Air Terjun Sampuran Widuri Di Serdang Bedagai

Air Terjun Sampuran Widuri memiliki ketinggain sekitar 35 m.  Selain Sampuran Widuri masih ada dua air terjun lainnya dilokasi tersebut, hanya saja ketinggiannya lebih rendah dari Sampuran Widuri. Jarak antara air terjun saling berdekatan dan jalan menuju ke setiap lokasi sudah tertata dengan rapi.

Lokasi

Dusun III, Desa Dolok Merawan,

Kecamatan Dolok Merawan,

Kabupaten Serdang Bedagai,

Propinsi Sumatera Utara.

 

Aksesbilitas

Lokasinya sekitar satu kilometer dari Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) yang menuju Pematang Siantar. Berjarak 100 km dari Medan atau 48 km dari Sei Rampah atau 20 km Dari Tebing Tinggi atau 25 km dari kota Pematang Siantar.   Jika berangkat dari Medan rute yang diambil adalah melalui Tajung Morawa, Lubukk Pakam, Perbaungan, Tebing Tinggi hingga tiba Pematang Siantar

 

Jika menggunakan kendaraan umum dari Medan naik bus Intra Sejahtera dan turun di Simpang Bajalingge (di Jalur Lintas Sumatera dengan ongkos sekitar 13000 rupiah.  Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju lokasi.  Bagi yang malas berjalan kaki tersedia ojek yang biasanya mangkal di Simpang dengan ongkos Rp 10000 sekali jalan.

 

Selanjutnya untuk mencapai lokasi air terjun ini harus menuruni anak tangga yang berkelok-kelok dengan jumlah mencapai sekitar 135 buah anak tangga.

 

Tiket dan Parkir

Tiket masuk sebesar Rp 2500 per orang sudah termasuk biaya parkir kendaraan.

 

Fasilitas dan Akomodasi

Obyek Wisata ini masih minim fasilitas, seperti tidak adanya sarana pemondokan dan kamar mandi.

Malindo Air Buka Penerbangan Subang-Danau Toba

Malindo Air

Malindo Air akan membuka penerbangan baru dari pusat kota Bandara Subang Skypark Kuala Lumpur ke Bandara Internasional Silangit, Danau Toba, Sumatera Utara, mulai 17 Agustus 2018.

 

Menurut siaran pers Malindo Air di Kuala Lumpur, Rabu (8/8/2018), tarif promosi ditawarkan seharga 189 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp 669.000 sekali jalan.

 

Penerbangan OD 360 dari Subang ke Siborong-Borong, lokasi Bandara Internasional Silangit berada, dijadwalkan berangkat pukul 13.45 waktu setempat.

 

Penerbangan selama satu jam 30 menit akan tiba di Siborong-borong pukul 14.15 sore waktu setempat.

 

Penerbangan OD361 kemudian akan berangkat pada jam 14.50 waktu setempat dan tiba di Subang pada jam 17.15 waktu setempat.

 

Rute ini akan dioperasikan oleh pesawat ATR72-600 yang terdiri dari 72 penumpang. CEO Malindo Air, Chandran Rama Muthy mengatakan pihaknya bangga memperkenalkan kota ketiga penerbangan Malindo ke Indonesia.

 

“Kami sangat gembira untuk memperkenalkan kota ketiga yang kami terbang dari Subang ke Indonesia, setelah Batam dan Pekanbaru.

 

Ini menandai upaya berkelanjutan kami untuk memperluas jaringan rute kami ke Sumatera Utara, sebagai hasil dari kerja sama kami dengan Badan Pariwisata Indonesia untuk mempromosikan tujuan ekowisata,” katanya.

 

Keberangkatan dari Subang Skypark langsung ke kota dimana Danau Toba berada, menurut Chandran Rama Muthy, adalah keuntungan utama di mana penumpang akan menikmati kemudahan akses menuju ikon wisata di Sumut.

 

“Pemberian bagasi gratis 15 kg akan menambah nilai lebih bagi wisatawan dalam hal efektivitas biaya,” tambahnya. (*)

 

 

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Malindo Air Buka Penerbangan Subang-Danau Toba”

 

Editor : I Made Asdhiana

Ketika Bumi Berkisah Si Tao Toba dan Si Bukitbarisan

Ketika Bumi Berkisah Si Tao Toba dan Si Bukitbarisan
oleh : Dr.Ir. Budi Brahmantyo, M.Sc

“Dasar kau si anak ikan!”

Tiba-tiba Bumi berguncang keras. Gempa bumi besar mengguncang tanah pegunungan itu. Tanah retak merekah memanjang. Segera air menyembur keluar tiada henti-hentinya dari rekahan-rekahan tanah dan batuan. Di atas, mendung gelap menggantung berat di langit pekat. Petir menyambar bumi dengan suaranya yang menggetarkan hati. Hujan pun turun dengan deras terus-menerus. Si Toba baru tersadar, umpatan kepada anaknya Samosir telah membuka rahasia yang seharusnya dijaga ketat tentang asal-usul isterinya yang tadinya ikan besar cantik yang dulu didapatnya.

Penyesalan datang kemudian. Air segera menggenangi lembah tempat si Toba berada dan menenggelamkannya. Begitulah balasan atas ketidaksabaran mengurus anak mereka Samosir yang memang nakal dan rakus makan. Samosir, atas perintah ibunya yang kembali berubah menjadi ikan, berhasil selamat mendaki bukit. Lembah yang tergenang luas itu kemudian berubah menjadi danau, Tao Toba. Bukit tempat Samosir menyelamatkan diri menjadi Pulau Samosir.

Demikianlah legenda Danau Toba yang dikenal pada cerita anak-anak Nusantara. Moral cerita mengingatkan kita untuk selalu sabar mengurus anak dan menjaga kehormatan rumah tangga. Tetapi di balik itu tersirat peristiwa alam yang luar biasa tentang pembentukan Danau Toba. Secara geologis sudah dikenal luas bagaimana danau terluas di Indonesia ini terbentuk melalui peristiwa paroksismalis antara aktifitas pergerakan lempeng tektonik dan letusan-letusan volkanik.

Supervolcano Toba

Jauh dari Toba, di lapisan es yang dingin membeku di Greenland dekat Kutub Utara, pada awal dekade 1970 para ahli geologi glasial dan paleoklimatologi terheran-heran mendapati inti pengeboran es mengandung anomali endapan sulfat yang pasti berkaitan dengan endapan abu gunung api. Ribuan gunung api tersebar di atas Bumi, gunung api manakah yang endapan abunya tersebar hingga Kutub Utara? Hasil penelitian menemukan data yang mencengangkan. Clive Oppenheimer pada 2002 menyatakan anomali tersebut berhubungan dengan abu gunung api yang diendapkan oleh suatu kejadian letusan volkanik 74.000 tahun yang lalu. Endapan dengan umur sama yang lebih tebal dijumpai dari hasil pengeboran dasar laut di Samudera Hindia dan Laut Arab selama akhir 1980-an dan awal 1990-an. Semuanya ternyata berumur setara dengan endapan berwarna putih yang tersebar luas di dataran-dataran tinggi sekeliling Danau Toba. Itulah yang dikenal sebagai tuf Toba (Toba tuffs).

Di jaman prasejarah, 74.000 tahun yang lalu, diperkirakan suatu rangkaian letusan gunung api yang dahsyat telah terjadi di sepanjang retakan pada batas-batas timur laut dan barat daya Danau Toba. R.W. van Bemmelen, seorang ahli geologi Belanda – yang bukunya “The Geology of Indonesia, 1949” selalu menjadi rujukan geologi Indonesia – pada 1929 dan 1939 mengemukakan hipotesis terbentuknya Danau Toba. Menurutnya, suatu pembumbungan bagian tengah Sumatera Utara yang dikenal sebagai “tumor Batak” menjadi cikal bakal terbentuknya Danau Toba. Tumor itu meletus luar biasa dahsyat, gabungan antara proses-proses volkanik dan tektonik, menyebabkan amblesnya bagian tengah tumor tersebut membentuk cekungan memanjang barat laut – tenggara, serarah memanjang Pulau Sumatera, dan juga searah dengan Sesar Besar Sumatera dan Pegunungan Bukitbarisan. Proses itu juga menyebabkan “terungkitnya” sebagian dari amblesan, terangkat naik dengan posisi miring ke arah barat daya, membentuk Pulau Samosir.

Pendapat Bemmelen yang telah bertahan begitu lama sejak 1929 itu akhirnya terbantahkan oleh penelitian geomorfologi yang dikerjakan oleh Verstappen selama 1961 – 1973. Ia mendapati adanya teras-teras struktural di ngarai-ngarai terjal Sei Asahan di Siguragura yang di atasnya terendapkan tuf Toba. Hal itu menunjukkan bahwa Sei Asahan telah terbentuk jauh sebelum letusan dahsyat Toba menurut Bemmelen pada 1929. Artinya, ada kemungkinan cekungan Toba telah ada sebelum letusan supervolcano, atau apa yang dikenalkan oleh Bemmelen sebagai letusan volkano-tektonik. Letusan-letusan besar itu terjadi pada gunung-gunung api yang kemungkinan terjadi pada retakan-retakan dan sesar-sesar yang mengapit gawir-gawir terjal lembah Danau Toba.

