Kemegahan Danau Raksasa Toba

T Bachtiar

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Berdiri di pinggir Danau Toba, hanya tepian danau terdekatlah yang terlihat. Burung berwarna putih berjajar di tiang penyangga jaringapung di tepian danau, sesekali terbang bila mendengar suara-suara yang mencurigakan. Inilah danau kaldera terbesar di dunia, dengan luas perairan danaunya 1.130 km2, dengan kedalaman maksimal danau 500 m., yang dapat menampung air tawar sebanyak 240 km3. Dari Kota Medan, Sumatera Utara, danau yang berukuran 87 x 294 km ini jaraknya 176 km ke arah selatan. Karena ukurannya yang sangat luas, sehingga untuk mendapatkan gambaran bentuk danau yang utuh, haruslah difoto dari pesawat terbang atau dari satelit.

Secara geografis, kawasan Danau Toba terletak di sisi timur rangkaian Bukit Barisan pada titik koordinat 20 21‘ 32‘‘– 20 56‘ 28‘‘ Lintang Utara dan 980 26‘35‘‘ – 990 15‘40‘‘ Bujur Timur. Permukaan danaunya berada pada ketinggian 903 m.dpl, dan Daerah Tangkapan Air (DTA) sampai di ketinggian 1.981 m.dpl, dan total luas Daerah Tangkapan Air (DTA) danau ini mencapai 4.312 km2.

Perahu-perahu penuh muatan dengan musik dangdut yang dibunyikan keras sekali, tak hentinya hilirmudik mempertalikan warga di tepian Danau Toba
dan Pulau Samosir. Perairan danau menjadi sarana transportasi yang tidak perlu dibeton atau diaspal. Jalur perahu penyeberangan di perairan Danau Toba itu menghubungkan Ajibata ke Tomok, Ajibata ke Pangururan melalui Ambarita, Balige ke Pangururan melalui Nainggolan dan Mogang, Ajibata ke Nainggolan, dan dari Nainggolan ke Muara. Perahu di Danau Toba perannya sangat penting untuk kelancaran pergerakan penduduk dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Penduduk yang bermukim di Kawasan Danau Toba itu tersebar di 443 desa/kelurahan, pada 37 Kecamatan, di 7 Kabupaten, yaitu: Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, dan Dairi.

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Jalan berliku, dengan jurang yang menganga. Punggung bukit meruncing ditutupi rerumputan dengan jajaran pohon yang renggang. Akhirnya sampai di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Di sini sudah ada pelataran untuk melihat airterjun Sipisopiso dari kejauhan. Airterjun yang menghujam setinggi 175 m. itu berada di celah sempit ujung barat laut Danau Toba, layaknya bilah pisau yang tajam mengiris alam. Namun, bagi pengunjung yang menyukai tantangan petualangan, disediakan jalan sedepa yang melipir meniti tebing yang curam. Dinding tegak ini merupakan dinding Kaldera Toba berupa bongkah-bongkah raksasa dari batuan dasar berumur Mesozoikum – Paleozoikum. Kesegaran uap air terjun yang tertiup angin akan didapat pengunjung yang sampai di dasar sungai.

Di ujung barat laut danau, sobekan bumi terlihat nyata, jejak dinamika kulit bumi Sumatera yang tiada henti ditekan dari Samudra Hindia dengan kecepatan 6-7 cm per tahun, telah mendorong sebelah barat pulau ini ke arah barat laut, dan sisi sebelahnya lagi bergerak ke arah tenggara. Ujung robekan di barat laut danau itu merupakan jejak sesar normal, situs bumi yang menyimpan pengetahuan.

Di ujung utara Danau Toba inilah tempat dimulainya tahap awal pembentukan gunung api, yang menurut Craig A. Chesner, Gunung Toba purba ini mulai membangun dirinya sejak 1.200.000 tahun yang lalu. Letusan Toba purba menghembuskan material letusan yang kemudian dinamai Haranggaol Dacite Tuff (HDT).

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Tidak jauh dari gunung api purba ke arah barat laut danau, tak jauh dari titik letusan Gunung Toba Purba, terjadi letusan dahsyat generasi kedua dalam pembentukan Kaldera Toba. Menurut Craig A. Chesner, kaldera ini terbentuk pada 500.000 tahun yang lalu. Letusannya menghembuskan 60 km3 material yang dikenal sebagai Tuf Toba Menengah (MTT, Midle Toba Tuff), yang menghasilkan Kaldera Haranggaol, yang lingkaran kalderanya berbatasan dengan Kota Silalahi di barat dan Kota Haranggaol di timur.

Lereng-lereng terjal memagari danau yang jauh berada di bawahnya. Jalan menyusuri lereng luar kaldera, memotong zona sesar Sumatera menuju Sidikalang, tempat rehat untuk minum kopi, sebelum melaju di jalan yang berada di lembah yang diapit dua dinding yang memanjang barat laut – tenggara dengan ketinggian lebih dari 150 m. Setelah perjalanan sejauh 15 km, jalan berbelok ke arah timur, memotong lagi zona sesar Sumatera menuju Tele.

Dari menara pandang di Tele, Danau Toba terlihat pesonanya, namun tetap belum dapat melihat sebagian besar kaldera ini. Hanya satu sudut yang dapat dinikmati. Agar mendapat gambaran lebih nyata, Kaldera Toba seluas 2.270 km2 itu dapat dibandingkan dengan luas beberapa kota di Indonesia. Luas Kaldera Toba itu hampir sebanding dengan Kota Palangkaraya yang luasnya 2.400 km2, atau 13 kali luas Kota Bandung, 18 kali luas Kota Denpasar, 35 kali luas Kota Gorontalo, 47 kali luas Kota Sukabumi, atau 126 kali luas Kota Magelang.

Jalanan menikung tajam, di sana terdapat kedai kopi, tempat berisitrahat melepas lelah sambil dibuai pesona alam. Dari Tele pada ketinggian 1.800 m.dpl., perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pulau Samosir. Jalannya menurun berkelok-kelok sampai ketinggian 910 m.dpl di tapi danau. Hanya dari sisi barat inilah menuju Pulau Samosir dapat dicapai dengan berjalan kaki. Tinggal menyebrangi jembatan selebar 20 m., akan sampai di Pulau Samosir, pulau dengan bagian terpanjang 60 km. dengan lebar 20 km. Selama di sini pengunjung dapat diantar beca motor (betor), atau menyewa sepeda motor roda dua atau kendaraan roda empat ke berbagai tujuan wisata, seperti ke batu kursi parsidangan di Huta Siallagan dan ke Kompleks Makam Raja Batak di Tomok.

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

Saat beristirahat di Pangururan, tak terbayangkan, 74.000 tahun yang lalu telah terjadi letusan megakolossal yang membentuk kaldera generasi ketiga, yaitu Kaldera Sibandang. Tiang letusannya mencapai ketinggian lebih dari 50 km, abu halus dan aerosolnya mencapai lapisan stratosfer sehingga menghalangi pancaran cahaya matahari ke bumi, yang berdampak besar pada kehidupan karena terjadi perubahan iklim. Abu letusannya tertiup angin menyebar ke separuh bumi, dari daratan Cina sampai ke ke Afrika Selatan. Material letusan supervulkano Toba ini menutupi sebagian besar
Sumatera Utara, dan abunya tersebar menutupi seluruh Asia Selatan setebal 15 cm. Lapisan abunya terendapkan di Samudera Hindia, Laut Arabia, dan Laut Cina Selatan. Menurut Craig A. Chesner, endapan awan panas (ladu) menutup kawasan seluas 20.000 km2. Di beberapa tempat ketebalanya mencapai 400 m., namun, enadapan ladu itu rata-rata setebal 100 m.

