, mendung gelap menggantung berat di langit pekat. Petir menyambar bumi dengan suaranya yang menggetarkan hati. Hujan pun turun dengan deras terus-menerus. Si Toba baru tersadar, umpatan kepada anaknya Samosir telah membuka rahasia yang seharusnya dijaga ketat tentang asal-usul isterinya yang tadinya ikan besar cantik yang dulu didapatnya.

Penyesalan datang kemudian. Air segera menggenangi lembah tempat si Toba berada dan menenggelamkannya. Begitulah balasan atas ketidaksabaran mengurus anak mereka Samosir yang memang nakal dan rakus makan. Samosir, atas perintah ibunya yang kembali berubah menjadi ikan, berhasil selamat mendaki bukit. Lembah yang tergenang luas itu kemudian berubah menjadi danau, Tao Toba. Bukit tempat Samosir menyelamatkan diri menjadi Pulau Samosir.

Demikianlah legenda Danau Toba yang dikenal pada cerita anak-anak Nusantara. Moral cerita mengingatkan kita untuk selalu sabar mengurus anak dan menjaga kehormatan rumah tangga. Tetapi di balik itu tersirat peristiwa alam yang luar biasa tentang pembentukan Danau Toba. Secara geologis sudah dikenal luas bagaimana danau terluas di Indonesia ini terbentuk melalui peristiwa paroksismalis antara aktifitas pergerakan lempeng tektonik dan letusan-letusan volkanik.

Supervolcano Toba

Jauh dari Toba, di lapisan es yang dingin membeku di Greenland dekat Kutub Utara, pada awal dekade 1970 para ahli geologi glasial dan paleoklimatologi terheran-heran mendapati inti pengeboran es mengandung anomali endapan sulfat yang pasti berkaitan dengan endapan abu gunung api. Ribuan gunung api tersebar di atas Bumi, gunung api manakah yang endapan abunya tersebar hingga Kutub Utara? Hasil penelitian menemukan data yang mencengangkan. Clive Oppenheimer pada 2002 menyatakan anomali tersebut berhubungan dengan abu gunung api yang diendapkan oleh suatu kejadian letusan volkanik 74.000 tahun yang lalu. Endapan dengan umur sama yang lebih tebal dijumpai dari hasil pengeboran dasar laut di Samudera Hindia dan Laut Arab selama akhir 1980-an dan awal 1990-an. Semuanya ternyata berumur setara dengan endapan berwarna putih yang tersebar luas di dataran-dataran tinggi sekeliling Danau Toba. Itulah yang dikenal sebagai tuf Toba (Toba tuffs).

Di jaman prasejarah, 74.000 tahun yang lalu, diperkirakan suatu rangkaian letusan gunung api yang dahsyat telah terjadi di sepanjang retakan pada batas-batas timur laut dan barat daya Danau Toba. R.W. van Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda – yang bukunya “The Geology of Indonesia, 1949” selalu menjadi rujukan geologi Indonesia – pada 1929 dan 1939 mengemukakan hipotesis terbentuknya Danau Toba. Menurutnya, suatu pembumbungan bagian tengah Sumatera Utara yang dikenal sebagai “tumor Batak” menjadi cikal bakal terbentuknya Danau Toba. Tumor itu meletus luar biasa dahsyat, gabungan antara proses-proses volkanik dan tektonik, menyebabkan amblesnya bagian tengah tumor tersebut membentuk cekungan memanjang barat laut – tenggara, serarah memanjang Pulau Sumatera, dan juga searah dengan Sesar Besar Sumatera dan Pegunungan Bukitbarisan. Proses itu juga menyebabkan “terungkitnya” sebagian dari amblesan, terangkat naik dengan posisi miring ke arah barat daya, membentuk Pulau Samosir.

Pendapat Bemmelen yang telah bertahan begitu lama sejak 1929 itu akhirnya terbantahkan oleh penelitian geomorfologi yang dikerjakan oleh Verstappen selama 1961 – 1973. Ia mendapati adanya teras-teras struktural di ngarai-ngarai terjal Sei Asahan di Siguragura yang di atasnya terendapkan tuf Toba. Hal itu menunjukkan bahwa Sei Asahan telah terbentuk jauh sebelum letusan dahsyat Toba menurut Bemmelen pada 1929. Artinya, ada kemungkinan cekungan Toba telah ada sebelum letusan supervolcano, atau apa yang dikenalkan oleh Bemmelen sebagai letusan volkano-tektonik. Letusan-letusan besar itu terjadi pada gunung-gunung api yang kemungkinan terjadi pada retakan-retakan dan sesar-sesar yang mengapit gawir-gawir terjal lembah Danau Toba.

Letusan-letusan besar paroksismal menyemburkan abu-abunya hingga ke lapisan-lapisan stratosfer dan disebarkan ke seluruh permukaan Bumi. Endapan tebal tentu saja jatuh di sekitar pusat letusan di sekitar Danau Toba, menghasilkan tuf Toba, batuan berwarna putih dengan butiran-butiran gelas volkanik, fragmen kuarsa, dan matriks gelas berukuran lempung. Kejadian itu tidak berlangsung dalam satu kali saja. Hasil penelitian stratigrafi lapisan tuf Toba dan pengukuran umur absolutnya, menunjukkan adanya lapisan-lapisan tuf hasil letusan sekitar 74.000, 450.000, 840.000, dan 1,2 juta tahun yang lalu, menghasilkan perulangan 375.000 tahun dengan deviasi standar 15.000 tahun (Chesner et al. 1991 dan Dehn et al. 1991, dalam Rampino & Self, 1993).

Rampino dan Self (1993) mencurigai bahwa letusan supervolcano Toba telah menghasilkan letusan abu gunung api sebesar 2.800 km3 setinggi 40 km ke angkasa yang kemudian dapat menyebabkan pendinginan permukaan Bumi secara tiba-tiba. Rampino dan peneliti lainnya menyebut gejala pendinginan global itu sebagai “volcanic winter”. Suhu Bumi rata-rata turun 3 – 5oC. Besar kemungkinan letusan 74.000 tahun yang lalu mempengaruhi penghuni Bumi dan manusia saat itu. Secara global diketahui adanya gejala populasi leher botol berkaitan dengan menurun secara drastisnya populasi manusia bertepatan pada waktu 74.000 tahun yang lalu. Di Nusantara, dengan bukti-bukti fosil yang ditemukan di Pulau Jawa, Homo erectus, dan jenis manusia yang lebih modern seperti Manusia Wajak, besar kemungkinan merasakan pengaruh besar letusan dahsyat Toba. Memang, belum ada bukti kuat fenomena Toba menyebabkan kepunahan spesies manusia, tetapi pengaruh perubahan iklim dipastikan mengubah pola kehidupan mereka.