Letusan-letusan besar paroksismal menyemburkan abu-abunya hingga ke lapisan-lapisan stratosfer dan disebarkan ke seluruh permukaan Bumi. Endapan tebal tentu saja jatuh di sekitar pusat letusan di sekitar Danau Toba, menghasilkan tuf Toba, batuan berwarna putih dengan butiran-butiran gelas volkanik, fragmen kuarsa, dan matriks gelas berukuran lempung. Kejadian itu tidak berlangsung dalam satu kali saja. Hasil penelitian stratigrafi lapisan tuf Toba dan pengukuran umur absolutnya, menunjukkan adanya lapisan-lapisan tuf hasil letusan sekitar 74.000, 450.000, 840.000, dan 1,2 juta tahun yang lalu, menghasilkan perulangan 375.000 tahun dengan deviasi standar 15.000 tahun (Chesner et al. 1991 dan Dehn et al. 1991, dalam Rampino & Self, 1993).

Rampino dan Self (1993) mencurigai bahwa letusan supervolcano Toba telah menghasilkan letusan abu gunung api sebesar 2.800 km3 setinggi 40 km ke angkasa yang kemudian dapat menyebabkan pendinginan permukaan Bumi secara tiba-tiba. Rampino dan peneliti lainnya menyebut gejala pendinginan global itu sebagai “volcanic winter”. Suhu Bumi rata-rata turun 3 – 5oC. Besar kemungkinan letusan 74.000 tahun yang lalu mempengaruhi penghuni Bumi dan manusia saat itu. Secara global diketahui adanya gejala populasi leher botol berkaitan dengan menurun secara drastisnya populasi manusia bertepatan pada waktu 74.000 tahun yang lalu. Di Nusantara, dengan bukti-bukti fosil yang ditemukan di Pulau Jawa, Homo erectus, dan jenis manusia yang lebih modern seperti Manusia Wajak, besar kemungkinan merasakan pengaruh besar letusan dahsyat Toba. Memang, belum ada bukti kuat fenomena Toba menyebabkan kepunahan spesies manusia, tetapi pengaruh perubahan iklim dipastikan mengubah pola kehidupan mereka.

Contoh terdekat perubahan iklim global akibat letusan gunung api adalah setelah letusan Krakatau 1883, dan terutama letusan Tambora pada April 1815 yang 10 kali lebih dahsyat daripada Krakatau 1883. Letusan itu telah menyebabkan suatu fenomena aneh yaitu turunnya salju di bulan Juli di Eropa, sehingga tahun 1815 dijuluki “the year without summer.” Tahun-tahun setelah itu menyebabkan kegagalan panen di seluruh dunia akibat kekacauan iklim global.

Awal 2005, suatu pendapat yang akhirnya diakui salah kutip oleh peneliti dari Monash University Australia, Raymond Cas, menyatakan adanya massa magma raksasa di bawah Danau Toba yang siap meletus sebagai supervolcano. Pendapat yang membuat panik ini segera dibantah banyak ahli. Sekalipun massa magma itu memang ada, tetapi letusan dahsyat tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Tentu saja kita tidak berharap adanya letusan paroksismal dari supervolcano Toba, sekalipun fenomena itu dapat menghentikan gejala pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini.

Dalam Ekspedisi Geografi Indonesia VI 2009 di Provinsi Sumatera Utara, tuf Toba teramati ketika sebagian tim memasuki suatu kawasan eksklusif di tepi Danau Toba di Merek yang bernama Taman Simalem Resort. Tempat tersebut berdisain mewah dan apik, dengan suatu plaza persis menghadap ke arah indahnya Danau Toba bagian barat laut. Tempat yang tadinya berstatus hutan lindung itu telah disulap menjadi kawasan wisata mahal, termasuk pembangunan vihara yang sedang dalam tahap penyelesaian.

Lereng-lereng terjadi pada plateau Toba di Merek dipotong dan ditimbun (cut and fill) menjadi pola jalan berliku-liku menghasilkan pemandangan yang eksotis. Vihara ditempatkan di salah satu ujung tanjung dan diapit oleh lereng-lereng terjal. Di sinilah persoalan akan muncul. Lereng-lereng terjal yang didominasi oleh tuf Toba bersifat gembur dan berpasir, serta mudah mengalami denudasi. Gejala-gejala erosi dan longsoran sudah mulai terlihat. Pengembang kelihatan mengerti benar permasalahan yang akan dihadapi. Beberapa dinding penahan dan bronjong batu telah dibangun untuk menahan ketidakstabilan lereng-lerengnya. Pemeliharaan yang nantinya terus-menerus harus terkontrol sehingga akan sangat mahal.

Lain lagi singkapan tuf Toba pada jalan ke arah Sidikalang, melalui Sumbul. Sumbul terletak persis pada garis morfologi memanjang barat laut – tenggara sebagai ekspresi Sesar Besar Sumatera. Garis ini ditempati oleh aliran Lau Renun yang menoreh tajam lembah sungainya. Di lereng Lau Renun yang terjal, tuf Toba yang keras digali sebagai batu bahan fondasi. Sementara itu pada arah yang jauh berseberangan di Doloksanggul – Onanganjang, sebagian besar batuan tuf telah mengalami alterasi. Tanah berwarna kuning, jingga, dan merah menghiasi pinggir-pinggir jalan akibat pengaruh larutan sisa magma pada proses lanjut.

Di Pulau Samosir, tuf Toba yang keras menjadi artefak-artefak peninggalan kerajaan-kerajaan kuno Batak berupa kursi-kursi dan meja altar tempat penyiksaan musuh yang tertawan. Batu-batu kursi tersebut sangat terkenal sebagai objek wisata di Siallagan, Kecamatan Simanindo. Batu tuf keras juga menjadi sarkofagus, tempat menyimpan mayat raja-raja Sidabutar di Tomok, atau patung-patung berhala. Tuf Toba yang saat diletuskan menghancurkan ekosistem sekitarnya, jauh setelah itu ternyata ikut berperan di dalam perkembangan kebudayaan kerajaan-kerajaan Batak tua di sekitar Danau Toba dan Samosir.

Tingkat kekerasan tinggi batuan tuf Toba tidak hanya dijumpai di lereng Lau Renun, Sidikalang, Kabupaten Dairi, atau di Pulau Samosir, tetapi juga tercermin dari air terjun sangat tinggi dan vertikal Sipisopiso di Merek. Apalagi di sepanjang lereng-lereng sangat terjal di ngarai Sei Asahan antara Siguragura dan Tangga, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, batuan tuf Toba selintas tampak seperti granit yang perlu beberapa kali pukulan kuat dengan palu geologi untuk memecahkannya.

Sei Asahan sebagai sungai drainase dan tempat keluarnya air Danau Toba yang maksimum berpermukaan 905 m dpl, menggerus secara vertikal dan dalam batuan tuf Toba mengikuti pola-pola retakan tektonik. Anak-anak sungainya masuk ke lembah Asahan sebagai air terjun yang tinggi, menguraikan airnya menjadi embun ketika jatuh menuruni dinding ngarai yang tegak. Aliran Sei Asahan mengarah ke timur laut untuk kemudian berubah menjadi sungai besar di Perhitian, Halado, setelah seluruh airnya keluar dari terowongan PLTA Tangga. Akhirnya sungai ini mengalir bermeander di dataran pantai timur Sumatera Utara, untuk kemudian bermuara sebagai sungai distributary yang berliku-liku pada lingkungan delta di Teluk Nibung, Tanjungbalai. Tempat ini merupakan pelabuhan ramai yang menjadi pintu perairan Selat Malaka bagi kapal-kapal menuju Selangor, Malaysia.

Empat lembar peta geologi di sekitar Danau Toba memetakan dengan jelas sebaran tuf Toba ini (Aldiss dkk. 1983, Aspden dkk. 2007, Cameron dkk. 1982, dan Clarke dkk. 1982). Tuf Toba tersebar jauh ke arah utara, dan dijumpai hingga Pematangsiantar, bahkan mencapai Tebingtinggi. Tidak perlu heran. Jika di tengah-tengah Samudera Hindia saja didapati endapan tuf Toba, jarak ke Tebingtinggi hanyalah jangkauan tidak seberapa bagi suatu letusan super-dahsyat. Ke arah selatan, tuf mengendap mengisi perbukitan dan lembah sepanjang Pegunungan Bukitbarisan sejak Sidikalang di barat laut hingga Tarutung dan Sipirok di tenggara dan selatan.