Kekuatan letusannya berada diurutan teratas, mencapai 8 VEI (Volcanic Explosivity Index). Letusan ini merupakan letusan terbesar dalam 2 juta tahun terakhir yang terjadi selama seminggu. Batas-batas lingkaran kalderanya mulai dari Pangururan di barat, melingkar ke utara mengikuti ujung utara Pulau Samosir, menerus ke sisi timur dan selatannya sampai batas Blok Uluan, termasuk ke dalamnya Selat Latung. Inilah lingkaran kaldera yang oleh Craig A. Chesner dikategorikan sebagai kaldera hasil letusan Toba generasi ketiga atau terakhir. Letusan pamungkas yang mahadahsyat ini menghembuskan 2.800 km3 material letusan yang dikenal sebagai Tuf Toba Termuda (YTT, Youngest Toba Tuff), membentuk kaldera raksasa 87 x 30 km., yang kemudian terisi air hujan membentuk danau kaldera, danau volkanotektonik terbesar di dunia yang kemudian diberi nama Danau Toba.

Untitled-5

Danau Toba dilihat dari sebuah hotel Foto: Igan S. Sutawijaya.

Sejauh mata memandang, hanya air yang terlihat, sekelilingnya dipagari tebing-tebing tegak, perbukitan, dan pesawahan yang terhampar di bawahnya. Danau raksasa ini mampu menyimpan air tawar sebanyak  240 km3 yang bersumber dari air hujan yang langsung jatuh ke danau dan air yang berasal dari sungai. Sungaisungai yang mengalir dan bermuara ke Danau Toba di antaranya: Sungai Sigubang, Bah Bolon, Sungai Guloan, Arun, Tomok, Sibandang, Halian, Simare, Aek Bolon, Mongu, Mandosi, Gopgopan, Kijang, Sinabung, Ringo, Prembakan, Sipultakhuda, dan Sungai Silang. Keseluruhan sungai yang masuk ke Danau Toba sebanyak 289. Dari Pulau Samosir 112 sungai dan dari Daerah Tangkapan Air lainnya adalah 117 sungai. Dari 289 sungai, 57 di antaranya mengalirkan air secara tetap, dan 222 sungai merupakan sungai musiman. Sehingga Danau Toba dapat penyimpan cadangan air tawar sebagai air baku air minum. Sedangkan outlet Danau Toba hanya satu, yaitu ke Sungai Asahan, yang telah dimanfaatkan menjadi pembangkit energi listrik sebesar 450 Megawatt.

Di tempat-tempat yang lebih datar di pinggiran danau, yang memungkinkan untuk membangun kehidupan, rumah-rumah di sana didirikan, berdekatan dengan sumber air, tak jauh dari aliran sungai. Ada 289 sungai itu bermuara di Danau Toba, ditambah kegiatan di perairan danau, maka semua apa yang dibawa sungaisungai itu, tak terkecuali limbah domestik/limbah rumah tangga, termasuk limbah dari MCK, limbah dari budidaya perikanan berupa sisa pakan, limbah kegiatan pertanian berupa residu pestisida dan pupuk, limbah kegiatan pariwisata dan perdagangan, termasuk di dalamnya limbah dari pasar, hotel, restoran, industri kecil, serta kegiatan transportasi air yang berupa residu minyak dan oli, itu semua menjadi penyebab zat pencemar yang menurunkan kualitas air danau. Limbah itu telah penyumbang nitrogen, fosfor, dan kalium, yang dapat menyuburkan perairan danau, dapat dicirikan dengan meningkatnya jumlah tumbuhan air, seperti ganggang dan encenggondok yang tumbuh subur di perairan dengan pemukiman.

Di setap sudutnya, danau ini menyimpan pesonanya, dan banyak teka-teki sejarah buminya yang masih terkubur, yang belum dapat dijawab secara sempurna. Dengan bentang alam yang menakjubkan, Danau Toba mempunyai harapan yang tinggi sebagai tujuan wisata, apalagi bila dihubungkan dengan sejarah buminya yang mahadahsyat, dengan letusan supervolkano-nya 74.000 tahun yang lalu. Masalahnya selalu berakhir pada manajemen, bagaimana mengelola sumberdaya alam yang mahaindah itu dengan segala informasinya, agar menjadi objek geowisata andalan yang dapat menyejahterakan masyarakatnya. Penataan kawasan adalah kuncinya, sehingga tidak banyak bangunan atau kegiatan yang justru menurunkan kualitas fisik danau dan kenyamanan wisatawan.

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Bentang alam seputar Kaldera Toba yang membentengi danau ini, secara umum didominasi oleh perbukitan dan rangkaian gunung-gunung, dengan kelerengan mulai dari datar sampai curam, bahkan sangat curam dan terjal. Keadaan rona bumi itu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai pesawahan, pemukiman, hutan tanaman, hutan jarang, kebun campuran, dan yang paling menghawatirkan, sisa hutan alam hanya tinggal 13,47%. Sesungguhnya keadaan inilah yang akan sangat berpengruh pada jumlah air danau yang banyak menjadi tumpuan harapan.

Selama mengelilingi pinggiran danau, kerusakan lingkungan di Daerah Tangkapan Air (DTA) sudah terlihat nyata. Luas hutan di DTA Danau Toba pada tahun 1985 mencapai ± 78.558 ha, luasannya terus menurun pada tahun 1997 menjadi ± 62.403 ha. Kerusakan lingkungan itu salah satunya adalah perambahan hutan. Semuanya itu akan berdampak pada penurunan kamampuan lahan meresapkan air hujan. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian akan memperluas lahan terbuka, menyebabkan erosi menjadi tinggi, dan meningkatkan aliran permukaan, sehingga akan mengganggu neraca air danau. Padahal, di perairan itu menyimpan keragaman hayati berupa ikan Batak jenis Lissochilus sumatranus, Labeobarbus soro, dan remis Toba (Corbicula tobae), serta air tawarnya sangat dibutuhkan masyarakat.

Dari pantai barat Pulau Samosir yang landai, dari Pangururan, perjalanan memotong bagian terlebar yang berada tengah pulau. Perjalanan dari ketinggian
906 m.dpl. terus meninggi hingga mencapai daerah di ketinggian 1.600 m.dpl., yang di depannya, sedikit ke sebelah timur, terdapat tebing yang hampir tegak menghadap timur sedalam 200 m., di bawahnya terdapat pelataran selebar 2 km pada ketinggian 1.400 m.dpl.. Rona bumi ini terlihat dengan jelas bila berlayar dari arah Parapat, bagian timur Pulau Samosir itu nampak jelas lebih mencuat ke atas. Pulau Samosir berukuran 60 x 20 km itu telah terangkat setidaknya 1.100 m ke posisi sekarang.