Contoh terdekat perubahan iklim global akibat letusan gunung api adalah setelah letusan Krakatau 1883, dan terutama letusan Tambora pada April 1815 yang 10 kali lebih dahsyat daripada Krakatau 1883. Letusan itu telah menyebabkan suatu fenomena aneh yaitu turunnya salju di bulan Juli di Eropa, sehingga tahun 1815 dijuluki “the year without summer.” Tahun-tahun setelah itu menyebabkan kegagalan panen di seluruh dunia akibat kekacauan iklim global.

Awal 2005, suatu pendapat yang akhirnya diakui salah kutip oleh peneliti dari Monash University Australia, Raymond Cas, menyatakan adanya massa magma raksasa di bawah Danau Toba yang siap meletus sebagai supervolcano. Pendapat yang membuat panik ini segera dibantah banyak ahli. Sekalipun massa magma itu memang ada, tetapi letusan dahsyat tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Tentu saja kita tidak berharap adanya letusan paroksismal dari supervolcano Toba, sekalipun fenomena itu dapat menghentikan gejala pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini.

Dalam Ekspedisi Geografi Indonesia VI 2009 di Provinsi Sumatera Utara, tuf Toba teramati ketika sebagian tim memasuki suatu kawasan eksklusif di tepi Danau Toba di Merek yang bernama Taman Simalem Resort. Tempat tersebut berdisain mewah dan apik, dengan suatu plaza persis menghadap ke arah indahnya Danau Toba bagian barat laut. Tempat yang tadinya berstatus hutan lindung itu telah disulap menjadi kawasan wisata mahal, termasuk pembangunan vihara yang sedang dalam tahap penyelesaian.

Lereng-lereng terjadi pada plateau Toba di Merek dipotong dan ditimbun (cut and fill) menjadi pola jalan berliku-liku menghasilkan pemandangan yang eksotis. Vihara ditempatkan di salah satu ujung tanjung dan diapit oleh lereng-lereng terjal. Di sinilah persoalan akan muncul. Lereng-lereng terjal yang didominasi oleh tuf Toba bersifat gembur dan berpasir, serta mudah mengalami denudasi. Gejala-gejala erosi dan longsoran sudah mulai terlihat. Pengembang kelihatan mengerti benar permasalahan yang akan dihadapi. Beberapa dinding penahan dan bronjong batu telah dibangun untuk menahan ketidakstabilan lereng-lerengnya. Pemeliharaan yang nantinya terus-menerus harus terkontrol sehingga akan sangat mahal.

Lain lagi singkapan tuf Toba pada jalan ke arah Sidikalang, melalui Sumbul. Sumbul terletak persis pada garis morfologi memanjang barat laut – tenggara sebagai ekspresi Sesar Besar Sumatera. Garis ini ditempati oleh aliran Lau Renun yang menoreh tajam lembah sungainya. Di lereng Lau Renun yang terjal, tuf Toba yang keras digali sebagai batu bahan fondasi. Sementara itu pada arah yang jauh berseberangan di Doloksanggul – Onanganjang, sebagian besar batuan tuf telah mengalami alterasi. Tanah berwarna kuning, jingga, dan merah menghiasi pinggir-pinggir jalan akibat pengaruh larutan sisa magma pada proses lanjut.

Di Pulau Samosir, tuf Toba yang keras menjadi artefak-artefak peninggalan kerajaan-kerajaan kuno Batak berupa kursi-kursi dan meja altar tempat penyiksaan musuh yang tertawan. Batu-batu kursi tersebut sangat terkenal sebagai objek wisata di Siallagan, Kecamatan Simanindo. Batu tuf keras juga menjadi sarkofagus, tempat menyimpan mayat raja-raja Sidabutar di Tomok, atau patung-patung berhala. Tuf Toba yang saat diletuskan menghancurkan ekosistem sekitarnya, jauh setelah itu ternyata ikut berperan di dalam perkembangan kebudayaan kerajaan-kerajaan Batak tua di sekitar Danau Toba dan Samosir.

Tingkat kekerasan tinggi batuan tuf Toba tidak hanya dijumpai di lereng Lau Renun, Sidikalang, Kabupaten Dairi, atau di Pulau Samosir, tetapi juga tercermin dari air terjun sangat tinggi dan vertikal Sipisopiso di Merek. Apalagi di sepanjang lereng-lereng sangat terjal di ngarai Sei Asahan antara Siguragura dan Tangga, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, batuan tuf Toba selintas tampak seperti granit yang perlu beberapa kali pukulan kuat dengan palu geologi untuk memecahkannya.

Sei Asahan sebagai sungai drainase dan tempat keluarnya air Danau Toba yang maksimum berpermukaan 905 m dpl, menggerus secara vertikal dan dalam batuan tuf Toba mengikuti pola-pola retakan tektonik. Anak-anak sungainya masuk ke lembah Asahan sebagai air terjun yang tinggi, menguraikan airnya menjadi embun ketika jatuh menuruni dinding ngarai yang tegak. Aliran Sei Asahan mengarah ke timur laut untuk kemudian berubah menjadi sungai besar di Perhitian, Halado, setelah seluruh airnya keluar dari terowongan PLTA Tangga. Akhirnya sungai ini mengalir bermeander di dataran pantai timur Sumatera Utara, untuk kemudian bermuara sebagai sungai distributary yang berliku-liku pada lingkungan delta di Teluk Nibung, Tanjungbalai. Tempat ini merupakan pelabuhan ramai yang menjadi pintu perairan Selat Malaka bagi kapal-kapal menuju Selangor, Malaysia.