Tarutung adalah kota kecil yang sangat dikenal oleh para peneliti ilmu kebumian, khususnya yang berkecimpung dalam bidang bencana gempa bumi. Tempat yang dalam bahasa Batak berarti “durian” ini pernah diguncang gempa bumi merusak 6,6 skala Richter pada 27 April 1987. Memang jalur di Bukitbarisan itu adalah jalur retakan dan patahan aktif sepanjang Pulau Sumatera, mulai dari Teluk Semangko di Lampung, menerus ke utara melalui Bengkulu, Kerinci di Jambi, Danau Singkarak dan Padangpanjang di Sumatera Barat, Tarutung – Sidikalang di Sumatera Utara, hingga Bandaaceh.

Ciri morfologi lembah dan perbukitan memanjang sebagai hasil kegiatan tektonik aktif, tampak jelas di Tarutung, tempat Aek Sigeaon mengalir di sepanjang lembah. Kegiatan tektonik aktif yang menghancurkan kekuatan batuan juga mempengaruhi kondisi jalan antara Tarutung dan Sipirok. Di Aek Latong, ruas jalan selalu ambles. Selain karena berada pada jalur sesar aktif, ditambah lagi ada pengaruh batu lempung yang mudah hancur dan rawan longsor.
Retakan-retakan yang terbentuk di sepanjang lembah ini juga menjadi jalan bagi keluarnya air panas. Mata air panas Sipoholon dekat Tarutung yang terukur bersuhu 63,8oC menjadi tempat wisata yang ramai. Air panas Sipoholon keluar dari celah-celah batuan dan menembus tuf Toba. Endapan travertin yang terbentuk akibat air panas menerobos tuf Toba menghasilkan endapan dengan pola-pola yang menarik, berupa bentukan stalaktit dan stalagmit, serta teras-teras endapan travertin.

Ke arah tenggara masih dijumpai mata air dengan gelembung-gelembung udara dengan rasa sedikit asam sehingga penduduk menamakannya “air soda” di Parbubu. Suhu air secara umum relatif hangat, yaitu 31,5oC. Tetapi karena suhu udara juga cukup panas (30,7oC), air soda Parbubu terasa dingin ketika disentuh. Makin ke tenggara, di Sipirok, dijumpai pula mata air panas di Aek Milas Sosopan yang dimanfaatkan oleh masjid setempat sebagai air wudlu. Aek Milas dalam bahasa Batak Sipirok memang berarti “air panas.”

Mata air panas di sepanjang Tarutung – Sipirok merupakan mata air panas yang terjadi akibat patahan, sekalipun sumber air panasnya diperkirakan berasal dari sumber-sumber magmatis juga. Hal itu berbeda dengan air panas bersuhu 47,3oC yang terasa ngilu di gigi karena ber-pH sangat asam di Aek Rangat yang terletak di lereng G. Pusukbuhit, dekat Pulau Samosir. Air panas di Aek Rangat sangat jelas berkaitan langsung dengan aktifitas gunung api Pusukbuhit, sama halnya dengan air panas yang juga muncul di Lau Sidebukdebuk, dari lereng G. Sibayak, Tanah Karo

Tanah Batak yang Indah

Pada akhir perjalanan ekspedisi menjelajah Danau Toba dengan sejarah letusannya yang luar biasa serta produk-produk tufnya yang tersebar luas, kesan yang didapat adalah keterpesonaan akan bentang alam yang terbentuk akibat proses-proses alam, proses-proses geologis, tektonik dan volkanik yang berlangsung berribu-ribu tahun. Danau, plateau, gunung, perbukitan, lembah, dan sungai, serta hutan, perkebunan dan masyarakatnya, seluruhnya menyusun alam Sumatera Utara menjadi suatu harmoni alam yang indah. Sangat cocok sekali arti Tapanuli sebagai tapian nauli, daratan yang indah. Jangankan pendatang dari luar yang menjelajah hanya 10 hari di Sumatera Utara, penduduk asli Batak pun masih selalu terkagum-kagum dengan tanah kelahiran mereka.

Bagaimana cintanya orang Batak terhadap tanah kelahirannya, selalu dimisalkan ketika seorang Batak menyanyikan lagu “O Tano Batak” (1933) yang ditulis oleh S. Dis (Siddik Sitompul, 1904 – 1974) dengan sebagian liriknya sebagai berikut:

O Tano Batak halolonganhu…
O Tano Batak sinaeng hutahap,
dapot honon hu, tano hagodangan hi

(Oh Tanah Batak yang selalu kurindukan…Oh Tanah Batak yang selalu kutatap, kuingin selalu pulang kampung ke tanah kelahiran).

Seberapa keras watak orang Batak, matanya akan berkaca-kaca, bahkan mungkin menangis tersedu-sedu, saat menyanyikan lagu tersebut. Apalagi ketika datangnya perasaan rindu kampung halaman saat sedang jauh merantau.
O Tano Batak, aku pun selalu ingin kembali menikmati keindahanmu…

Ditulis oleh : Dr.Ir. Budi Brahmantyo, M.Sc

Penulis sudah almarhum, beliau adalah seorang dosen Geologi di ITB dan salah satu penggalak geowisata Indonesia.

Shuttle Bus Damri Gratis Wisata Danau Toba

Shuttle Bus Damri Gratis Wisata Danau Toba

Selamat Datang Liburan
Selamat Datang ke Danau Toba
Kami siap melayani anda.

Damri dan BPODT menyiapkan 8 Shuttle Bus, melayani wisatawan jalan jalan, only with BOARDING PASS :
1. SILANGIT -HUTAGINJANG
2.SILANGIT – PARAPAT
3. BALIGE TOUR
4. PARAPAT TOUR

Sudah banyak penumpang di SILANGIT yang memanfaatkan SHUTTLE BUS DAMRI.

Contohnya kalau mau traveling ke samosir, bisa naik Bus Damri Silangit-Parapat, free dengan menunjukkan BOARDING PASS. nah berhentinya bisa langsung di pelabuhan kapal TIGARAJA…langsung ke tuktuk deh.

SILANGIT -HUTAGINJANG

This image has an empty alt attribute; its file name is Silangit-hutaginjang.jpg


SILANGIT – PARAPAT

This image has an empty alt attribute; its file name is silangit-parapat.jpg


BALIGE TOUR

This image has an empty alt attribute; its file name is Balige-loop.jpg


PARAPAT TOUR

This image has an empty alt attribute; its file name is parapat-loop.jpg

Kemegahan Danau Raksasa Toba

T Bachtiar

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Berdiri di pinggir Danau Toba, hanya tepian danau terdekatlah yang terlihat. Burung berwarna putih berjajar di tiang penyangga jaringapung di tepian danau, sesekali terbang bila mendengar suara-suara yang mencurigakan. Inilah danau kaldera terbesar di dunia, dengan luas perairan danaunya 1.130 km2, dengan kedalaman maksimal danau 500 m., yang dapat menampung air tawar sebanyak 240 km3. Dari Kota Medan, Sumatera Utara, danau yang berukuran 87 x 294 km ini jaraknya 176 km ke arah selatan. Karena ukurannya yang sangat luas, sehingga untuk mendapatkan gambaran bentuk danau yang utuh, haruslah difoto dari pesawat terbang atau dari satelit.

Secara geografis, kawasan Danau Toba terletak di sisi timur rangkaian Bukit Barisan pada titik koordinat 20 21‘ 32‘‘– 20 56‘ 28‘‘ Lintang Utara dan 980 26‘35‘‘ – 990 15‘40‘‘ Bujur Timur. Permukaan danaunya berada pada ketinggian 903 m.dpl, dan Daerah Tangkapan Air (DTA) sampai di ketinggian 1.981 m.dpl, dan total luas Daerah Tangkapan Air (DTA) danau ini mencapai 4.312 km2.

Perahu-perahu penuh muatan dengan musik dangdut yang dibunyikan keras sekali, tak hentinya hilirmudik mempertalikan warga di tepian Danau Toba
dan Pulau Samosir. Perairan danau menjadi sarana transportasi yang tidak perlu dibeton atau diaspal. Jalur perahu penyeberangan di perairan Danau Toba itu menghubungkan Ajibata ke Tomok, Ajibata ke Pangururan melalui Ambarita, Balige ke Pangururan melalui Nainggolan dan Mogang, Ajibata ke Nainggolan, dan dari Nainggolan ke Muara. Perahu di Danau Toba perannya sangat penting untuk kelancaran pergerakan penduduk dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Penduduk yang bermukim di Kawasan Danau Toba itu tersebar di 443 desa/kelurahan, pada 37 Kecamatan, di 7 Kabupaten, yaitu: Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, dan Dairi.