Dalam tulisannya yang terbit pada tahun 1949, van Bemmelen memberikan jawaban atas keadaan rona bumi Pulau Samosir. Diawali dengan pembentukan “Tumor Batak”, lebarnya 150 km dan panjangnya 275 km, membentuk bangun lonjong berarah barat laut-tenggara, lalu terangkat menjadi cikal-bakal terbentuknya “Gunung Toba Purba”. Kubah itu kemudian meletus mahadahsyat, menghembuskan material ke angkasa, menyebabkan
terjadinya kekosongan di dalam tubuh “gunung”, sehingga bagian atas dari tubuhnya tak kuat lagi menahan beban, lalu runtuh. Dua blok raksasa itu melesak ambles lurus ke bawah, membentuk diding yang tegak di sekelilingnya. Air hujan mengisi runtuhan itu membentuk danau kaldera yang amat luas. Proses sedimentasi danau terus berlangsung, sehingga fosil ganggang (diatom) dan fosil daun dapat ditemukan di ketinggian Pulau Samosir, yang terhampar dengan ketebalan puluhan meter. Endapan itu memberikan keyakinan, bahwa daerah yang sekarang bernama Pulau Samosir itu semula merupakan dasar danau kaldera yang kemudian terangkat ke permukaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sekitar 33.000 tahun yang lalu, Pulau Samosir masih di bawah permukaan danau.

Kegiatan magma yang menerebos ke permukaan telah memperkuat tekanan dari dalam, menyebabkan kubah di dasar kaldera terangkat kembali (resurgent doming), yaitu pengangkatan dasar kaldera karena adanya desakan magma. Bagian tengah blok mendapatkan tekanan yang lebih kuat, sehingga sisi timur dari blok barat terangkat lebih tinggi, sehingga Pulau Samosir sisi timur itu rona buminya lebih tinggi yang menurun halus ke bagian
baratnya.

Perjalanan kembali menyusuri lereng dalam kaldera bagian barat yang curam, untuk kembali ke Tele. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan ke arah tenggara. Setelah menempuh perjalanan 8 km, jalan berbelok ke arah barat daya, lalu menyusuri dataran yang memanjang, dibentengi patahan/sesar di sisi baratnya. 31 km dari Tele, akan sampai di jalan sempit yang menurun berkelok, dengan jurang yang dalam. Dari sana lembah
Bakkara terlihat keindahannya. Dari lembah ini pula telah lahir generasi awal Si Singamangaraja.

Dari Bakkara, perjalanan dilanjutkan melewati Balige menuju Porsea di bagian tenggara danau. Perjalanan sejauh 66 km itu dapat ditempuh selama 1,5 jam. Kawasan ini merupakan lingkar luar sisi tenggara dari Kaldera Porsea. Letusan kaldera generasi pertama Toba ini terjadi 840.000 tahun yang lalu, menghembuskan material letusan sebanyak 500 km3, menghasilkan endapan ignimbrit Tuf Toba Tua (OTT, Old Toba Tuff).

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Dari Porsea perjalanan dilanjutkan ke Parapat. Kota Porsea ini berada di Blok timur yang terangkat kembali setelah 33.000 tahun lebih berada di dalam dasar danau. Kawasan ini disebut juga Blok Uluan, namun tidak terangkat setinggi Blok Samosir. Ujung selatannya berada pada ketinggian 1.200 m.dpl. dan di bagian utara, di Kota Parapat, ketinggiannya 1.100 m.dpl., dengan rata-rata permukaan Blok Uluan 1.400 m.dpl.. Tebing sisi barat Blok Uluan ini setinggi 300-360 m. bila diukur dari permukaan air danau samai permukaan daratannya.

Menjelang pagi di bibir pantai Danau Toba, di Kota Parapat, kota terakhir yang kami singgahi setelah mengelilingi seluruh pinggiran danau dan mengeliling Pulau Samosir yang berada di tengahnya. Dalam remang cahaya, terlihat bayangan perahu terus melaju dalam riak yang berkilau, pantulan cahaya dari hotel yang berjajar. Nelayan itu menepikan perahu kecil selebar tubuhnya, lalu menawarkan ikan dan udang hasil tangkapannya. Ikan nila seukuran telapak tangan orang dewasa dan udang sebesar ibujari kaki. Pak Saragih, namanya. Ia terus bercerita tentang keluarganya, tentang anak-anaknya yang dikaruniai kepintaran, selalu mendapat nilai bagus di sekolahnya, yang menurutnya itu karena anak-anaknya selalu sarapan dengan ikan dan udang dari Danau Toba.

Di pinggiran Danau Toba, saya membayangkan letusan mahadahsyat Gunung Toba 74.000 tahu yang lalu, letusan yang menyemburkan abu vulkanik sebanyak 2.800 km3 yang menyebar dalam skala global, sehingga mendinginkan suhu di Bumi (volcanic winter), yang memicu terjadinya kemacetan genetis dalam evolusi manusia. Saat itu tak terbayangkan atmosfer bumi yang diselimuti lapisan kuning beracun, dan sebanyak 2-4 megaton mengendap di Greenland. Menurunnya suhu di bumi itu telah berdampak pada kehancuran hutan, sehingga menyebabkan terjadi badai debu yang dahsyat.

Para peneliti dari berbagai belahan Dunia akhirnya dapat mengisi sebagian besar puzzle dari teka-teki Kaldera Toba. Penelitian yang satu melengkapi hasil penelitian sebelumnya. Namun, penelitian selalu belum berakhir dengan sempurna. Selalu ada hal masih perlu penyempurnaan, dan ini memberikan kesempatan kepada para ilmuwan lain untuk berperan mengisi bilah-bilah puzzle yang belum terisi dengan sempurna. ( T. Bachtiar )

T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia (MGI) dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Katastrofi Geologi oleh Super-erupsi

Seri  dari  Tulisan “Toba Big Bang” 74.000 Tahun yang Lalu: Katastrofi Geologi

Oleh : Awang H. Satyana

Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1992)

Katastrofi geologi adalah suatu proses geologi yang menyebabkan perubahan sangat besar bagi lingkungan Bumi dan penghuninya, ditandai dengan rusak atau hancurnya lingkungan, kondisi iklim yang tidak menunjang bagi kelangsungan kehidupan, sehingga sebagian besar makhluk hidup mengalami kepunahan dalam skala besar (kepunahan massa/ mass extinction). Dengan terjadinya erupsi Toba dalam skala megakolosal, VEI = 8, yang terbesar di Bumi dalam 28 juta tahun terakhir, maka suatu katastrofi geologi diperkirakan telah terjadi. Kejadian ini secara definitif disebut sebagai “Teori Katastrofi Toba”.

Katastrofi Toba terjadi melalui dua cara, yaitu musim dingin volkanik (volcanic winter) dan punahnya sebagian besar manusia modern yang saat itu sedang bermigrasi keluar dari Afrika (population bottlenecking) (Gibbons, 1993; Rampino dan Self, 1993; Ambrose, 1998)

Musim dingin volkanik terjadi bila banyak abu tersembur masuk ke dalam atmosfer. Kadar asam belerang pun memasuki atmosfer , dan bila abu volkanik terinjeksi lebih tinggi ke dalam atmosfer, maka abu volkanik dan asam belerang tersebut akan tinggal lebih lama di dalam atmosfer. Kejadiannya bisa selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun, lalu mereka akan menangkis dan mengubah influks energi matahari ke atmosfer bagian bawah. Manusia modern yang hidup antara 1815-1818 pun menderita akibat letusan Tambora. Bagaimana bila itu terjadi 74.000 tahun yang lalu dan berasal dari sebuah erupsi megakolosal yang puluhan kali lebih kuat daripadaTambora? Maka, mungkin benar, bahwa telah terjadi suatu kepunahan massa.

Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1993)
)

Letusan Toba 74.000 tyl telah menghasilkan 3 milyar ton abu halus dan aerosol H2SO4 dan SO2 yang terlontar setinggi 27-37 km menginjeksi atmosfer dan sangat signifikan mengurangi transmisi sinar Matahari ke permukaan Bumi (Rampino dan Self, 1992; Chesner dkk., 1991). Diperhitungkan bahwa transmisi sinar Matahari saat itu hanya 0,001-10 %. Menurunnya daya terima sinar Matahari ini telah menyebabkan temperatur menurun 3-5oC. Saat itu Zaman Es sedang menjelang, dan letusan Toba diyakini telah mempercepat datangnya Zaman Es ini. Toba juga telah melepaskan sebanyak 540 milyar ton air yang naik sampai stratosfer dan dapat mengubah gas belerang yang dilontarkan Toba menjadi 1-10 milyar ton aerosol H2SO4. Posisi Toba di wilayah tropis juga membuatnya lebih efisien untuk abu dan gas dari Toba memasuki stratosfer di kedua belahan Bumi.

Mengenai hal ini, para ahli umumnya sepakat bahwa letusan megakolosal Toba telah memicu ataumempercepat musim dingin sesuai siklus geologi. Mereka hanya berbeda pendapat di mekanisme terjadinya musim dingin volkanik dan tingkat penurunan temperatur, misalnya yang didiskusikan oleh Oppenheimer (2002) dan Robock dkk. (2009).

Parbakalan, Sidikalang, lembah terbuka sejajar (strike valley) Sesar Sumatra. Foto: Margaretha Purwaningsih

Kemungkinan terjadinya penciutan populasi manusia akibat erupsi mega-kolosal Toba pertama kali dikemukakan oleh Gibbons (1993). Pendapat ini kemudian segera disokong oleh Rampino dan Self (1993). Teori bottleneck ini kemudian dikembangkan oleh Ambrose (1998) dan Rampino dan Ambrose (2000). Menurut para pendukung teori genetic bottleneck, antara 50.000-100.000 tyl, populasi manusia mengalami penurunan yang sangat drastis, dari sekitar 100.000 individu menjadi sekitar 10.000 individu (Gibbons, 1993; Ambrose, 1998). Bukti-bukti genetik juga menunjukkan bahwa semua manusia yang hidup sekarang, meskipun sangat bervariasi, diturunkan dari populasi yang sangat kecil antara 1000-10.000 pasangan sekitar 70.000 tyl.

Setelah genetic bottleneck dan pemulihan kembali, diiferensiasi ras populasi manusia terjadi dengan cepat. Oleh karenanya, diajukan pendapat bahwa Toba telah menyebabkan ras-ras modern berdiferensiasi secara mendadak hanya sekitar 70.000 tahun yang lalu, daripada secara berangsur selama satu juta tahun.

Terjadinya musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera karena letusan Toba dapat menjawab suatu paradoks tentang asal Afrika buat manusia, yaitu: bila kita semua berasal dari Afrika (Out of Africa) mengapa kita semuanya tidak mirip orang Afrika? Karena musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera telah mengurangi populasi sampai tingkat cukup rendah untuk meneruskan efek nenek moyang, lalu terjadi aliran genetik dan adaptasi lokal menghasilkan perubahan cepat pada populasi yang selamat, yang menyebabkan manusia-manusia di seluruh dunia terlihat begitu berbeda. Dengan kata lain, Toba telah menyebabkan ras modern manusia terdiferensiasi secara mendadak (Ambrose, 1998).

Demikian, beberapa aspek tentang Toba, tentang sejarah geologi, tektonik dan erupsi katastrofiknya pada 74.000 tahun yang lalu, tentang efeknya bagi iklim dunia dan akibatnya atas katastrofi biologi berupa penciutan jumlah manusia. Mengunjungi tempat-tempat dengan fenomena geo-histori di Indonesia yang menarik sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang tempat tersebut, yang mungkin sebelumnya tidak diketahui dengan baik. Hal ini akan makin membuat kita takjub atas warisan geo-histori Indonesia, sehingga kita dapat lebih mencintainya.

Penulis adalah spesialis utama di SKMIGAS dan penggiat komunitas “Geotrek Indonesia”.

Ulos Batak Naik Martabat Dalam Rancangan Designer

Rampak suara gondang Batak memecah keriuhan di Sopo Partukkoan, Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Rabu (17/10/2018). Diiringi melodi seruling, opung-opung dan oma-oma perajin ulos Batak berjalan menyusuri landas peraga dengan kain menjuntai di bahu.

 

Di belakang mereka, 18 model berjalan anggun menampilkan rancangan busana Edward Hutabarat. Malam itu, ulos Batak benar-benar naik martabat.

 

Opung-opung dan oma-oma perajin ulos Batak keliling menyusuri catwalk dengan kain menjuntai di bahu dalam pergelaran busana ”Ulos Batak in Innovation” yang merupakan rangkaian Festival Tenun Nusantara, Oktober lalu, di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

 

Awalnya, ratusan perajin yang sudah tak muda lagi itu tampak malu dan minder saat diminta berkeliling panggung. Untuk meyakinkan, sang perancang busana pun mengumpulkan mereka di tengah-tengah gedung.

Di depan mereka, Edo—panggilan akrab Edward Hutabarat— bersujud dan memutar badan 360 derajat. Dengan menggunakan bahasa Batak yang halus, Edo berkata, ”Bapak ibu seperti orangtua saya, terima kasih sudah hadir untuk peragaan ini.”

 

Opung-opung dan oma-oma itu sangat terharu mendengarnya. Mata mereka terlihat berkaca-kaca. Tanpa ragu-ragu, mereka langsung mengeluarkan ulos- ulos istimewa, koleksi-koleksi terbaik, juga ulos-ulos tertua warisan nenek moyang.

 

Untuk mengungkapkan rasa hormatnya, Edo turut serta manortor atau menari tortor bersama 120 opung-opung dan oma- oma itu. Sesuai tata krama Batak, kepada mereka, satu per satu Edo menyelipkan amplop kecil berisi uang untuk membeli sirih dan pinang.

 

Setelah opung-opung dan omah-oma berjalan menyusuri landas peraga selayaknya model, di ujung landasan, Edo yang juga putra daerah Tapanuli Utara itu menyambut mereka satu per satu, menyalami, dan memeluk mereka.

 

Akar budaya

 

Sesuai tema peragaan busana, ”Ulos Batak in Innovation”, Edo sukses melahirkan sentuhan baru pada kain-kain peninggalan leluhur Tapanuli Utara itu. Dalam mengulas ulos, Edo dengan cermat belajar dari akar leluhurnya.

 

Dalam berinovasi dengan ulos, Edo tetap mempertahankan kesantunan dan keanggunan ulos. Untuk busana pria, ia memakai ulos sibolang yang dimiliki hampir setiap keluarga suku Batak dalam aktivitas sehari-hari. Juga ulos suri-suri atau sisir yang memiliki pola-pola garis lurus.

 

Ia juga memanfaatkan ulos bintang maratur yang biasa diberikan saat momen kelahiran bayi, juga ulos tum-tuman yang cukup tinggi derajatnya dalam prosesi adat karena hanya boleh dipakai oleh ketua adat atau orang yang dituakan.