Empat lembar peta geologi di sekitar Danau Toba memetakan dengan jelas sebaran tuf Toba ini (Aldiss dkk. 1983, Aspden dkk. 2007, Cameron dkk. 1982, dan Clarke dkk. 1982). Tuf Toba tersebar jauh ke arah utara, dan dijumpai hingga Pematangsiantar, bahkan mencapai Tebingtinggi. Tidak perlu heran. Jika di tengah-tengah Samudera Hindia saja didapati endapan tuf Toba, jarak ke Tebingtinggi hanyalah jangkauan tidak seberapa bagi suatu letusan super-dahsyat. Ke arah selatan, tuf mengendap mengisi perbukitan dan lembah sepanjang Pegunungan Bukitbarisan sejak Sidikalang di barat laut hingga Tarutung dan Sipirok di tenggara dan selatan.

Tarutung adalah kota kecil yang sangat dikenal oleh para peneliti ilmu kebumian, khususnya yang berkecimpung dalam bidang bencana gempa bumi. Tempat yang dalam bahasa Batak berarti “durian” ini pernah diguncang gempa bumi merusak 6,6 skala Richter pada 27 April 1987. Memang jalur di Bukitbarisan itu adalah jalur retakan dan patahan aktif sepanjang Pulau Sumatera, mulai dari Teluk Semangko di Lampung, menerus ke utara melalui Bengkulu, Kerinci di Jambi, Danau Singkarak dan Padangpanjang di Sumatera Barat, Tarutung – Sidikalang di Sumatera Utara, hingga Bandaaceh.

Ciri morfologi lembah dan perbukitan memanjang sebagai hasil kegiatan tektonik aktif, tampak jelas di Tarutung, tempat Aek Sigeaon mengalir di sepanjang lembah. Kegiatan tektonik aktif yang menghancurkan kekuatan batuan juga mempengaruhi kondisi jalan antara Tarutung dan Sipirok. Di Aek Latong, ruas jalan selalu ambles. Selain karena berada pada jalur sesar aktif, ditambah lagi ada pengaruh batu lempung yang mudah hancur dan rawan longsor.
Retakan-retakan yang terbentuk di sepanjang lembah ini juga menjadi jalan bagi keluarnya air panas. Mata air panas Sipoholon dekat Tarutung yang terukur bersuhu 63,8oC menjadi tempat wisata yang ramai. Air panas Sipoholon keluar dari celah-celah batuan dan menembus tuf Toba. Endapan travertin yang terbentuk akibat air panas menerobos tuf Toba menghasilkan endapan dengan pola-pola yang menarik, berupa bentukan stalaktit dan stalagmit, serta teras-teras endapan travertin.

Ke arah tenggara masih dijumpai mata air dengan gelembung-gelembung udara dengan rasa sedikit asam sehingga penduduk menamakannya “air soda” di Parbubu. Suhu air secara umum relatif hangat, yaitu 31,5oC. Tetapi karena suhu udara juga cukup panas (30,7oC), air soda Parbubu terasa dingin ketika disentuh. Makin ke tenggara, di Sipirok, dijumpai pula mata air panas di Aek Milas Sosopan yang dimanfaatkan oleh masjid setempat sebagai air wudlu. Aek Milas dalam bahasa Batak Sipirok memang berarti “air panas.”

Mata air panas di sepanjang Tarutung – Sipirok merupakan mata air panas yang terjadi akibat patahan, sekalipun sumber air panasnya diperkirakan berasal dari sumber-sumber magmatis juga. Hal itu berbeda dengan air panas bersuhu 47,3oC yang terasa ngilu di gigi karena ber-pH sangat asam di Aek Rangat yang terletak di lereng G. Pusukbuhit, dekat Pulau Samosir. Air panas di Aek Rangat sangat jelas berkaitan langsung dengan aktifitas gunung api Pusukbuhit, sama halnya dengan air panas yang juga muncul di Lau Sidebukdebuk, dari lereng G. Sibayak, Tanah Karo

Tanah Batak yang Indah

Pada akhir perjalanan ekspedisi menjelajah Danau Toba dengan sejarah letusannya yang luar biasa serta produk-produk tufnya yang tersebar luas, kesan yang didapat adalah keterpesonaan akan bentang alam yang terbentuk akibat proses-proses alam, proses-proses geologis, tektonik dan volkanik yang berlangsung berribu-ribu tahun. Danau, plateau, gunung, perbukitan, lembah, dan sungai, serta hutan, perkebunan dan masyarakatnya, seluruhnya menyusun alam Sumatera Utara menjadi suatu harmoni alam yang indah. Sangat cocok sekali arti Tapanuli sebagai tapian nauli, daratan yang indah. Jangankan pendatang dari luar yang menjelajah hanya 10 hari di Sumatera Utara, penduduk asli Batak pun masih selalu terkagum-kagum dengan tanah kelahiran mereka.

Bagaimana cintanya orang Batak terhadap tanah kelahirannya, selalu dimisalkan ketika seorang Batak menyanyikan lagu “O Tano Batak” (1933) yang ditulis oleh S. Dis (Siddik Sitompul, 1904 – 1974) dengan sebagian liriknya sebagai berikut:

O Tano Batak halolonganhu…
O Tano Batak sinaeng hutahap,
dapot honon hu, tano hagodangan hi

(Oh Tanah Batak yang selalu kurindukan…Oh Tanah Batak yang selalu kutatap, kuingin selalu pulang kampung ke tanah kelahiran).

Seberapa keras watak orang Batak, matanya akan berkaca-kaca, bahkan mungkin menangis tersedu-sedu, saat menyanyikan lagu tersebut. Apalagi ketika datangnya perasaan rindu kampung halaman saat sedang jauh merantau.
O Tano Batak, aku pun selalu ingin kembali menikmati keindahanmu…

Ditulis oleh : Dr.Ir. Budi Brahmantyo, M.Sc

Penulis sudah almarhum, beliau adalah seorang dosen Geologi di ITB dan salah satu penggalak geowisata Indonesia.

Kemenpar Rilis 100 Calendar of Events 2019

Kemenpar Rilis 100 Calendar of Events 2019

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akhirnya merilis 100 atraksi wisata terbaik yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Semuanya dirangkum dalam 100 Calendar of Events 2019.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan Calendar of Events Wonderful 2019 dibuat atas prakarsa Presiden Joko Widodo. Menurutnya Jokowi ingin Indonesia memiliki event yang berkualitas dan berstandar internasional, sehingga dapat menarik kunjungan wisatawan.