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Jalan berliku, dengan jurang yang menganga. Punggung bukit meruncing ditutupi rerumputan dengan jajaran pohon yang renggang. Akhirnya sampai di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Di sini sudah ada pelataran untuk melihat airterjun Sipisopiso dari kejauhan. Airterjun yang menghujam setinggi 175 m. itu berada di celah sempit ujung barat laut Danau Toba, layaknya bilah pisau yang tajam mengiris alam. Namun, bagi pengunjung yang menyukai tantangan petualangan, disediakan jalan sedepa yang melipir meniti tebing yang curam. Dinding tegak ini merupakan dinding Kaldera Toba berupa bongkah-bongkah raksasa dari batuan dasar berumur Mesozoikum – Paleozoikum. Kesegaran uap air terjun yang tertiup angin akan didapat pengunjung yang sampai di dasar sungai.

Di ujung barat laut danau, sobekan bumi terlihat nyata, jejak dinamika kulit bumi Sumatera yang tiada henti ditekan dari Samudra Hindia dengan kecepatan 6-7 cm per tahun, telah mendorong sebelah barat pulau ini ke arah barat laut, dan sisi sebelahnya lagi bergerak ke arah tenggara. Ujung robekan di barat laut danau itu merupakan jejak sesar normal, situs bumi yang menyimpan pengetahuan.

Di ujung utara Danau Toba inilah tempat dimulainya tahap awal pembentukan gunung api, yang menurut Craig A. Chesner, Gunung Toba purba ini mulai membangun dirinya sejak 1.200.000 tahun yang lalu. Letusan Toba purba menghembuskan material letusan yang kemudian dinamai Haranggaol Dacite Tuff (HDT).

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Tidak jauh dari gunung api purba ke arah barat laut danau, tak jauh dari titik letusan Gunung Toba Purba, terjadi letusan dahsyat generasi kedua dalam pembentukan Kaldera Toba. Menurut Craig A. Chesner, kaldera ini terbentuk pada 500.000 tahun yang lalu. Letusannya menghembuskan 60 km3 material yang dikenal sebagai Tuf Toba Menengah (MTT, Midle Toba Tuff), yang menghasilkan Kaldera Haranggaol, yang lingkaran kalderanya berbatasan dengan Kota Silalahi di barat dan Kota Haranggaol di timur.

Lereng-lereng terjal memagari danau yang jauh berada di bawahnya. Jalan menyusuri lereng luar kaldera, memotong zona sesar Sumatera menuju Sidikalang, tempat rehat untuk minum kopi, sebelum melaju di jalan yang berada di lembah yang diapit dua dinding yang memanjang barat laut – tenggara dengan ketinggian lebih dari 150 m. Setelah perjalanan sejauh 15 km, jalan berbelok ke arah timur, memotong lagi zona sesar Sumatera menuju Tele.

Dari menara pandang di Tele, Danau Toba terlihat pesonanya, namun tetap belum dapat melihat sebagian besar kaldera ini. Hanya satu sudut yang dapat dinikmati. Agar mendapat gambaran lebih nyata, Kaldera Toba seluas 2.270 km2 itu dapat dibandingkan dengan luas beberapa kota di Indonesia. Luas Kaldera Toba itu hampir sebanding dengan Kota Palangkaraya yang luasnya 2.400 km2, atau 13 kali luas Kota Bandung, 18 kali luas Kota Denpasar, 35 kali luas Kota Gorontalo, 47 kali luas Kota Sukabumi, atau 126 kali luas Kota Magelang.

Jalanan menikung tajam, di sana terdapat kedai kopi, tempat berisitrahat melepas lelah sambil dibuai pesona alam. Dari Tele pada ketinggian 1.800 m.dpl., perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pulau Samosir. Jalannya menurun berkelok-kelok sampai ketinggian 910 m.dpl di tapi danau. Hanya dari sisi barat inilah menuju Pulau Samosir dapat dicapai dengan berjalan kaki. Tinggal menyebrangi jembatan selebar 20 m., akan sampai di Pulau Samosir, pulau dengan bagian terpanjang 60 km. dengan lebar 20 km. Selama di sini pengunjung dapat diantar beca motor (betor), atau menyewa sepeda motor roda dua atau kendaraan roda empat ke berbagai tujuan wisata, seperti ke batu kursi parsidangan di Huta Siallagan dan ke Kompleks Makam Raja Batak di Tomok.

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

Saat beristirahat di Pangururan, tak terbayangkan, 74.000 tahun yang lalu telah terjadi letusan megakolossal yang membentuk kaldera generasi ketiga, yaitu Kaldera Sibandang. Tiang letusannya mencapai ketinggian lebih dari 50 km, abu halus dan aerosolnya mencapai lapisan stratosfer sehingga menghalangi pancaran cahaya matahari ke bumi, yang berdampak besar pada kehidupan karena terjadi perubahan iklim. Abu letusannya tertiup angin menyebar ke separuh bumi, dari daratan Cina sampai ke ke Afrika Selatan. Material letusan supervulkano Toba ini menutupi sebagian besar
Sumatera Utara, dan abunya tersebar menutupi seluruh Asia Selatan setebal 15 cm. Lapisan abunya terendapkan di Samudera Hindia, Laut Arabia, dan Laut Cina Selatan. Menurut Craig A. Chesner, endapan awan panas (ladu) menutup kawasan seluas 20.000 km2. Di beberapa tempat ketebalanya mencapai 400 m., namun, enadapan ladu itu rata-rata setebal 100 m.

Kekuatan letusannya berada diurutan teratas, mencapai 8 VEI (Volcanic Explosivity Index). Letusan ini merupakan letusan terbesar dalam 2 juta tahun terakhir yang terjadi selama seminggu. Batas-batas lingkaran kalderanya mulai dari Pangururan di barat, melingkar ke utara mengikuti ujung utara Pulau Samosir, menerus ke sisi timur dan selatannya sampai batas Blok Uluan, termasuk ke dalamnya Selat Latung. Inilah lingkaran kaldera yang oleh Craig A. Chesner dikategorikan sebagai kaldera hasil letusan Toba generasi ketiga atau terakhir. Letusan pamungkas yang mahadahsyat ini menghembuskan 2.800 km3 material letusan yang dikenal sebagai Tuf Toba Termuda (YTT, Youngest Toba Tuff), membentuk kaldera raksasa 87 x 30 km., yang kemudian terisi air hujan membentuk danau kaldera, danau volkanotektonik terbesar di dunia yang kemudian diberi nama Danau Toba.

Untitled-5

Danau Toba dilihat dari sebuah hotel Foto: Igan S. Sutawijaya.

Sejauh mata memandang, hanya air yang terlihat, sekelilingnya dipagari tebing-tebing tegak, perbukitan, dan pesawahan yang terhampar di bawahnya. Danau raksasa ini mampu menyimpan air tawar sebanyak  240 km3 yang bersumber dari air hujan yang langsung jatuh ke danau dan air yang berasal dari sungai. Sungaisungai yang mengalir dan bermuara ke Danau Toba di antaranya: Sungai Sigubang, Bah Bolon, Sungai Guloan, Arun, Tomok, Sibandang, Halian, Simare, Aek Bolon, Mongu, Mandosi, Gopgopan, Kijang, Sinabung, Ringo, Prembakan, Sipultakhuda, dan Sungai Silang. Keseluruhan sungai yang masuk ke Danau Toba sebanyak 289. Dari Pulau Samosir 112 sungai dan dari Daerah Tangkapan Air lainnya adalah 117 sungai. Dari 289 sungai, 57 di antaranya mengalirkan air secara tetap, dan 222 sungai merupakan sungai musiman. Sehingga Danau Toba dapat penyimpan cadangan air tawar sebagai air baku air minum. Sedangkan outlet Danau Toba hanya satu, yaitu ke Sungai Asahan, yang telah dimanfaatkan menjadi pembangkit energi listrik sebesar 450 Megawatt.

Di tempat-tempat yang lebih datar di pinggiran danau, yang memungkinkan untuk membangun kehidupan, rumah-rumah di sana didirikan, berdekatan dengan sumber air, tak jauh dari aliran sungai. Ada 289 sungai itu bermuara di Danau Toba, ditambah kegiatan di perairan danau, maka semua apa yang dibawa sungaisungai itu, tak terkecuali limbah domestik/limbah rumah tangga, termasuk limbah dari MCK, limbah dari budidaya perikanan berupa sisa pakan, limbah kegiatan pertanian berupa residu pestisida dan pupuk, limbah kegiatan pariwisata dan perdagangan, termasuk di dalamnya limbah dari pasar, hotel, restoran, industri kecil, serta kegiatan transportasi air yang berupa residu minyak dan oli, itu semua menjadi penyebab zat pencemar yang menurunkan kualitas air danau. Limbah itu telah penyumbang nitrogen, fosfor, dan kalium, yang dapat menyuburkan perairan danau, dapat dicirikan dengan meningkatnya jumlah tumbuhan air, seperti ganggang dan encenggondok yang tumbuh subur di perairan dengan pemukiman.