 

Yang terakhir, ulos harungguan yang paling istimewa dari sisi pembuatannya. Ulos harungguan adalah ulos yang di dalamnya ada semua motif ikat ulos. Ulos dari Desa Hutanagodang, Kecamatan Muara, di tepi Danau Toba ini memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam proses pembuatannya.

 

”Saat prosesi adat, ulos harungguan diberikan untuk terwujudnya harapan yang tinggi, seperti perdamaian dua kampung, kelahiran, juga untuk anak yang hendak pergi merantau. Ada harapan yang tinggi ketika ulos ini diserahkan,” ujar Edo.

 

Edo lahir di keluarga yang melakukan ritual-ritual itu secara kental, lengkap dengan semua jenis ulos. Jadi, ia tahu persis kegunaan ulos. Ia menyebut ulos sebagai kain peradaban karena dipakai untuk melengkapi rangkaian seremoni kehidupan yang berhubungan dengan leluhur dan Sang Pencipta. Karena itulah, ulos tak pernah lepas dari prosesi-prosesi adat yang agung.

 

Berbekal pengalaman 20 tahun keliling Indonesia, Edo tak lupa memadukan ulos dengan kerajinan-kerajinan Nusantara lainnya yang ternyata juga merupakan hasil karya dari tangan- tangan renta. Ia mengombinasikan ulos dengan kain lurik buatan Pedan, Klaten, serta kain lurik Yogyakarta. Untuk mempercantik penampilan, ia juga mengangkat topi-topi pandan buatan Singaraja, Bali.

 

Untuk aksesori, Edo sengaja mengambil mutiara-mutiara pilihan dari Lombok juga sepatu kulit dari Magetan. Benar-benar perpaduan budaya Indonesia.

 

”Harga topi itu hanya Rp 50.000, demikian pula lurik Rp 50.000. Namun, semuanya dibuat dengan kualitas baik. Ada tangan-tangan renta di situ yang membuat topi, lurik, dan ulos, sebuah kesatuan untuk Indonesia. Yang saya tampilkan kemarin adalah peragaan yang siap disuguhkan di Paris, Milan, dan sebagainya. Kalau kita bisa meracik kekayaan Nusantara, kita bisa menggemparkan dunia,” kata Edo.

 

Aset langka

 

Ia meyakini, tangan-tangan renta ini adalah aset bangsa yang luar biasa. Dari merekalah peradaban bangsa ini masih bertahan. Tanpa mereka, tak akan ada topi pandan yang indah, lurik halus, dan ulos lembut untuk diwariskan ke anak-anak muda sekarang.

 

Sayangnya, tidak ada universitas atau perguruan tinggi yang mengajarkan keterampilan membuat karya-karya itu. Karena itu, Edo tanpa ragu-ragu mengajak opung-opung dan oma-oma itu ke atas panggung peragaan busana. Merekalah yang mempertahankan kejayaan tradisi Tapanuli Utara, Klaten, Jambi, Palembang, dan sekitarnya.

 

Jika diibaratkan sebagai perjamuan makanan, yang dihidangkan Edo di Sopo Partukkoan, Tarutung, adalah makanan utama ulos Batak, makanan pembuka topi dari Singaraja, serta kain lurik Pedan dan Yogyakarta sebagai hidangan penutupnya. Di situlah ia memberikan penghormatan kepada perajin-perajin bersahaja Nusantara.

 

Dari Sabang sampai Merauke, Edo membuktikan keindahan harmoni Nusantara. Dalam peragaan ini, ia baru mengupas tiga daerah. Masih banyak kekayaan Indonesia lainnya yang bisa digali. ”Pemerintah harus memberikan penghargaan khusus kepada mereka, terutama bagaimana menyalurkan jiwa kepiawaian tangan-tangan renta ini ke anak- anak muda karena keterampilan ini tak ada sekolahnya,” ujar penerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan tahun 2004 ini.

 

Terpesona dengan keunikan ulos, kolektor kain Vilidius RP Siburian selama bertahun-tahun setia mengumpulkan aneka macam ulos Batak. Puluhan kain ulos koleksinya turut memeriahkan Pameran Tenun Nusantara. Pameran ini digelar dalam rangkaian Festival Tenun Nusantara di Tapanuli Utara pada 13-17 Oktober 2018 kerja sama Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara.

 

Pameran itu menampilkan kain ulos tertua milik Vilidius, sebuah ulos Runjat khas Batak Toba berumur sekitar 150 tahun. Ulos Runjat merupakan ulos khas daerah Porsea dan sekitarnya yang pada zaman dahulu menjadi penunjuk status sosial seseorang. Dulu, kain ini dimanfaatkan sebagai sarung atau selendang oleh kalangan kaum bangsawan Batak Toba.

Sejumlah model menampilkan baju-baju, topi, dan tas karya Edward Hutabarat yang dikreasi dari bahan dasar kain ulos dan tenun, Rabu (17/10/2018) di Sopo Partukkoan, Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Seiring perkembangan zaman, kini banyak motif tenun tua Batak yang nyaris hilang karena tak pernah dibuat lagi oleh petenun. Karena tergoda membuat kreasi- kreasi baru, banyak petenun yang cenderung memilih membuat tenun dengan benang-benang pabrikan berwarna cerah mencolok.

 

Menurut Vilidius, pewarisan makna-makna tenun yang begitu dalam dan bermacam-macam sangat penting agar motif-motif tenun lama Batak bisa tetap dipertahankan. Dengan memahami makna dan proses panjang di baliknya, banyak penikmat tenun akan tertarik membeli atau mengoleksi tenun-tenun itu.

 

Ketua Perkumpulan Wastra Indonesia Bhimanto Suwastoyo menambahkan, saat ini petenun memiliki tantangan riil, yaitu desakan kebutuhan ekonomi. Mereka kini dituntut untuk lebih cepat memproduksi dan kemudian segera menjual tenun-tenunnya kepada tauke atau pengepul.

 

Kesaksian Edo, Vilidius, dan Bhimanto memberi pesan bahwa kekuatan tangan-tangan renta dari Sabang sampai Merauke itu jika diolah dengan baik akan menjadi kekayaan luar biasa. Meminjam istilah Edo, bahkan lebih dahsyat dari nuklir sekalipun.

 

SUMBER:

Tangan Renta Terhormat

https://kompas.id

ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Tour Medan Golf Package

Paket Tour Medan Golf Package. 

 

Anda ingin liburan ke Medan sambil bermain Golf?

 

Tentu Medan adalah tempat yang tepat untuk menyalurkan hobby anda tersebut.

 

Selain objek wisata danau toba yang cukup terkenal,  Kota Medan   memiliki lapangan golf yang tak kalah bagusnya dengan kota-kota lain di Indonesia.

 

Terdapat dua lokasi sarana permainan Golf yang cukup terkenal yaitu Martabe Sejahtera Golf Resort dan Royal Sumatera.

Martabe Sejahtera Golf Resort Medan

paket tour medan golfMartabe Sejahtera Golf Resort adalah padang golf 18-hole yang didesain oleh Greg Norman dimana ide desainnya didasarkan kepada sebuah impian yaitu lapangan golf yang asri dan menyatu dengan alam sekitarnya, sebuah lapangan golf yang lebih kelihatan sebagai ciptaan alam itu sendiri daripada buatan tangan manusia.

 

Bagian terpenting sekaligus merupakan keunikan dari lapangan golf Martabe Sejahtera adalah bergaya asli lahan itu sendiri dan keindahan lingkungan alami yang akan dipelihara dan dipertahankan hingga saat ini.