“Ini merupakan rangkuman event terbaik yang dimiliki Indonesia yang terdiri dari 10 Top Event serta 100 Wonderful Event. Karena semua telah menjalani kurasi yang ketat dengan standar event internasional. Sehingga menjadi atraksi yang dapat mengundang wisatawan lebih banyak lagi,” ujar Arief dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/12/2018).

Peluncuran 100 Calendar of Events 2019 dilakukan di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, pada Kamis (20/12/2018) lalu. Ratusan event dari 34 provinsi telah terpilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Event-event ini harus mempunyai Creative Value, Commercial Value, Communication Value, serta CEO Commitment.

Menurut Arief petugas yang mengurusi 100 Calendar of Events 2019 terdiri dari 6 orang terbaik yang berkompeten di bidangnya. Ada Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono yang menilai terkait Media Value event.

Selain itu ada pula Taufik Rahzen Cultural Value, kemudian ada Jacky Mussry Commercial Value, koreografer Denny Malik, langganan juara carnaval Dynand Fariz, dan terakhir Eko “PeCe” Supriyanto yaitu koreografer opening Ceremony Asian Games 2018 di Jakarta yang juga koreografer penyanyi Madonna.

Senada dengan Arief, Ketua Pelaksana Calender of Event 2019 Esthy Reko Astuti menyebut ketentuannya sangat ketat. Event tersebut harus dikenal secara umum dan sudah diselenggarakan secara berkelanjutan (3-4 tahun berturut-turut), serta memiliki sebaran daerah (proporsional).

“Eventnya pun harus memiliki pengaruh langsung kepada sosial ekonomi masyarakat dan dapat meningkatkan media value terhadap image daerah. Dan yang pasti tepat waktu, tidak ada perubahan tanggal pelaksanaan,” ujar Esthy.

Beriku ini event-event yang termasuk ke dalam 100 Calendar of Events 2019.

5-19 Februari – Cap Go Meh, Kalimantan Barat.

14-18 Februari – Festival Pulau Penyengat, Kepulauan Riau

20 Februari – Pesona Bau Nyale, Nusa Tenggara Barat

1-3 Maret – Java Jazz, DKI Jakarta

3-5 Maret – Festival Teluk Jailolo, Maluku Utara

7 Maret – Horas Samosir Fiesta, Sumatera Utara

24-31 Maret – Bali Spirit Festival, Bali

24-31 Maret – Exciting Banten on Seba Baduy, Banten

24 Maret-5 April – Bangka Culture Wave, Kepulauan Bangka Belitung

29-31 Maret – Tour de Bintan, Kepulauan Riau

1-10 April – Festival Teluk Tomini, Sulawesi Tengah

11-14 April – Majapahit Travel Fair, Jawa Timur

15-20 April – Krui World Surfing League, Lampung

20-21 April – Gebyar Pesona Budaya Garut, Jawa Barat

7-9 Mei – Bintan Triathlon, Kepulauan Riau

10-28 Mei – Pesona Khazanah Ramadhan, Nusa Tenggara Barat

18-24 Mei – Festival Budaya Isen Mulang, Kalimantan Tengah

19 Mei – Asia Afrika Festival, Jawa Barat

20-5 Juni – Festival Parade Pesona Kebangsaan, Nusa Tenggara Timur

15-13 Juni- Pesta Kesenian Bali, Bali

16 Juni – Jakarnaval, DKI Jakarta

16-23 Juni – Festival Sriwijaya XXVIII 2019, Sumatera Selatan

17-19 Juni – Yadnya Kasada Bromo, Jawa Timur

28-30 Juni – Festival Bakar Tongkang, Riau

1-6 Juli – Festival Biak Munara Wampasi, Papua

5-8 Juli – Toraja International Festival, Sulawesi Selatan

5-13 Juli – Festival Parade 1001 Kuda Sandelwood dan Tenun Ikat, Nusa Tenggara Timur

17 Juli – Ziarah Kubro, Sumatera Selatan

17 Juli – Festival Babukung, Kalimantan Tengah

18-22 Juli – Festival Bumi Rafflesia, Bengkulu

20 Juli – Mizan Al Sufi, Jawa Barat

20 Juli – Tanah Lot Arts Festival, Bali

25-28 Juli – Toboali City on Fire Sesi 4, Kepulauan Bangka Belitung

25 Juli-25 Agustus – ARTJOG, D.I Yogyakarta

26-28 Juli – Solo Batik Carnival, Jawa Tengah

26-29 Juli – Festival Pesona Bunaken, Sulawesi Utara

27 Juli-3 Agustus – Festival Cisadane, Banten

28 Juli – Banyuwangi Ethno Carnival, Jawa Timur

30 Juli-3 Agustus – Jember Fashion Carnaval (JFC), Jawa Timur

1-6 Agustus – Polewali Mandar International Folk & Art Festival, Sulawesi Barat

2-4 Agustus – Dieng Culture Festival, Jawa Tengah

2-6 Agustus – Buleleng Festival, Bali

3-4 Agustus – Festival Cheng Ho, Jawa Tengah

4-5 Agustus – Festival Morotai, Maluku Utara

4-6 Agustus – Aceh Culinary Festival, Aceh

7-10 Agustus – Festival Budaya Lembah Baliem, Papua

7-12 Agustus – Tomohon International Flower Festival, Sulawesi Utara

8-8 September – Jakarta Food & Fashion Festival, DKI Jakarta

9-11 Agustus – Pasa Harau Art & Culture Festival 2019, Sumatera Barat

11-17 Agustus – Festival Sandeq Race 2019, Sulawesi Barat

18 Agustus – Saman Gayo Alas Festival, Aceh

18 Agustus – Karnaval Kemerdekaan/Grand Karnaval Indonesia, DKI Jakarta

18-20 Agustus – Festival Teluk Ambon, Maluku

21-25 Agustus – Lampung Krakatau Festival, Lampung

21-25 Agustus – Sanur Village Festival, Bali

23-25 Agustus – Festival Budaya Wisata Pasar Terapung, Kalimantan Selatan

1-10 September – Festival Tabut, Bengkulu

4-8 September – F8 Makassar 2019, Sulawesi Selatan

5-7 September – Solo International Performing Art, Jawa Tengah

5-10 September – Festival Bahari Kepri, Kepulauan Riau

6-8 September – Festival Wisata Loksado, Kalimantan Selatan

9-16 September – Festival Payung Indonesia, Jawa Tengah

9-16 September – Festival Moyo, Nusa Tenggara Barat

12-15 September – Festival Pinisi, Sulawesi Selatan

13-15 September – Tour de Linggar Jati, Jawa Barat

15 September – Malang Flower Carnival, Jawa Timur

15 September – Ciletuh Geopark Festival, Jawa Barat

17-21 September – Tour de Siak, Riau

21-22 September – Jogja International Street Performance, D.I. Yogyakarta

21-25 September – Festival Pesona Danau Limboto, Gorontalo

21-29 September – Erau Adat Kutai & 7th International Folk Art Festival, Kalimantan Timur