Di setap sudutnya, danau ini menyimpan pesonanya, dan banyak teka-teki sejarah buminya yang masih terkubur, yang belum dapat dijawab secara sempurna. Dengan bentang alam yang menakjubkan, Danau Toba mempunyai harapan yang tinggi sebagai tujuan wisata, apalagi bila dihubungkan dengan sejarah buminya yang mahadahsyat, dengan letusan supervolkano-nya 74.000 tahun yang lalu. Masalahnya selalu berakhir pada manajemen, bagaimana mengelola sumberdaya alam yang mahaindah itu dengan segala informasinya, agar menjadi objek geowisata andalan yang dapat menyejahterakan masyarakatnya. Penataan kawasan adalah kuncinya, sehingga tidak banyak bangunan atau kegiatan yang justru menurunkan kualitas fisik danau dan kenyamanan wisatawan.

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Bentang alam seputar Kaldera Toba yang membentengi danau ini, secara umum didominasi oleh perbukitan dan rangkaian gunung-gunung, dengan kelerengan mulai dari datar sampai curam, bahkan sangat curam dan terjal. Keadaan rona bumi itu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai pesawahan, pemukiman, hutan tanaman, hutan jarang, kebun campuran, dan yang paling menghawatirkan, sisa hutan alam hanya tinggal 13,47%. Sesungguhnya keadaan inilah yang akan sangat berpengruh pada jumlah air danau yang banyak menjadi tumpuan harapan.

Selama mengelilingi pinggiran danau, kerusakan lingkungan di Daerah Tangkapan Air (DTA) sudah terlihat nyata. Luas hutan di DTA Danau Toba pada tahun 1985 mencapai ± 78.558 ha, luasannya terus menurun pada tahun 1997 menjadi ± 62.403 ha. Kerusakan lingkungan itu salah satunya adalah perambahan hutan. Semuanya itu akan berdampak pada penurunan kamampuan lahan meresapkan air hujan. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian akan memperluas lahan terbuka, menyebabkan erosi menjadi tinggi, dan meningkatkan aliran permukaan, sehingga akan mengganggu neraca air danau. Padahal, di perairan itu menyimpan keragaman hayati berupa ikan Batak jenis Lissochilus sumatranus, Labeobarbus soro, dan remis Toba (Corbicula tobae), serta air tawarnya sangat dibutuhkan masyarakat.

Dari pantai barat Pulau Samosir yang landai, dari Pangururan, perjalanan memotong bagian terlebar yang berada tengah pulau. Perjalanan dari ketinggian
906 m.dpl. terus meninggi hingga mencapai daerah di ketinggian 1.600 m.dpl., yang di depannya, sedikit ke sebelah timur, terdapat tebing yang hampir tegak menghadap timur sedalam 200 m., di bawahnya terdapat pelataran selebar 2 km pada ketinggian 1.400 m.dpl.. Rona bumi ini terlihat dengan jelas bila berlayar dari arah Parapat, bagian timur Pulau Samosir itu nampak jelas lebih mencuat ke atas. Pulau Samosir berukuran 60 x 20 km itu telah terangkat setidaknya 1.100 m ke posisi sekarang.

Dalam tulisannya yang terbit pada tahun 1949, van Bemmelen memberikan jawaban atas keadaan rona bumi Pulau Samosir. Diawali dengan pembentukan “Tumor Batak”, lebarnya 150 km dan panjangnya 275 km, membentuk bangun lonjong berarah barat laut-tenggara, lalu terangkat menjadi cikal-bakal terbentuknya “Gunung Toba Purba”. Kubah itu kemudian meletus mahadahsyat, menghembuskan material ke angkasa, menyebabkan
terjadinya kekosongan di dalam tubuh “gunung”, sehingga bagian atas dari tubuhnya tak kuat lagi menahan beban, lalu runtuh. Dua blok raksasa itu melesak ambles lurus ke bawah, membentuk diding yang tegak di sekelilingnya. Air hujan mengisi runtuhan itu membentuk danau kaldera yang amat luas. Proses sedimentasi danau terus berlangsung, sehingga fosil ganggang (diatom) dan fosil daun dapat ditemukan di ketinggian Pulau Samosir, yang terhampar dengan ketebalan puluhan meter. Endapan itu memberikan keyakinan, bahwa daerah yang sekarang bernama Pulau Samosir itu semula merupakan dasar danau kaldera yang kemudian terangkat ke permukaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sekitar 33.000 tahun yang lalu, Pulau Samosir masih di bawah permukaan danau.

Kegiatan magma yang menerebos ke permukaan telah memperkuat tekanan dari dalam, menyebabkan kubah di dasar kaldera terangkat kembali (resurgent doming), yaitu pengangkatan dasar kaldera karena adanya desakan magma. Bagian tengah blok mendapatkan tekanan yang lebih kuat, sehingga sisi timur dari blok barat terangkat lebih tinggi, sehingga Pulau Samosir sisi timur itu rona buminya lebih tinggi yang menurun halus ke bagian
baratnya.

Perjalanan kembali menyusuri lereng dalam kaldera bagian barat yang curam, untuk kembali ke Tele. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan ke arah tenggara. Setelah menempuh perjalanan 8 km, jalan berbelok ke arah barat daya, lalu menyusuri dataran yang memanjang, dibentengi patahan/sesar di sisi baratnya. 31 km dari Tele, akan sampai di jalan sempit yang menurun berkelok, dengan jurang yang dalam. Dari sana lembah
Bakkara terlihat keindahannya. Dari lembah ini pula telah lahir generasi awal Si Singamangaraja.

Dari Bakkara, perjalanan dilanjutkan melewati Balige menuju Porsea di bagian tenggara danau. Perjalanan sejauh 66 km itu dapat ditempuh selama 1,5 jam. Kawasan ini merupakan lingkar luar sisi tenggara dari Kaldera Porsea. Letusan kaldera generasi pertama Toba ini terjadi 840.000 tahun yang lalu, menghembuskan material letusan sebanyak 500 km3, menghasilkan endapan ignimbrit Tuf Toba Tua (OTT, Old Toba Tuff).

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Dari Porsea perjalanan dilanjutkan ke Parapat. Kota Porsea ini berada di Blok timur yang terangkat kembali setelah 33.000 tahun lebih berada di dalam dasar danau. Kawasan ini disebut juga Blok Uluan, namun tidak terangkat setinggi Blok Samosir. Ujung selatannya berada pada ketinggian 1.200 m.dpl. dan di bagian utara, di Kota Parapat, ketinggiannya 1.100 m.dpl., dengan rata-rata permukaan Blok Uluan 1.400 m.dpl.. Tebing sisi barat Blok Uluan ini setinggi 300-360 m. bila diukur dari permukaan air danau samai permukaan daratannya.

Menjelang pagi di bibir pantai Danau Toba, di Kota Parapat, kota terakhir yang kami singgahi setelah mengelilingi seluruh pinggiran danau dan mengeliling Pulau Samosir yang berada di tengahnya. Dalam remang cahaya, terlihat bayangan perahu terus melaju dalam riak yang berkilau, pantulan cahaya dari hotel yang berjajar. Nelayan itu menepikan perahu kecil selebar tubuhnya, lalu menawarkan ikan dan udang hasil tangkapannya. Ikan nila seukuran telapak tangan orang dewasa dan udang sebesar ibujari kaki. Pak Saragih, namanya. Ia terus bercerita tentang keluarganya, tentang anak-anaknya yang dikaruniai kepintaran, selalu mendapat nilai bagus di sekolahnya, yang menurutnya itu karena anak-anaknya selalu sarapan dengan ikan dan udang dari Danau Toba.

Di pinggiran Danau Toba, saya membayangkan letusan mahadahsyat Gunung Toba 74.000 tahu yang lalu, letusan yang menyemburkan abu vulkanik sebanyak 2.800 km3 yang menyebar dalam skala global, sehingga mendinginkan suhu di Bumi (volcanic winter), yang memicu terjadinya kemacetan genetis dalam evolusi manusia. Saat itu tak terbayangkan atmosfer bumi yang diselimuti lapisan kuning beracun, dan sebanyak 2-4 megaton mengendap di Greenland. Menurunnya suhu di bumi itu telah berdampak pada kehancuran hutan, sehingga menyebabkan terjadi badai debu yang dahsyat.