Royal Sumatera Golf and Country Club

Paket tour medan golfRoyal Sumatera Golf and Country Club beralamat di Letjend Jamin Ginting Km 8,6 Medan.

 

Tidak jauh dari pusat kota inti menjadikan Royal Sumatera kerap dijadikan sebagai lokasi turnamen golf baik bertaraf nasional maupun internasional.

 

Lapangan golf seluas 84 hektar ini terdiri dari 18 hole. Bagi para golfer menaklukkan 3 fairway merupakan tantangan yang tentunya harus ditaklukkan.

 

Namun tidak hanya sampai disitu saja karena 15 hole yang ada anda dituntut untuk melewati water hazard.

 

Selain itu, Royal Sumatera memiliki fasilitas yang up to date seperti club house, buggy car, jogging track dengan konsep terbuka yang menyatu bersama keasrian alam Sumatera Utara.

 

Royal Sumatera sebenarnya merupakan salah satu hunian modern di kota Medan yang memadukan konsep keseimbangan antara lingkungan, fasilitas public dan pemukiman untuk mencapai tujuan akhir sebagai kota mandiri.

 

Royal Sumatera akan dikembangkan secara terus menerus.

Daftar Lapangan Golf Di Sekitar Kota Medan Sumatera Utara

Martabe Sejahtera Golf Club

Jl. Let. Jend. Djamin Ginting Km. 22

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

 

Mitra Sauordot Abadi Driving Range

Jl. Perhubungan Udara

Medan, Sumatera Utara, Indonesia, 20157

 

Pamela Golf Club

Jl. Gunung Pamela Tebing Tinggi, Deli Serdang

Medan, Sumatera Utara, Indonesia, 20623

 

Royal Sumatra Golf & Country Club

Jl. Let. Jend. Jamin Ginting Km. 8,5

Medan, Sumatera Utara, Indonesia, 20155

 

Setiabudi Country Club

Komp. Taman Setiabudi Indah Bl SS

Medan, Sumatera Utara, Indonesia, 20132

Tamora Golf Club

PTP Nusantara II Tanjung Morawa

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

 

Tanee Golf Club

Jl. Dewa Ruci No. 48

Medan, Sumatera Utara, Indonesia, 20112

 

Tanera Golf Club

PTP Nusantara IV Bahjambi Pematang Siantar

Medan, Sumatera Utara, Indonesia, 21151

 

 

23 Kopi Indonesia Menang Penghargaan di Paris

Kopi asal Indonesia telah memenangkan penghargaan AVPA Gourmet Product di pameran SIAL Paris, Perancis, pada Selasa (23/10/2018).

 

AVPA atau Agency for the Valorization of the Agricultural Products merupakan organisasi Perancis yang bertujuan membantu para produsen produk pertanian dari seluruh dunia untuk memasarkan produk mereka di pasar Eropa.

 

Setiap tahunnya AVPA mengadakan kompetisi “Coffee roasted in their country of origin” untuk membantu pemasaran roasted coffee negara produsen di Eropa.

 

Tahun ini kompetisi tersebut diikuti lebih dari 170 produsen kopi dari seluruh dunia.

 

Sebanyak 11 produsen diantaranya yang mewakili 23 kopi Indonesia dan memenangkan penghargaan tersebut.

 

Penghargaan Gourmet ini dibagi menjadi empat kategori yakni Gold Gourmet, Silver Gourmet, Bronze Gourmet dan Simple Gourmet. Presiden juri dan ahli organoleptik AVPA, Andre Rocher mengatakan bahwa dirinya terkejut dengan kualitas kopi Indonesia yang sangat bervariasi.

 

Selain itu menurut juri Serge Edmond mengatakan bahwa Indonesia termasuk negara memiliki kualitas roasting yang baik. 23 Kopi Indonesia mendapatkan penghargaan AVPA Gourmet Product di pameran SIAL Paris, Perancis, Selasa (23/10/2018). (DOK. AVPA)

 

“Untuk mengembangkan kopi Indonesia di Eropa, produsen dan roastery di Indonesia harus lebih kompak lagi menunjukkan kopi Indonesia di Eropa, sehingga tidak kalah dengan negara-negara Amerika latin dan Amerika Tengah yang selalu kompak bersama,“ kata Indonesian Country Manager AVPA France, Annelis Putri dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTravel, Rabu (24/10/2018).

 

Ia mengatakan banyak partisipan yang terkejut melihat daftar pemenang dari Indonesia yang jumlahnya cukup banyak. Selain Indonesia, yang juga mendapatkan penghargaan terbanyak adalah Kolombia dengan 25 penghargaan dari 14 produsen kopi.

 

Sementara negara lainnya yang ikut dalam kompetisi ini diantaranya dari Brazil, Kamerun, Kongo, US (Hawaii), Gabon, El Salvador, Honduras, Kenya, Laos, Meksiko, Peru, Puerto Rico, Tanzania, Togo, dan lainnya.

 

Berikut merupakan daftar produsen, roastery dan petani dari Indonesia yang mendapatkan penghargaan Gourmet Product Paris 2018.

1. AEKI koperasi koerintji – Bronze Gourmet

2. AEKI Garut Dr. Arffi – Bronze Gourmet

3. AEKI Kintamani – Simple Gourmet

4. AEKI D’Lampung – Bronze Gourmet

5. AEKI Temanggung Farmer Deddy – Bronze Gourmet

6. AEKI Toraja Sulotco – Silver Gourmet

7. Anomali Coffee Gunung Halu – Silver Gourmet

8. Arabica Van Cidaweung – Simple Gourmet

9. Cimbang Sinabung – Simple Gourmet

10. Gayodi – Simple Gourmet

11. Javanero Pasundan Natural – Simple Gourmet

12. Javanero Pasundan – Simple Gourmet

13. Javanero Papandayan – Simple Gourmet

14. Kopiku Tanah Air Kita, Papaku Manggarai – Gold Gourmet

15. Kopiku Tanah Air Kita, Gembala Baik – Bronze Gourmet

16. Le Plein d’Sens Kopi Luwak France – Gold Gourmet

17. Locarasa, Yogyakarta Volcanic Merapi – Simple Gourmet

18. Mangani Bali, Sweet Honeydew – Gold Gourmet

19. Onepus Takengon – Bronze Gourmet

20. Robusta Van Catangmalang Winey – Silver Gourmet

21. Robusta Van Catangmalang Ciragi – Bronze Gourmet

22. Tanamera Flores Honey – Silver Gourmet

23. Tanamera Bali Umejero – Silver Gourmet

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “23 Kopi Indonesia Menang Penghargaan di Paris”, https://travel.kompas.com/read/2018/10/25/065000027/23-kopi-indonesia-menang-penghargaan-di-paris.

Penulis : Anggita Muslimah Maulidya Prahara Senja

Editor : Wahyu Adityo Prodjo

 

 

 

23 Kopi Indonesia Menang Penghargaan di Paris

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “23 Kopi Indonesia Menang Penghargaan di Paris”, https://travel.kompas.com/read/2018/10/25/065000027/23-kopi-indonesia-menang-penghargaan-di-paris.
Penulis : Anggita Muslimah Maulidya Prahara Senja
Editor : Wahyu Adityo Prodjo

Indonesia Masuk 10 Destinasi Terbaik 2019 Versi Lonely Plan

Lonely Planet yang merupakan buku panduan perjalanan dan penerbit media digital terbesar di dunia memasukkan Indonesia dalam 10 negara terbaik untuk dikunjungi tahun 2019. Indonesia berada di peringkat tujuh dunia.