22-25 September – Festival Batanghari, Jambi

23-26 September – Tour de Ijen, Jawa Timur

27-29 September – Festival Tanjung Lesung, Banten

27-27 Oktober – Wonderful Indonesia Culinary and Shopping Festival, DKI Jakarta

28-29 September – Musik Alam 2019, Kalimantan Utara

1-6 Oktober – Festival Likurai Timor, Nusa Tenggara Timur

6 Oktober – Festival Karnaval Karawo, Gorontalo

6-7 Oktober – Aceh International Diving Festival, Aceh

6-10 Oktober – Festival Pesona Selat Lembeh, Sulawesi Utara

7-11 Oktober – Festival Seni Budaya Papua Barat, Papua Barat

12-17 Oktober – Festival Keraton Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara

15-19 Oktober – Festival Danau Poso, Sulawesi Tengah

18-21 Oktober – Festival Pesona Bahari Raja Ampat, Papua

19-21 Oktober – IronMan 70.3 Bintan , Kepulauan Riau

19-25 Oktober – Jakarta Fashion Week, DKI Jakarta

20 Oktober – Gandrung Sewu, Jawa Timur

23-25 Oktober – Festival Danau Sentarum, Kalimantan Barat

23-27 Oktober – Ubud Writers and Readers Festival, Bali

23-28 Oktober – Festival Takabonerate, Sulawesi Selatan

25-27 Oktober – Pesona Nusa Dua Fiesta 2019, Bali

27 Oktober – Jakarta Marathon, DKI Jakarta

27-29 Oktober – Festival Pulo Dua, Sulawesi Tengah

1-3 November – Festival Mahakam, Kalimantan Timur

2-10 November – Tour de Singkarak, Sumatera Barat

3-7 November – Festival Kerinci 2019, Jambi

10-15 November – Festival Bekudo Bono, Riau

11-13 November – Wakatobi Wave 2019, Sulawesi Tenggara

11-14 November – Pesta Rakyat Banda, Maluku

15-19 November – Festival Tanjung Kelayang, Kepulauan Bangka Belitung

16-17 November – Jogja International Heritage Walk, D.I. Yogyakarta

16-20 November – Festival Ya’ahowu, Sumatera Utara

17 November – Borobudur Marathon, Jawa Tengah

1-31 Desember – Iraw Tengkayu, Kalimantan Utara

4-7 Desember – Festival Pesona Budaya Minangkabau, Sumatera Barat

7-8 Desember – Batam International Culture Carnival, Kepulauan Riau

9-12 Desember – Festival Danau Toba, Sumatera Utara

13-16 Desember – Pemuteran Bay Festival, Bali

28 Desember – Festival Budaya Cirebon, Jawa Barat (prf/fay)

Sumber : https://travel.detik.com

Shuttle Bus Damri Gratis Wisata Danau Toba

Shuttle Bus Damri Gratis Wisata Danau Toba

Selamat Datang Liburan
Selamat Datang ke Danau Toba
Kami siap melayani anda.

Damri dan BPODT menyiapkan 8 Shuttle Bus, melayani wisatawan jalan jalan, only with BOARDING PASS :
1. SILANGIT -HUTAGINJANG
2.SILANGIT – PARAPAT
3. BALIGE TOUR
4. PARAPAT TOUR

Sudah banyak penumpang di SILANGIT yang memanfaatkan SHUTTLE BUS DAMRI.

Contohnya kalau mau traveling ke samosir, bisa naik Bus Damri Silangit-Parapat, free dengan menunjukkan BOARDING PASS. nah berhentinya bisa langsung di pelabuhan kapal TIGARAJA…langsung ke tuktuk deh.

SILANGIT -HUTAGINJANG

This image has an empty alt attribute; its file name is Silangit-hutaginjang.jpg


SILANGIT – PARAPAT

This image has an empty alt attribute; its file name is silangit-parapat.jpg


BALIGE TOUR

This image has an empty alt attribute; its file name is Balige-loop.jpg


PARAPAT TOUR

This image has an empty alt attribute; its file name is parapat-loop.jpg

Kemegahan Danau Raksasa Toba

T Bachtiar

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Berdiri di pinggir Danau Toba, hanya tepian danau terdekatlah yang terlihat. Burung berwarna putih berjajar di tiang penyangga jaringapung di tepian danau, sesekali terbang bila mendengar suara-suara yang mencurigakan. Inilah danau kaldera terbesar di dunia, dengan luas perairan danaunya 1.130 km2, dengan kedalaman maksimal danau 500 m., yang dapat menampung air tawar sebanyak 240 km3. Dari Kota Medan, Sumatera Utara, danau yang berukuran 87 x 294 km ini jaraknya 176 km ke arah selatan. Karena ukurannya yang sangat luas, sehingga untuk mendapatkan gambaran bentuk danau yang utuh, haruslah difoto dari pesawat terbang atau dari satelit.

Secara geografis, kawasan Danau Toba terletak di sisi timur rangkaian Bukit Barisan pada titik koordinat 20 21‘ 32‘‘– 20 56‘ 28‘‘ Lintang Utara dan 980 26‘35‘‘ – 990 15‘40‘‘ Bujur Timur. Permukaan danaunya berada pada ketinggian 903 m.dpl, dan Daerah Tangkapan Air (DTA) sampai di ketinggian 1.981 m.dpl, dan total luas Daerah Tangkapan Air (DTA) danau ini mencapai 4.312 km2.