Para peneliti dari berbagai belahan Dunia akhirnya dapat mengisi sebagian besar puzzle dari teka-teki Kaldera Toba. Penelitian yang satu melengkapi hasil penelitian sebelumnya. Namun, penelitian selalu belum berakhir dengan sempurna. Selalu ada hal masih perlu penyempurnaan, dan ini memberikan kesempatan kepada para ilmuwan lain untuk berperan mengisi bilah-bilah puzzle yang belum terisi dengan sempurna. ( T. Bachtiar )

T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia (MGI) dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Katastrofi Geologi oleh Super-erupsi

Seri  dari  Tulisan “Toba Big Bang” 74.000 Tahun yang Lalu: Katastrofi Geologi

Oleh : Awang H. Satyana

Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1992)

Katastrofi geologi adalah suatu proses geologi yang menyebabkan perubahan sangat besar bagi lingkungan Bumi dan penghuninya, ditandai dengan rusak atau hancurnya lingkungan, kondisi iklim yang tidak menunjang bagi kelangsungan kehidupan, sehingga sebagian besar makhluk hidup mengalami kepunahan dalam skala besar (kepunahan massa/ mass extinction). Dengan terjadinya erupsi Toba dalam skala megakolosal, VEI = 8, yang terbesar di Bumi dalam 28 juta tahun terakhir, maka suatu katastrofi geologi diperkirakan telah terjadi. Kejadian ini secara definitif disebut sebagai “Teori Katastrofi Toba”.

Katastrofi Toba terjadi melalui dua cara, yaitu musim dingin volkanik (volcanic winter) dan punahnya sebagian besar manusia modern yang saat itu sedang bermigrasi keluar dari Afrika (population bottlenecking) (Gibbons, 1993; Rampino dan Self, 1993; Ambrose, 1998)

Musim dingin volkanik terjadi bila banyak abu tersembur masuk ke dalam atmosfer. Kadar asam belerang pun memasuki atmosfer , dan bila abu volkanik terinjeksi lebih tinggi ke dalam atmosfer, maka abu volkanik dan asam belerang tersebut akan tinggal lebih lama di dalam atmosfer. Kejadiannya bisa selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun, lalu mereka akan menangkis dan mengubah influks energi matahari ke atmosfer bagian bawah. Manusia modern yang hidup antara 1815-1818 pun menderita akibat letusan Tambora. Bagaimana bila itu terjadi 74.000 tahun yang lalu dan berasal dari sebuah erupsi megakolosal yang puluhan kali lebih kuat daripadaTambora? Maka, mungkin benar, bahwa telah terjadi suatu kepunahan massa.

Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1993)
)

Letusan Toba 74.000 tyl telah menghasilkan 3 milyar ton abu halus dan aerosol H2SO4 dan SO2 yang terlontar setinggi 27-37 km menginjeksi atmosfer dan sangat signifikan mengurangi transmisi sinar Matahari ke permukaan Bumi (Rampino dan Self, 1992; Chesner dkk., 1991). Diperhitungkan bahwa transmisi sinar Matahari saat itu hanya 0,001-10 %. Menurunnya daya terima sinar Matahari ini telah menyebabkan temperatur menurun 3-5oC. Saat itu Zaman Es sedang menjelang, dan letusan Toba diyakini telah mempercepat datangnya Zaman Es ini. Toba juga telah melepaskan sebanyak 540 milyar ton air yang naik sampai stratosfer dan dapat mengubah gas belerang yang dilontarkan Toba menjadi 1-10 milyar ton aerosol H2SO4. Posisi Toba di wilayah tropis juga membuatnya lebih efisien untuk abu dan gas dari Toba memasuki stratosfer di kedua belahan Bumi.

Mengenai hal ini, para ahli umumnya sepakat bahwa letusan megakolosal Toba telah memicu ataumempercepat musim dingin sesuai siklus geologi. Mereka hanya berbeda pendapat di mekanisme terjadinya musim dingin volkanik dan tingkat penurunan temperatur, misalnya yang didiskusikan oleh Oppenheimer (2002) dan Robock dkk. (2009).

Parbakalan, Sidikalang, lembah terbuka sejajar (strike valley) Sesar Sumatra. Foto: Margaretha Purwaningsih

Kemungkinan terjadinya penciutan populasi manusia akibat erupsi mega-kolosal Toba pertama kali dikemukakan oleh Gibbons (1993). Pendapat ini kemudian segera disokong oleh Rampino dan Self (1993). Teori bottleneck ini kemudian dikembangkan oleh Ambrose (1998) dan Rampino dan Ambrose (2000). Menurut para pendukung teori genetic bottleneck, antara 50.000-100.000 tyl, populasi manusia mengalami penurunan yang sangat drastis, dari sekitar 100.000 individu menjadi sekitar 10.000 individu (Gibbons, 1993; Ambrose, 1998). Bukti-bukti genetik juga menunjukkan bahwa semua manusia yang hidup sekarang, meskipun sangat bervariasi, diturunkan dari populasi yang sangat kecil antara 1000-10.000 pasangan sekitar 70.000 tyl.

Setelah genetic bottleneck dan pemulihan kembali, diiferensiasi ras populasi manusia terjadi dengan cepat. Oleh karenanya, diajukan pendapat bahwa Toba telah menyebabkan ras-ras modern berdiferensiasi secara mendadak hanya sekitar 70.000 tahun yang lalu, daripada secara berangsur selama satu juta tahun.

Terjadinya musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera karena letusan Toba dapat menjawab suatu paradoks tentang asal Afrika buat manusia, yaitu: bila kita semua berasal dari Afrika (Out of Africa) mengapa kita semuanya tidak mirip orang Afrika? Karena musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera telah mengurangi populasi sampai tingkat cukup rendah untuk meneruskan efek nenek moyang, lalu terjadi aliran genetik dan adaptasi lokal menghasilkan perubahan cepat pada populasi yang selamat, yang menyebabkan manusia-manusia di seluruh dunia terlihat begitu berbeda. Dengan kata lain, Toba telah menyebabkan ras modern manusia terdiferensiasi secara mendadak (Ambrose, 1998).

Demikian, beberapa aspek tentang Toba, tentang sejarah geologi, tektonik dan erupsi katastrofiknya pada 74.000 tahun yang lalu, tentang efeknya bagi iklim dunia dan akibatnya atas katastrofi biologi berupa penciutan jumlah manusia. Mengunjungi tempat-tempat dengan fenomena geo-histori di Indonesia yang menarik sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang tempat tersebut, yang mungkin sebelumnya tidak diketahui dengan baik. Hal ini akan makin membuat kita takjub atas warisan geo-histori Indonesia, sehingga kita dapat lebih mencintainya.

Penulis adalah spesialis utama di SKMIGAS dan penggiat komunitas “Geotrek Indonesia”.

Ulos Batak Naik Martabat Dalam Rancangan Designer

Rampak suara gondang Batak memecah keriuhan di Sopo Partukkoan, Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Rabu (17/10/2018). Diiringi melodi seruling, opung-opung dan oma-oma perajin ulos Batak berjalan menyusuri landas peraga dengan kain menjuntai di bahu.

 

Di belakang mereka, 18 model berjalan anggun menampilkan rancangan busana Edward Hutabarat. Malam itu, ulos Batak benar-benar naik martabat.

 

Opung-opung dan oma-oma perajin ulos Batak keliling menyusuri catwalk dengan kain menjuntai di bahu dalam pergelaran busana ”Ulos Batak in Innovation” yang merupakan rangkaian Festival Tenun Nusantara, Oktober lalu, di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

 

Awalnya, ratusan perajin yang sudah tak muda lagi itu tampak malu dan minder saat diminta berkeliling panggung. Untuk meyakinkan, sang perancang busana pun mengumpulkan mereka di tengah-tengah gedung.

Di depan mereka, Edo—panggilan akrab Edward Hutabarat— bersujud dan memutar badan 360 derajat. Dengan menggunakan bahasa Batak yang halus, Edo berkata, ”Bapak ibu seperti orangtua saya, terima kasih sudah hadir untuk peragaan ini.”

 

Opung-opung dan oma-oma itu sangat terharu mendengarnya. Mata mereka terlihat berkaca-kaca. Tanpa ragu-ragu, mereka langsung mengeluarkan ulos- ulos istimewa, koleksi-koleksi terbaik, juga ulos-ulos tertua warisan nenek moyang.

 

Untuk mengungkapkan rasa hormatnya, Edo turut serta manortor atau menari tortor bersama 120 opung-opung dan oma- oma itu. Sesuai tata krama Batak, kepada mereka, satu per satu Edo menyelipkan amplop kecil berisi uang untuk membeli sirih dan pinang.

 

Setelah opung-opung dan omah-oma berjalan menyusuri landas peraga selayaknya model, di ujung landasan, Edo yang juga putra daerah Tapanuli Utara itu menyambut mereka satu per satu, menyalami, dan memeluk mereka.

 

Akar budaya

 

Sesuai tema peragaan busana, ”Ulos Batak in Innovation”, Edo sukses melahirkan sentuhan baru pada kain-kain peninggalan leluhur Tapanuli Utara itu. Dalam mengulas ulos, Edo dengan cermat belajar dari akar leluhurnya.