Perusahaan yang dimiliki BBC Worldwide yang membeli 75 persen saham dari pendirinya, Maureen dan Tony Wheeler tahun 2007 dan 25 persen sisanya Februari 2011 menerbitkan daftar 10 negara terbaik untuk dikunjungi tahun 2019 yang direkomendasikan Lonely Planet. Daftar diterbitkan dalam buku Best In Travel 2019. Sampul buku Best in Travel 2019 bergambar Pura Ulun Danu di Bali.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai rekomendasi dari Lonely Planet sangat penting. Karena rekomendasi ini membantu Indonesia mencapai target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2019.

Referensi ini jelas tidak main-main. Karena, keran wisatawan mancanegara ke Indonesia semakin deras mengalir. Alasannya jelas. Lonely Planet adalah panduan bagi wisatawan mancanegara, ujarnya.

Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masuk daftar. Tidak ada nama Thailand atau Malaysia yang selama ini menjadi pesaing. Hal ini tentu membuat bangga.

Ada sejumlah alasan para ahli Lonely Planet memasukkan Indonesia dalam daftar top 10. Kekayaan alam dan budaya Indonesia menjadi alasan pertama. Kekayaan membentang dari Sabang sampai Merauke.

“Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau yang terdiri atas beragam budaya, kuliner, dan agama. Semua membentang antar pulau, menawarkan segudang pengalaman,” tulis Lonely Planet dalam buku itu.

Di satu sisi, Lonely Planet juga menuliskan kondisi terakhir Indonesia yang sempat terkena musibah gempa. Namun, mereka menulis bahwa Indonesia adalah negara yang aman untuk dikunjungi.

“Gempa baru-baru ini terjadi di beberapa bagian Indonesia yang berada di lintasan Ring of Fire. Respons atas bencana alam masih dilakukan, tapi negara ini tetap aman bagi wisatawan,” ujar Lonely Planet.

Tidak hanya kondisi Indonesia yang disorot. Kebijakan Pemerintah Indonesia memberikan akses bebas visa kunjungan (BVK) untuk 169 negara di dunia, juga dipuji.

“Akses bebas visa untuk 169 negara. Tidak pernah lebih mudah untuk berkunjung ke negara tropis ini,” tulis Lonely Planet.

Lonely Planet juga mengimbau semua orang untuk segera liburan ke Indonesia. “Pergilah sekarang ke Indonesia, sebelum semua rahasianya terekspos!” saran Lonely Planet.

Dalam daftar itu, Sri Lanka menempati peringkat pertama. Diikuti Jerman dan Zimbabwe di posisi dua dan tiga. Sedangkan peringkat empat, lima dan enam berturut-turut diduduki oleh Panama, Kyrgyzstan, dan Yordania. Indonesia berada di peringkat tujuh, di atas Belarusia, Sao Tome and Principe, dan Belize yang dipilih diperingkat delapan, sembilan dan 10.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai rekomendasi dari Lonely Planet sangat penting, karena rekomendasi ini bisa turut membantu Indonesia mencapai target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara tahun 2019. Selain itu, penilaian positif ini bisa mempengaruhi faktor 3C, confidence, credibility, dan calibration.

Confidence. Award akan menaikkan tingkat kepercayaan (confidence level) kita. Credibility, jika dikomunikasikan dengan baik, award yang kita peroleh dapat menjadi cara marketing yang paling efektif untuk citra,” ucapnya.

Sementara dari sisi Calibration, Arief mengatakan, penghargaan juga bermanfaat untuk mengetahui dan mengukur posisi Indonesia dibandingkan dengan yang lain. Bagi Menpar, memenangkan award akan membuat institusi semakin dikenal dan membuka peluang untuk mendapatkan kesempatan di masa mendatang. Sebab semua pihak akan cenderung memilih para pemenang untuk menjadi mitra, pemasok, atau produsennya dibandingkan dengan yang lainnya.

 

 

Sumber : https://www.msn.com/id-id/travel

List of Ports in North Sumatra

The port is a facility at the end of the ocean, river, or lake to receive ships and move cargo and passenger goods into it.

Ports usually have tools specifically designed to load and unload ships docked. In addition the port also functions for the passenger lane in and out of a city and region.

Thus the port is also a gateway to enter a particular area and as a connecting infrastructure between regions, between islands, and even between countries.

North Sumatra region where the location of Lake Toba is located has several ports which are the gateway to enter the North Sumatra region and also to reach Lake Toba.

Tourists who want to visit Lake Toba for a vacation can choose the port in North Sumatra to reach its destination according to the direction of arrival.

Here are some of the ports in the list of ports in North Sumatra:

1. Belawan Port
The port of Belawan is the most crowded port in North Sumatra for both freight and passenger transportation. The port in the city of Medan is the gateway to the city of Medan via the sea route. the capacity of this port can accommodate large size vessels. From this port there is a cruise ship that has a route to Tanjung Priuk to East Indonesia. In addition, this port is also visited by cruise ships carrying foreign tourists.

Location.

2. Kuala Tanjung Port
Kuala Tanjung Port is an international port that is currently being developed by the Indonesian government and will become an international shipping hub in western Indonesia. This port will also serve the arrival of cruise ships that sail to bring foreign tourists who want to travel to the Lake Toba Region. Some cruise ships that have docked at this port are SuperStar Libra and Star Cruise.

Location.

3. Tanjung Balai Port
This port in the eastern coast of North Sumatra is one of the tourists’ gateways that will visit the North Sumatra region who want to come via sea travel by ship. Generally, tourists passing through this route are tourists who come from Malaysia and Singapore. If the Lintas Sumatra toll road to be built is already connected, it will make it easier for tourists to reach the Lake Toba area that landed at Tanjung Balai harbor.

Location.

4. Sibolga Port.
Sibolga Port is a port in the western part of North Sumatra. This port is very strategic because it is the gateway to get to Nias Island which is a world-class tourist destination with a huge sea wave making surfing activities here are well known to foreign countries. In addition to Nias Island, Sibolga is also a gateway for tourists who take a boat from Padang Harbor in West Sumatra. From Sibolga, you can also cruise to the northern tip of Sumatra Island to reach Banda Aceh or We Island.

Location.

5. Gunung Sitoli Harbor
Gunung Sitoli Port is the gateway to Nias Island. Nias Island is one of the islands in the western part of North Sumatra, Nias Island has many famous tourism objects to foreign countries, especially marine tourism. In addition to flights, the access point to Nias Island is by sea via the port of Sibolga.

Location.

Those are some ports from the list of ports in North Sumatra.

Daftar Alamat SPBU di Sumatera Utara

spbu

Untuk mengetahui lokasi-lokasi SPBU di Sumatera Utara, silahkan lihat dibawah ini.