Perahu-perahu penuh muatan dengan musik dangdut yang dibunyikan keras sekali, tak hentinya hilirmudik mempertalikan warga di tepian Danau Toba
dan Pulau Samosir. Perairan danau menjadi sarana transportasi yang tidak perlu dibeton atau diaspal. Jalur perahu penyeberangan di perairan Danau Toba itu menghubungkan Ajibata ke Tomok, Ajibata ke Pangururan melalui Ambarita, Balige ke Pangururan melalui Nainggolan dan Mogang, Ajibata ke Nainggolan, dan dari Nainggolan ke Muara. Perahu di Danau Toba perannya sangat penting untuk kelancaran pergerakan penduduk dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Penduduk yang bermukim di Kawasan Danau Toba itu tersebar di 443 desa/kelurahan, pada 37 Kecamatan, di 7 Kabupaten, yaitu: Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, dan Dairi.

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Jalan berliku, dengan jurang yang menganga. Punggung bukit meruncing ditutupi rerumputan dengan jajaran pohon yang renggang. Akhirnya sampai di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Di sini sudah ada pelataran untuk melihat airterjun Sipisopiso dari kejauhan. Airterjun yang menghujam setinggi 175 m. itu berada di celah sempit ujung barat laut Danau Toba, layaknya bilah pisau yang tajam mengiris alam. Namun, bagi pengunjung yang menyukai tantangan petualangan, disediakan jalan sedepa yang melipir meniti tebing yang curam. Dinding tegak ini merupakan dinding Kaldera Toba berupa bongkah-bongkah raksasa dari batuan dasar berumur Mesozoikum – Paleozoikum. Kesegaran uap air terjun yang tertiup angin akan didapat pengunjung yang sampai di dasar sungai.

Di ujung barat laut danau, sobekan bumi terlihat nyata, jejak dinamika kulit bumi Sumatera yang tiada henti ditekan dari Samudra Hindia dengan kecepatan 6-7 cm per tahun, telah mendorong sebelah barat pulau ini ke arah barat laut, dan sisi sebelahnya lagi bergerak ke arah tenggara. Ujung robekan di barat laut danau itu merupakan jejak sesar normal, situs bumi yang menyimpan pengetahuan.

Di ujung utara Danau Toba inilah tempat dimulainya tahap awal pembentukan gunung api, yang menurut Craig A. Chesner, Gunung Toba purba ini mulai membangun dirinya sejak 1.200.000 tahun yang lalu. Letusan Toba purba menghembuskan material letusan yang kemudian dinamai Haranggaol Dacite Tuff (HDT).

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Tidak jauh dari gunung api purba ke arah barat laut danau, tak jauh dari titik letusan Gunung Toba Purba, terjadi letusan dahsyat generasi kedua dalam pembentukan Kaldera Toba. Menurut Craig A. Chesner, kaldera ini terbentuk pada 500.000 tahun yang lalu. Letusannya menghembuskan 60 km3 material yang dikenal sebagai Tuf Toba Menengah (MTT, Midle Toba Tuff), yang menghasilkan Kaldera Haranggaol, yang lingkaran kalderanya berbatasan dengan Kota Silalahi di barat dan Kota Haranggaol di timur.

Lereng-lereng terjal memagari danau yang jauh berada di bawahnya. Jalan menyusuri lereng luar kaldera, memotong zona sesar Sumatera menuju Sidikalang, tempat rehat untuk minum kopi, sebelum melaju di jalan yang berada di lembah yang diapit dua dinding yang memanjang barat laut – tenggara dengan ketinggian lebih dari 150 m. Setelah perjalanan sejauh 15 km, jalan berbelok ke arah timur, memotong lagi zona sesar Sumatera menuju Tele.

Dari menara pandang di Tele, Danau Toba terlihat pesonanya, namun tetap belum dapat melihat sebagian besar kaldera ini. Hanya satu sudut yang dapat dinikmati. Agar mendapat gambaran lebih nyata, Kaldera Toba seluas 2.270 km2 itu dapat dibandingkan dengan luas beberapa kota di Indonesia. Luas Kaldera Toba itu hampir sebanding dengan Kota Palangkaraya yang luasnya 2.400 km2, atau 13 kali luas Kota Bandung, 18 kali luas Kota Denpasar, 35 kali luas Kota Gorontalo, 47 kali luas Kota Sukabumi, atau 126 kali luas Kota Magelang.

Jalanan menikung tajam, di sana terdapat kedai kopi, tempat berisitrahat melepas lelah sambil dibuai pesona alam. Dari Tele pada ketinggian 1.800 m.dpl., perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pulau Samosir. Jalannya menurun berkelok-kelok sampai ketinggian 910 m.dpl di tapi danau. Hanya dari sisi barat inilah menuju Pulau Samosir dapat dicapai dengan berjalan kaki. Tinggal menyebrangi jembatan selebar 20 m., akan sampai di Pulau Samosir, pulau dengan bagian terpanjang 60 km. dengan lebar 20 km. Selama di sini pengunjung dapat diantar beca motor (betor), atau menyewa sepeda motor roda dua atau kendaraan roda empat ke berbagai tujuan wisata, seperti ke batu kursi parsidangan di Huta Siallagan dan ke Kompleks Makam Raja Batak di Tomok.

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

Saat beristirahat di Pangururan, tak terbayangkan, 74.000 tahun yang lalu telah terjadi letusan megakolossal yang membentuk kaldera generasi ketiga, yaitu Kaldera Sibandang. Tiang letusannya mencapai ketinggian lebih dari 50 km, abu halus dan aerosolnya mencapai lapisan stratosfer sehingga menghalangi pancaran cahaya matahari ke bumi, yang berdampak besar pada kehidupan karena terjadi perubahan iklim. Abu letusannya tertiup angin menyebar ke separuh bumi, dari daratan Cina sampai ke ke Afrika Selatan. Material letusan supervulkano Toba ini menutupi sebagian besar
Sumatera Utara, dan abunya tersebar menutupi seluruh Asia Selatan setebal 15 cm. Lapisan abunya terendapkan di Samudera Hindia, Laut Arabia, dan Laut Cina Selatan. Menurut Craig A. Chesner, endapan awan panas (ladu) menutup kawasan seluas 20.000 km2. Di beberapa tempat ketebalanya mencapai 400 m., namun, enadapan ladu itu rata-rata setebal 100 m.