 

Dalam berinovasi dengan ulos, Edo tetap mempertahankan kesantunan dan keanggunan ulos. Untuk busana pria, ia memakai ulos sibolang yang dimiliki hampir setiap keluarga suku Batak dalam aktivitas sehari-hari. Juga ulos suri-suri atau sisir yang memiliki pola-pola garis lurus.

 

Ia juga memanfaatkan ulos bintang maratur yang biasa diberikan saat momen kelahiran bayi, juga ulos tum-tuman yang cukup tinggi derajatnya dalam prosesi adat karena hanya boleh dipakai oleh ketua adat atau orang yang dituakan.

 

Yang terakhir, ulos harungguan yang paling istimewa dari sisi pembuatannya. Ulos harungguan adalah ulos yang di dalamnya ada semua motif ikat ulos. Ulos dari Desa Hutanagodang, Kecamatan Muara, di tepi Danau Toba ini memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam proses pembuatannya.

 

”Saat prosesi adat, ulos harungguan diberikan untuk terwujudnya harapan yang tinggi, seperti perdamaian dua kampung, kelahiran, juga untuk anak yang hendak pergi merantau. Ada harapan yang tinggi ketika ulos ini diserahkan,” ujar Edo.

 

Edo lahir di keluarga yang melakukan ritual-ritual itu secara kental, lengkap dengan semua jenis ulos. Jadi, ia tahu persis kegunaan ulos. Ia menyebut ulos sebagai kain peradaban karena dipakai untuk melengkapi rangkaian seremoni kehidupan yang berhubungan dengan leluhur dan Sang Pencipta. Karena itulah, ulos tak pernah lepas dari prosesi-prosesi adat yang agung.

 

Berbekal pengalaman 20 tahun keliling Indonesia, Edo tak lupa memadukan ulos dengan kerajinan-kerajinan Nusantara lainnya yang ternyata juga merupakan hasil karya dari tangan- tangan renta. Ia mengombinasikan ulos dengan kain lurik buatan Pedan, Klaten, serta kain lurik Yogyakarta. Untuk mempercantik penampilan, ia juga mengangkat topi-topi pandan buatan Singaraja, Bali.

 

Untuk aksesori, Edo sengaja mengambil mutiara-mutiara pilihan dari Lombok juga sepatu kulit dari Magetan. Benar-benar perpaduan budaya Indonesia.

 

”Harga topi itu hanya Rp 50.000, demikian pula lurik Rp 50.000. Namun, semuanya dibuat dengan kualitas baik. Ada tangan-tangan renta di situ yang membuat topi, lurik, dan ulos, sebuah kesatuan untuk Indonesia. Yang saya tampilkan kemarin adalah peragaan yang siap disuguhkan di Paris, Milan, dan sebagainya. Kalau kita bisa meracik kekayaan Nusantara, kita bisa menggemparkan dunia,” kata Edo.

 

Aset langka

 

Ia meyakini, tangan-tangan renta ini adalah aset bangsa yang luar biasa. Dari merekalah peradaban bangsa ini masih bertahan. Tanpa mereka, tak akan ada topi pandan yang indah, lurik halus, dan ulos lembut untuk diwariskan ke anak-anak muda sekarang.

 

Sayangnya, tidak ada universitas atau perguruan tinggi yang mengajarkan keterampilan membuat karya-karya itu. Karena itu, Edo tanpa ragu-ragu mengajak opung-opung dan oma-oma itu ke atas panggung peragaan busana. Merekalah yang mempertahankan kejayaan tradisi Tapanuli Utara, Klaten, Jambi, Palembang, dan sekitarnya.

 

Jika diibaratkan sebagai perjamuan makanan, yang dihidangkan Edo di Sopo Partukkoan, Tarutung, adalah makanan utama ulos Batak, makanan pembuka topi dari Singaraja, serta kain lurik Pedan dan Yogyakarta sebagai hidangan penutupnya. Di situlah ia memberikan penghormatan kepada perajin-perajin bersahaja Nusantara.

 

Dari Sabang sampai Merauke, Edo membuktikan keindahan harmoni Nusantara. Dalam peragaan ini, ia baru mengupas tiga daerah. Masih banyak kekayaan Indonesia lainnya yang bisa digali. ”Pemerintah harus memberikan penghargaan khusus kepada mereka, terutama bagaimana menyalurkan jiwa kepiawaian tangan-tangan renta ini ke anak- anak muda karena keterampilan ini tak ada sekolahnya,” ujar penerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan tahun 2004 ini.

 

Terpesona dengan keunikan ulos, kolektor kain Vilidius RP Siburian selama bertahun-tahun setia mengumpulkan aneka macam ulos Batak. Puluhan kain ulos koleksinya turut memeriahkan Pameran Tenun Nusantara. Pameran ini digelar dalam rangkaian Festival Tenun Nusantara di Tapanuli Utara pada 13-17 Oktober 2018 kerja sama Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.

 

Pameran itu menampilkan kain ulos tertua milik Vilidius, sebuah ulos Runjat khas Batak Toba berumur sekitar 150 tahun. Ulos Runjat merupakan ulos khas daerah Porsea dan sekitarnya yang pada zaman dahulu menjadi penunjuk status sosial seseorang. Dulu, kain ini dimanfaatkan sebagai sarung atau selendang oleh kalangan kaum bangsawan Batak Toba.

Sejumlah model menampilkan baju-baju, topi, dan tas karya Edward Hutabarat yang dikreasi dari bahan dasar kain ulos dan tenun, Rabu (17/10/2018) di Sopo Partukkoan, Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Seiring perkembangan zaman, kini banyak motif tenun tua Batak yang nyaris hilang karena tak pernah dibuat lagi oleh petenun. Karena tergoda membuat kreasi- kreasi baru, banyak petenun yang cenderung memilih membuat tenun dengan benang-benang pabrikan berwarna cerah mencolok.

 

Menurut Vilidius, pewarisan makna-makna tenun yang begitu dalam dan bermacam-macam sangat penting agar motif-motif tenun lama Batak bisa tetap dipertahankan. Dengan memahami makna dan proses panjang di baliknya, banyak penikmat tenun akan tertarik membeli atau mengoleksi tenun-tenun itu.

 

Ketua Perkumpulan Wastra Indonesia Bhimanto Suwastoyo menambahkan, saat ini petenun memiliki tantangan riil, yaitu desakan kebutuhan ekonomi. Mereka kini dituntut untuk lebih cepat memproduksi dan kemudian segera menjual tenun-tenunnya kepada tauke atau pengepul.

 

Kesaksian Edo, Vilidius, dan Bhimanto memberi pesan bahwa kekuatan tangan-tangan renta dari Sabang sampai Merauke itu jika diolah dengan baik akan menjadi kekayaan luar biasa. Meminjam istilah Edo, bahkan lebih dahsyat dari nuklir sekalipun.

 

SUMBER:

Tangan Renta Terhormat

https://kompas.id

ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Informasi Moda Transportasi Ke Bandara Kualanamu

Bandara Internasional Kualanamu adalah bandara baru yang menggantikan Bandara Polonia Medan.  Bandara Kualanamu terletak di Deli Serdang dengan jarak sekitar 39 kilometer dari Kota Medan. Untuk mencapai bandara Kualanamu dari berbagai tempat di kota Medan tersedia beragam moda angkutan yang bisa dipilih oleh para penumpang yang hendak ke dan dari bandara Kualanamu.

 

Angkutan Bus

 

Selain angkutan kereta dari Kota Medan ke Bandara Kualanamu, angkutan bus bandara Damri trayek ke bandara Kualanamu dan juga angkutan bus bandara lainnya  menjadi andalan para penumpang pesawat terbang yang akan ke dan dari Bandara Kualanamu.