SPBU di Kota Medan

SPBU 14.20111.51, Jl. Raya Medan Tenggara, Medan Denai
SPBU 14.20111.52, Jl. Karya Wisata Medan
SPBU 14.2011.23, Jl. Gatot Subroto Medan
SPBU 14.2011.86, Jl. Jend Gatot Subroto
SPBU 14.20211.37, Jl. KL. Yos Sudarso Medan
SPBU 14.20111.40, Jl. Platina Raya Titi Papan
SPBU 14.20111.50, Jl. Kasuari, Sei Sikambing B
SPBU 14.2011.21, Jl. Sempakata Simpang Pemd
SPBU 14.2122.74, Jl. Jl Besar Medan – Kisaran, Sei Bale, Kab Asahan
SPBU 14.2112.70, Jl. Jl P Siantar-Perdagangan, Kerasaan, Kab Simalungun
SPBU 14.20111.34, Jl. Setia Budi, Selayang
SPBU 14.20111.21, Jl. Jl. Outer Ringroad Lingkar Luar Barat, Tanjung Sari
SPBU 14.2011.06, Jl. Karya Jasa
SPBU 14.20111.02, Jl. Klambir Lima No. 131 (Simpang Gaperta Ujung)
SPBU 14.20111.08, Jl. Sei Batang Hari No. 61
SPBU 14.2011.47, Jl. Tritura, Medan Johor
SPBU 11.2011.02, Jl. Putri Merak Jingga No.1 (Belakang Restoran Merak Jingga)
SPBU 14.2031.99, Jl. Jamin Ginting KM. 8,5, Mangga-Medan Tuntungan (Sebelum Hotel Alam Indah)
SPBU 14.20211.19, Jl. Jl Sutomo Ujung No.6 kec Medan Timur
SPBU 14.20111.10, Jl. Gaperta No. 285
SPBU 14.20111.26, Jl. Brigjen Katamso
SPBU 14.20211.22, Jl. Pancing Martubung
SPBU 14.20411.20, Jl. Belawan, Kampung Salam
SPBU 14.20211.28, Jl. Krakatau Simpang Metal
SPBU 14.20211.33, Jl. Letda Sujono
SPBU 14.20211.41, Jl. Marelan Raya Pasar III
SPBU 14.2021.26, Jl. Sisingamangaraja No 45

SPBU di Kota Medan Deli Serdang

SPBU 14.20311.31, Jl. Manggan, KIM I
SPBU 14.20311.32, Jl. Raya Ds.Cinta Rakyat
SPBU 14.20511.35, Jl. Raya Pantai Labu
SPBU 14.20311.49, Jl. Perhubungan, Lau Dendang
SPBU 14.2031.58, Jl. Binjai Km. 12,5
SPBU 14.20511.11, Jl. Raya Medan-T. Tinggi Ds. Pagar Jati
SPBU 14.20311.16, Jl. Medan-Binjai Km. 11,5
SPBU 14.20311.17, Jl. Binjai Sei Semayang
SPBU 14.2031.76, Jl. Jl. Binjai Km. 10,3
SPBU 14.20311.43, Jl. Besar Tanjung Anom-Deli Serdang
SPBU 14.20311.46, Jl. Medan-L. Pakam

Kota : Langkat

SPBU 14.2081.91, Jl. Tanjung Pura. Ds Palu Manis, Kec Gebang Langkat
SPBU 14.2081.52, Jl. Sudirman, Ds Perdamean Stabat
SPBU 14.2081.67, Jl. Medan Tanjung Pura Km 57

Kota : Kab. Serdang Bedagai

SPBU 14.2051.56, Jl. Medan-T. Tinggi, Pasar Bengkel

Kota : Kab. Serdang Bedagai

SPBU 14.20611.07, Jl. Medan Tebing Tinggi KM.71

Kota : Tebing Tinggi

SPBU 14.20611.24, Jl. H. M. Yamin, Tebing Tinggi

Kota : Binjai

SPBU 14.2071.69, Jl. T. Amir Hamzah, Tandem Hulu

Kota : Pematang Siantar

SPBU 14.2112.05, Jl. Ahmad Yani

Kota : Kab. Simalungun

SPBU 14.2112.14, Jl. SM. Raja, Parapat
SPBU 14.2112.75, Jl. Siantar – T. Tinggi KM.8, Sinaksak
SPBU 14.2112.08, Jl. Asahan KM.17,Ds.Bangun – Simalungun

Kota : Kab. Asahan

SPBU 14.2122.68, Jl. Lintas Sumatera, Hessa.Simp.Kawat
SPBU 14.2122.79, Jl. Lintas Sumatera, Teluk Dalam

Kota : Kab. Batubara

SPBU 14.2122.16, Jl. Lintas Sumatera, Petatal
SPBU 14.2122.58, Jl. Lintas Sumatera, Siparepare Indrapura
SPBU 14.2122.83, Jl. Lintas Sumatera, Ds. Sumber Padi – Kab. Batubara

Kota : Tanjung Balai

SPBU 14.2132.76, Jl. Kapias Tj. Balai

Kota : Kab. Toba Samosir

SPBU 14.2233.05, Jl. Patuan Nagari No.99

Kota : Kab. Tapanuli Tengah

SPBU 14.2253.24, Jl. Sibolga Sidimpuan KM.8.5
SPBU 14.2263.42, Jl. Padang Sidempuan Km.20 Ds.Lopian

Kota : Kab. Padang Lawas

SPBU 14.2273.39, Jl. Rantau Prapat-Gunung Tua, Ds. Halongonan

Kota : Kab. Nias

SPBU 14.2283.34, Jl. Diponegoro KM.5 Ds.Sihero
SPBU 14.2283.36, Jl. Diponegoro KM.5,7 Ds.Miga

Kota : Kab. Nias Selatan

SPBU 14.2283.41, Jl. Diponegoro,Teluk Dalam

Kota : Labuhan Batu

SPBU 14.2142.26, Jl. Lintas Sumatera, Blok Songo
SPBU 14.2142.35, Jl. Perdamaian. Sigambal
SPBU 14.2142.63, Jl. Lintas Sumatera, Torgamba
SPBU 14.2142.80, Jl. SM. Raja, Ds. Simpang Mangga – Rantau Prapat

Kota : Padang Sidempuan

SPBU 14.2273.12, Jl. P. Sidempuan-Penyabungan, Manunggang

Tags: Lokasi SPBU, Sumatera Utara

Daftar SPBU Di Kota Medan

Daftar alamat SPBU di kota Medan

 

SPBU 11.2011.02

Jl. Putri Merak Jingga No. 1

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.06

Jl. Karya Jasa

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.02

Jl. Klambir Lima No. 131

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.08

Jl. Sei Batang Hari No. 61

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.10

Jl. Gaperta No. 285

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.21

Jl. Outer Ringroad Lingkar Luar Barat

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.26

Jl. Brigjen Katamso
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.34

Jl. Setia Budi
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.40

Jl. Platina Raya Titi Papan
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.50

Jl. Kasuari
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.51

Jl. Raya Medan Tenggara
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.52

Jl. Karya Wisata Medan
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.21

Jl. Sempakata Simpang Pemda
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.23

Jl. Gatot Subroto Medan
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.47

Jl. Tritura
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.86

Jl. Jend Gatot Subroto
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.19

Jl. Sutomo Ujung No. 6 kec Medan Timur

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.22

Jl. Pancing Martubung

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.28

Jl. Krakatau Simpang Metal

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.33

Jl. Letda Sujono

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.37

Jl. KL. Yos Sudarso Medan

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.41

Jl. Marelan Raya Pasar III

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2021.26

Jl. Sisingamangaraja No 45

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2031.99

Jl. Jamin Ginting KM. 8

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20411.20

Jl. Belawan

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2112.70

Jl. P Siantar-Perdagangan

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2122.74

Jl. Besar Medan – Kisaran
Medan, Sumatera Utara, Indonesia