Kekuatan letusannya berada diurutan teratas, mencapai 8 VEI (Volcanic Explosivity Index). Letusan ini merupakan letusan terbesar dalam 2 juta tahun terakhir yang terjadi selama seminggu. Batas-batas lingkaran kalderanya mulai dari Pangururan di barat, melingkar ke utara mengikuti ujung utara Pulau Samosir, menerus ke sisi timur dan selatannya sampai batas Blok Uluan, termasuk ke dalamnya Selat Latung. Inilah lingkaran kaldera yang oleh Craig A. Chesner dikategorikan sebagai kaldera hasil letusan Toba generasi ketiga atau terakhir. Letusan pamungkas yang mahadahsyat ini menghembuskan 2.800 km3 material letusan yang dikenal sebagai Tuf Toba Termuda (YTT, Youngest Toba Tuff), membentuk kaldera raksasa 87 x 30 km., yang kemudian terisi air hujan membentuk danau kaldera, danau volkanotektonik terbesar di dunia yang kemudian diberi nama Danau Toba.

Untitled-5

Danau Toba dilihat dari sebuah hotel Foto: Igan S. Sutawijaya.

Sejauh mata memandang, hanya air yang terlihat, sekelilingnya dipagari tebing-tebing tegak, perbukitan, dan pesawahan yang terhampar di bawahnya. Danau raksasa ini mampu menyimpan air tawar sebanyak  240 km3 yang bersumber dari air hujan yang langsung jatuh ke danau dan air yang berasal dari sungai. Sungaisungai yang mengalir dan bermuara ke Danau Toba di antaranya: Sungai Sigubang, Bah Bolon, Sungai Guloan, Arun, Tomok, Sibandang, Halian, Simare, Aek Bolon, Mongu, Mandosi, Gopgopan, Kijang, Sinabung, Ringo, Prembakan, Sipultakhuda, dan Sungai Silang. Keseluruhan sungai yang masuk ke Danau Toba sebanyak 289. Dari Pulau Samosir 112 sungai dan dari Daerah Tangkapan Air lainnya adalah 117 sungai. Dari 289 sungai, 57 di antaranya mengalirkan air secara tetap, dan 222 sungai merupakan sungai musiman. Sehingga Danau Toba dapat penyimpan cadangan air tawar sebagai air baku air minum. Sedangkan outlet Danau Toba hanya satu, yaitu ke Sungai Asahan, yang telah dimanfaatkan menjadi pembangkit energi listrik sebesar 450 Megawatt.

Di tempat-tempat yang lebih datar di pinggiran danau, yang memungkinkan untuk membangun kehidupan, rumah-rumah di sana didirikan, berdekatan dengan sumber air, tak jauh dari aliran sungai. Ada 289 sungai itu bermuara di Danau Toba, ditambah kegiatan di perairan danau, maka semua apa yang dibawa sungaisungai itu, tak terkecuali limbah domestik/limbah rumah tangga, termasuk limbah dari MCK, limbah dari budidaya perikanan berupa sisa pakan, limbah kegiatan pertanian berupa residu pestisida dan pupuk, limbah kegiatan pariwisata dan perdagangan, termasuk di dalamnya limbah dari pasar, hotel, restoran, industri kecil, serta kegiatan transportasi air yang berupa residu minyak dan oli, itu semua menjadi penyebab zat pencemar yang menurunkan kualitas air danau. Limbah itu telah penyumbang nitrogen, fosfor, dan kalium, yang dapat menyuburkan perairan danau, dapat dicirikan dengan meningkatnya jumlah tumbuhan air, seperti ganggang dan encenggondok yang tumbuh subur di perairan dengan pemukiman.

Di setap sudutnya, danau ini menyimpan pesonanya, dan banyak teka-teki sejarah buminya yang masih terkubur, yang belum dapat dijawab secara sempurna. Dengan bentang alam yang menakjubkan, Danau Toba mempunyai harapan yang tinggi sebagai tujuan wisata, apalagi bila dihubungkan dengan sejarah buminya yang mahadahsyat, dengan letusan supervolkano-nya 74.000 tahun yang lalu. Masalahnya selalu berakhir pada manajemen, bagaimana mengelola sumberdaya alam yang mahaindah itu dengan segala informasinya, agar menjadi objek geowisata andalan yang dapat menyejahterakan masyarakatnya. Penataan kawasan adalah kuncinya, sehingga tidak banyak bangunan atau kegiatan yang justru menurunkan kualitas fisik danau dan kenyamanan wisatawan.

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Bentang alam seputar Kaldera Toba yang membentengi danau ini, secara umum didominasi oleh perbukitan dan rangkaian gunung-gunung, dengan kelerengan mulai dari datar sampai curam, bahkan sangat curam dan terjal. Keadaan rona bumi itu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai pesawahan, pemukiman, hutan tanaman, hutan jarang, kebun campuran, dan yang paling menghawatirkan, sisa hutan alam hanya tinggal 13,47%. Sesungguhnya keadaan inilah yang akan sangat berpengruh pada jumlah air danau yang banyak menjadi tumpuan harapan.

Selama mengelilingi pinggiran danau, kerusakan lingkungan di Daerah Tangkapan Air (DTA) sudah terlihat nyata. Luas hutan di DTA Danau Toba pada tahun 1985 mencapai ± 78.558 ha, luasannya terus menurun pada tahun 1997 menjadi ± 62.403 ha. Kerusakan lingkungan itu salah satunya adalah perambahan hutan. Semuanya itu akan berdampak pada penurunan kamampuan lahan meresapkan air hujan. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian akan memperluas lahan terbuka, menyebabkan erosi menjadi tinggi, dan meningkatkan aliran permukaan, sehingga akan mengganggu neraca air danau. Padahal, di perairan itu menyimpan keragaman hayati berupa ikan Batak jenis Lissochilus sumatranus, Labeobarbus soro, dan remis Toba (Corbicula tobae), serta air tawarnya sangat dibutuhkan masyarakat.