 

Bus Damri Trayek Kualanamu

Trayek: Bandara Kualanamu – Amplas Medan

Tarif: Rp. 10.000 / orang

Jadwal Operasional: 04.30 WIB – 22.00 WIB (keberangkatan setiap 30 menit)

Waktu Tempuh: ±45 Menit (normal)

Rute: Bandara Kualanamu – Sp. Kayu Besar – Tol Tanjung Morawa – Tol Amplas

 

Trayek:  Bandara Kualanamu – Medan Fair Plaza

Tarif: Rp. 15.000/ orang

Jadwal Operasional: 04.30 WIB – 22.00 WIB (keberangkatan setiap 30 menit)

Waktu Tempuh: ±60 menit (normal)

Rute : Bandara Kualanamu – Sp. Kayu Besar – Tol Tanjung Morawa – Tol Amplas – Jl. SM Raja – Jl Juanda – Jl. Sudirman – Jl. S. Parman – Jl. Iskandar Muda – Jl. Gatot Subroto – Medan Fair Plaza

 

 

 

Bus ALS Kualanamu

Trayek: Bandara Kualanamu – Binjai

Tarif: Rp. 30.000/ orang

Jadwal Operasional: 03.00 WIB – 22.00 WIB (keberangkatan setiap 30 menit)

Waktu Tempuh: ± 1 – 2 jam (normal)

Rute : Bandara Kualanamu – Sp. Kayu Besar – Terminal Amplas – Jl. Sisingamangaraja – Simpang Marendal – Jl. AH Nasution (Asrama Haji) – Simpang Pos – Ring Road – Pondok Kelapa – Jl. Gatot Subroto – Terminal Binjai

 

Trayek: Bandara Kualanamu – Ring Road

Tarif: Rp. 15.000 / orang

Jadwal Operasional: 04.30 WIB – 22.00 WIB (keberangkatan setiap 30 menit)

Waktu Tempuh: ± 1 jam (normal)

Rute : Bandara Kualanamu – Sp. Kayu Besar – Terminal Amplas – Jl. Sisingamangaraja – Simpang Marendal – Jl. AH Nasution (Asrama Haji) – Simpang Pos – Ring Road

 

 

Bus ALMASAR Kualanamu

 

Trayek: Bandara Kualanamu – Cemara

Tarif: Rp. 15.000 / orang

Jadwal Operasional: 04.30 WIB – 22.00 WIB

Waktu Tempuh: ± 45 menit (normal)

Rute: Bandara Kualanamu – Sp. Kayu Besar – Tol Belmera – Cemara

 

Bus PARADEP Kualanamu

Trayek: Bandara Kualanamu – Pematang Siantar

Tarif: Rp. 50.000 / orang

Jadwal Operasional: 04.30 WIB – 22.00 WIB

Lama Perjalanan: ± 2 – 3 jam (normal)

Demikian informasi angkutan bus dari dan ke bandara Kualanamu. Semoga dapat membantu perjalanan Anda. Sekiranya terdapat perubahan akan kami lakukan update atas informasi ini.

Keretaapi

 

Bandara Kualanamu memiliki sarana transportasi menuju dan dari Stasiun Besar Medan yang berlokasi di dekat Lapangan Merdeka Medan. Perjalanan kereta ini ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit. Untuk dapat naik kereta api ini para penumpang bisa membeli tiket pada loket yang tersedia. Selain itu para penumpang juga bisa membeli dan membayar tiket ekektronik yang dapat dibeli secara online. Harga tiket sekali perjalanan adalah sebesar Rp 80.000.

 

    Jadwal Berangkat Keretaapi yang tersedia

 

Rute dari Medan menuju bandara Kualanamu:

Pukul 03:30

Pukul 04:50

Pukul 06:15

Pukul 08:20

Pukul 11:10

Pukul 18:45

Pukul 15:15

Pukul 19:20

Pukul 20:00

 

Rute dari bandara Kualanamu ke Medan:

Pukul 05:50

Pukul 06:20

Pukul 08:00

Pukul 09:25

Pukul 12:25

Pukul 14:55

Pukul 16:25

Pukul 18:50

Pukul 20:25

Pukul 00:15

 

Info lebih lanjut: www.railink.co.id

 

Taxy

Pilihan moda transportasi yang fleksibilitas dan lebih nyaman adalah dengan naik taxy. Di Bandara Kuala Namu tersedia taksi argo untuk membawa penumpang ke destinasi masing-masing. Saat ini, operator taksi yang beroperasi di Bandara Kuala Namu hanya Blue Bird. Perkiraan ongkos dari Bandara Kuala Namu hingga ke Kota Medan berkisar antara Rp 120.000 hingga Rp 150.000, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam, tergantung kondisi jalan yang dilalui macet atau tidak dan lokasi yang dituju.

Rental Car

Selain moda di atas buat penumpang yang akan ke atau dari bandara Kualanamu bisa juga memilih rental mobil. Ada beberapa perusahaan rental yang bisa menjadi pilihan. Rent Car merupakan penyewaan mobil yang siap antar jemput di Kualanamu International Airport. Rental Mobil khusus melayani sewa mobil harian dengan supir untuk pemakaian dalam kota dan luar kota Medan, Paket Drop Off atau Paket Wisata disekitar  Sumatera Utara dengan harga yang terjangkau serta didukung oleh supir yang berpengalaman. Para penumpang bisa memilih yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

 

Daftar Jadwal Penyeberangan Ferry Di Danau Toba

Daftar Jadwal Penyeberangan Ferry Di Danau Toba

Bagi wisatawan yang ingin berlibur ke Danau Toba perlu mengetahui jadwal penyeberangan ferry yang berlaku. Jika Anda mengetahui jadwal penyeberangan Ferry maka Anda dapat mengatur jadwal perjalanan wisata Anda dengan baik khususnya wisatawan yang membawa kenderaan sendiri. Untuk sampai ke Pulau Samosir jalan darat hanya lewat satu jembatan saja yang dikenal dengan Jembatan Tano Ponggol. Selain itu Anda harus menyberang menggunakan sarana penyeberangan. Ada 3 jalur masuk jalur penyeberangan untuk tiba ke Pulau Samosir yakni:

1. penyeberangan Ferry AjibataTomok

2. Penyeberangan Ferry Tigaras –  Simanindo

3. penyeberangan Ferry Muara – Sipinggan

Daftar Jadwal Rute KM Ferry AjibataTomok

Saat ini rute  Ajibata menuju Tomok memiliki 2 kapal Ferry yaitu KMP Tao Toba I dan KMP Tao Toba II. Yang biasa dioperasikan sebagai angkutan utama adalah Tao Toba II sedangkan Tao Toba I dioperasikan hanya pada hari tertentu atau high season misalnya pada saat menjelang libur Natal dan Tahun Baru karena penumpang pasti meningkat ke daerah Samosir. Bahkan biasanya sampai beroperasi 24 jam untuk memenuhi kebutuhan penyeberangan yang membludak.  Biaya penyeberangan mobil di dalam kapal Ferry sebesar Rp.115.000. Kapasitas muatan kapal Ferry sekali angkut sekitar 28 kendaraan. Untukn masuk ke kapal mobil harus masuk sesuai antrian, tidak diperbolehkan untuk memesan sebelumnya.

Jadwal penyeberangan Ferry dari Pelabuhan Ajibata

1. 08.30 WIB

2.11:30 WIB

3.14.30 WIB

4.17.45 WIB

5.21.00 WIB

Jadwal penyeberangan Ferry dari Pelabuhan Tomok

1. 07.00 WIB

2.10.00 WIB

3.13.00 WIB

4.16.00 WIB

5.19.30 WIB

Daftar Jadwal Rute Pelabuhan Ferry TigarasSimanindo

Penyeberangan dari Pelabuhan Tigaras menuju ke Pelabuhan Simanindo dilayani oleh KMP SUMUT I. Area Medan dengan rata-rata waktu pelayaran untuk menyeberang adalah sekitar 45 menit. Kapasitas muat kapal ferry yang melayani melalui jalur ini adalah untuk jenis kenderaan mobil yang bisa diangkut sekitar 16 mobil untuk sekali perjalanan. Rute kapal Ferry Simanindo beroperasi setiap hari.

Berikut jadwal ferry dari Pelabuhan TigarasSimanindo

Trip I 08.00 WIB
Trip II 09.30 WIB
Trip III 11.30 WIB
Trip IV 13.30 WIB
Trip V 15.00 WIB
Trip VI 17.00 WIB
Trip VII 19.30WIB

Jadwal Ferry dari Pelabuhan Simanindo ke Pelabuhan Tigaras

Trip I      07.00  WIB
Trip II     09.00 WIB
Trip III    10.30 WIB
Trip IV   12.30 WIB
Trip V    14.00 WIB
Trip VI   16.00 WIB
Trip VII  18.00 WIB

Daftar Jadwal Rute Pelabuhan Ferry Muara –  Sipinggan

Jalur penyeberangan dari Pelabuhan Muara – ke Pelabuhan Sipinggan dilayani oleh KMP Sumut II dengan kapasitas muat sebanyak 8 kendaraan dan penumpang sekitar 40 orang. Jarak tempuh dari Muara ke Nainggolan memakan waktu sekitar 50 menit. Beroperasi 2x seminggu yaitu hari Sabtu dan Minggu. Terjadi perubahan jadwal sejak petengahan tahun 2017 karena adanya penambahan kapal ferry rute Onanrunggu ke Balige, yang sebelumnya melayani 3 kali dalam satu minggu menjadi 2 kali.

Jadwal Ferry dari DERMAGA MUARA –  DERMAGA SIPINGGAN

(2 x Seminggu : Sabtu dan Minggu)

Pukul 15.30                                                        Pukul 09.00

Jadwal Ferry dari DERMAGA BALIGE  –   DERMAGA ONAN RUNGGU

(2 x Seminggu : Senin dan Jumat)

Pukul 16.30                                                        Pukul 10.30