Dari pantai barat Pulau Samosir yang landai, dari Pangururan, perjalanan memotong bagian terlebar yang berada tengah pulau. Perjalanan dari ketinggian
906 m.dpl. terus meninggi hingga mencapai daerah di ketinggian 1.600 m.dpl., yang di depannya, sedikit ke sebelah timur, terdapat tebing yang hampir tegak menghadap timur sedalam 200 m., di bawahnya terdapat pelataran selebar 2 km pada ketinggian 1.400 m.dpl.. Rona bumi ini terlihat dengan jelas bila berlayar dari arah Parapat, bagian timur Pulau Samosir itu nampak jelas lebih mencuat ke atas. Pulau Samosir berukuran 60 x 20 km itu telah terangkat setidaknya 1.100 m ke posisi sekarang.

Dalam tulisannya yang terbit pada tahun 1949, van Bemmelen memberikan jawaban atas keadaan rona bumi Pulau Samosir. Diawali dengan pembentukan “Tumor Batak”, lebarnya 150 km dan panjangnya 275 km, membentuk bangun lonjong berarah barat laut-tenggara, lalu terangkat menjadi cikal-bakal terbentuknya “Gunung Toba Purba”. Kubah itu kemudian meletus mahadahsyat, menghembuskan material ke angkasa, menyebabkan
terjadinya kekosongan di dalam tubuh “gunung”, sehingga bagian atas dari tubuhnya tak kuat lagi menahan beban, lalu runtuh. Dua blok raksasa itu melesak ambles lurus ke bawah, membentuk diding yang tegak di sekelilingnya. Air hujan mengisi runtuhan itu membentuk danau kaldera yang amat luas. Proses sedimentasi danau terus berlangsung, sehingga fosil ganggang (diatom) dan fosil daun dapat ditemukan di ketinggian Pulau Samosir, yang terhampar dengan ketebalan puluhan meter. Endapan itu memberikan keyakinan, bahwa daerah yang sekarang bernama Pulau Samosir itu semula merupakan dasar danau kaldera yang kemudian terangkat ke permukaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sekitar 33.000 tahun yang lalu, Pulau Samosir masih di bawah permukaan danau.

Kegiatan magma yang menerebos ke permukaan telah memperkuat tekanan dari dalam, menyebabkan kubah di dasar kaldera terangkat kembali (resurgent doming), yaitu pengangkatan dasar kaldera karena adanya desakan magma. Bagian tengah blok mendapatkan tekanan yang lebih kuat, sehingga sisi timur dari blok barat terangkat lebih tinggi, sehingga Pulau Samosir sisi timur itu rona buminya lebih tinggi yang menurun halus ke bagian
baratnya.

Perjalanan kembali menyusuri lereng dalam kaldera bagian barat yang curam, untuk kembali ke Tele. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan ke arah tenggara. Setelah menempuh perjalanan 8 km, jalan berbelok ke arah barat daya, lalu menyusuri dataran yang memanjang, dibentengi patahan/sesar di sisi baratnya. 31 km dari Tele, akan sampai di jalan sempit yang menurun berkelok, dengan jurang yang dalam. Dari sana lembah
Bakkara terlihat keindahannya. Dari lembah ini pula telah lahir generasi awal Si Singamangaraja.

Dari Bakkara, perjalanan dilanjutkan melewati Balige menuju Porsea di bagian tenggara danau. Perjalanan sejauh 66 km itu dapat ditempuh selama 1,5 jam. Kawasan ini merupakan lingkar luar sisi tenggara dari Kaldera Porsea. Letusan kaldera generasi pertama Toba ini terjadi 840.000 tahun yang lalu, menghembuskan material letusan sebanyak 500 km3, menghasilkan endapan ignimbrit Tuf Toba Tua (OTT, Old Toba Tuff).

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Dari Porsea perjalanan dilanjutkan ke Parapat. Kota Porsea ini berada di Blok timur yang terangkat kembali setelah 33.000 tahun lebih berada di dalam dasar danau. Kawasan ini disebut juga Blok Uluan, namun tidak terangkat setinggi Blok Samosir. Ujung selatannya berada pada ketinggian 1.200 m.dpl. dan di bagian utara, di Kota Parapat, ketinggiannya 1.100 m.dpl., dengan rata-rata permukaan Blok Uluan 1.400 m.dpl.. Tebing sisi barat Blok Uluan ini setinggi 300-360 m. bila diukur dari permukaan air danau samai permukaan daratannya.

Menjelang pagi di bibir pantai Danau Toba, di Kota Parapat, kota terakhir yang kami singgahi setelah mengelilingi seluruh pinggiran danau dan mengeliling Pulau Samosir yang berada di tengahnya. Dalam remang cahaya, terlihat bayangan perahu terus melaju dalam riak yang berkilau, pantulan cahaya dari hotel yang berjajar. Nelayan itu menepikan perahu kecil selebar tubuhnya, lalu menawarkan ikan dan udang hasil tangkapannya. Ikan nila seukuran telapak tangan orang dewasa dan udang sebesar ibujari kaki. Pak Saragih, namanya. Ia terus bercerita tentang keluarganya, tentang anak-anaknya yang dikaruniai kepintaran, selalu mendapat nilai bagus di sekolahnya, yang menurutnya itu karena anak-anaknya selalu sarapan dengan ikan dan udang dari Danau Toba.

Di pinggiran Danau Toba, saya membayangkan letusan mahadahsyat Gunung Toba 74.000 tahu yang lalu, letusan yang menyemburkan abu vulkanik sebanyak 2.800 km3 yang menyebar dalam skala global, sehingga mendinginkan suhu di Bumi (volcanic winter), yang memicu terjadinya kemacetan genetis dalam evolusi manusia. Saat itu tak terbayangkan atmosfer bumi yang diselimuti lapisan kuning beracun, dan sebanyak 2-4 megaton mengendap di Greenland. Menurunnya suhu di bumi itu telah berdampak pada kehancuran hutan, sehingga menyebabkan terjadi badai debu yang dahsyat.

Para peneliti dari berbagai belahan Dunia akhirnya dapat mengisi sebagian besar puzzle dari teka-teki Kaldera Toba. Penelitian yang satu melengkapi hasil penelitian sebelumnya. Namun, penelitian selalu belum berakhir dengan sempurna. Selalu ada hal masih perlu penyempurnaan, dan ini memberikan kesempatan kepada para ilmuwan lain untuk berperan mengisi bilah-bilah puzzle yang belum terisi dengan sempurna. ( T. Bachtiar )

T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia (MGI) dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).