Pembangunan Jalan Lingkar Danau Toba Diambil Alih Pusat

Jalan Lingkar Danau Toba

Salah satu dari 10 destinasi wisata prioritas yang akan dikembangkan adalah kawasan Danau Toba, Pulau Samosir, dan sekitarnya.

 

Ditetapkannya kawasan wisata di Sumatera Utara itu sebagai destinasi wisata prioritas adalah demi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara menjadi 1 juta orang pada tahun 2019.

 

Mengutip situs Kementerian Pariwisata, turis asing yang ditargetkan berasal dari Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, Eropa (Belanda dan Perancis), Australia, dan Amerika Serikat. Sementara turis domestik yang dibidik adalah dari Pulau Jawa dan Sumatera.

 

Mereka diharapkan berkunjung ke kawasan-kawasan Danau Toba, Parapat, Pulau Samosir, Tomok, Tuk-Tuk, Ambarita, Simanindo, dan Panguruan.

 

Kesuksesan rencana besar tersebut hanya bisa diwujudkan dengan dukungan pembangunan Jalan tol Tebing Tinggi-Pematang Siantar, dan penyediaan fasilitas wisata baru macam geopark, wisata olahraga air, dan hiburan.

 

Selain itu, diperlukan juga pendirian badan pengelola yang memiliki kewenangan hukum dalam mengembangkan kawasan.

 

Khusus pengembangan akses jalan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) murni.

 

Untuk akses Danau Toba dan Pulau Samosir serta 9 destinasi wisata prioritas lainnya sepanjang 500 kilometer, membutuhkan dana sekitar Rp 400 miliar per tahun.

 

“Kalau 100 kilometer dikali Rp 4 miliar, jadi pemerintah harus punya Rp 400 miliar setiap tahun untuk kawasan wisata,” ujar Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Hediyanto Husaini kepada Kompas.com, Selasa (1/3/2016).

 

Advertisment Kementerian PUPR, kata Hediyanto, berencana membangun dan meningkatkan akses jalan ke kawasan wisata tersebut. Mulai dari membangun Jalan Lingkar Danau Toba di Pulau Samosir, hingga memperbarui dan melakukan peningkatan jalan.

 

“Saya baru mau ke Danau Toba, mau lihat apa yang harus dibangun di Danau Toba, Pulau Samosir. Ini jalan wisata, saya harus lihat jalan kabupatennya juga, jadi pemerintah pusat membangun wisatanya di mana,” ucap Hediyanto.

 

Biasanya, kata Hediyanto, obyek wisata dapat diakses melalui jalan kabupaten yang dibiayai pemerintah daerah, bukan jalan nasional yang dibiayai pemerintah pusat.

 

Namun, karena telah ditetapkan menjadi destinasi wisata strategis, pemerintah pusat akan mengambil alih pembangunan jalan tersebut menjadi jalan nasional. Balai Besar Pengembangan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah-I Sumatera Utara, sendiri sudah mengajukan daftar usulan paket kegiatan untuk tahun jamak (multi years) 2016-2019.

 

Tahap pertama biayanya mencapai Rp 20 miliar lebih dan selanjutnya diperhitungkan Rp 51,5 miliar hingga Rp 97 miliar setiap tahunnya, hingga 2019 nanti. Berikut video rencana pembangunan Jalan Lingkar Danau Toba di Pulau Samosir:

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Pembangunan Jalan Lingkar Danau Toba Diambil Alih Pusat”, https://properti.kompas.com/read/2016/03/02/135024221/Pembangunan.Jalan.Lingkar.Danau.Toba.Diambil.Alih.Pusat.

Penulis : Hilda B Alexander

Toilet Canggih Rp 3,3 Miliar di Danau Toba Siap Digunakan

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merampungkan pembangunan toilet canggih di kawasan Wisata Tele, Danau Toba, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Toilet seharga Rp 3,3 miliar ini dibangun dalam rangka mendukung Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional sekaligus memenuhi kelengkapan kriteria penilaian UNESCO sebagai anggota Global Geopark Network. Disebut canggih, lantaran toilet ini dilengkapi dengan teknologi Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) hasil ciptaan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR. Penerapannya termasuk replikasi perdana sekaligus untuk membuktikan bahwa teknologi yang telah dibuat dapat digunakan oleh pihak lain. “Balitbang di sini melelangkan sendiri. Mulai dari perencanaan sampai pengawasan juga, itu kontraktor dilelang. Dengan ini kita bisa menyatakan bahwa teknologi kita bisa dikerjakan oleh pihak lain,” kata Kepala Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi Kementerian PUPR Rezeki Peranginangin, saat peresmian di lokasi, Jumat (23/3/2018). Teknologi ini diinstal selama 189 hari oleh PT Duta Cahaya Deli di atas lahan seluas 1.228 meter persegi, untuk IPA yang digunakan untuk pengelolaan air bersih dilengkapi menara aerasi, sementara pengolahan air minum dilengkapi dengan teknologi reverse osmosis. Adapun untuk sistem IPAL menggunakan teknologi biofil dan kolam sanita. Bangunan dan seluruh perlengkapannya dibangun dengan sistem rancang bangun (design and build) dengan biaya yang bersumber dari APBN 2017. Advertisment “Sebenarnya ini adalah replikasi perdana teknologi air minum dan air limbah. Tapi kita bungkus ke dalam toilet umum wisata dalam rangka mendukung Danau Toba. Jadi nilai manfaatnya lebih tinggi lagi. Kita punya sepuluh KSPN, kita harapkan bisa direplikasi teman-teman pemda,” terang Rezeki. Sementara itu, secara rinci anggaran Rp 3,3 miliar yang dikeluarkan digunakan untuk perencanaan dan data (Rp 289 juta), pengolahan air limbah (Rp 210 juta), pengolahan air bersih dan penyambungan sistem (Rp 560 juta). Di dalam sistem pengolahan air bersih terdapat teknologi menara aerasi (Rp 452 juta) dan reverse osmosis (Rp 46 juta). Adapun untuk pembangunan fisik bangunan menghabiskan anggaran Rp 1,95 miliar. Fasilitas toilet sendiri berada di lantai 1, dimana terdapat lima toilet wanita dan tiga toilet pria ditambah lima urinoir. Selain itu juga dilengkapi satu toilet difabel, ruang laktasi, pantry, dan mushola. Sementara di lantai dua, terdapat ruang transparan yang dapat dimanfaatkan sebagai area serba guna berkapasitas 40 orang, area terbuka, dan balkon pemantauan. Untuk memudahkan masyarakat difabel mengakses lantai dua, toilet ini juga dilengkapi dengan jalan tanjak memutar yang cukup lebar. –– ADVERTISEMENT –– PenulisDani Prabowo EditorHilda B Alexander

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Toilet Canggih Rp 3,3 Miliar di Danau Toba Siap Digunakan”, https://properti.kompas.com/read/2018/03/23/161738021/toilet-canggih-rp-33-miliar-di-danau-toba-siap-digunakan.

Penulis : Dani Prabowo

 

Pemerintah akan Membangun Ikon Baru Samosir

Danau Toba telah ditetapkan pemerintah sebagai satu dari 12 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Guna mendukung hal tersebut, revitalisasi serta pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur terus dilakukan. Salah satunya membangun jembatan Tano Ponggol. Pembangunan jembatan diperlukan karena saat ini tengah dilaksanakan revitalisasi terusan Tano Ponggol, sehingga jembatan yang ada harus dipanjangkan. Terusan Tano Ponggol saat ini hanya memiliki lebar 30 meter. Nantinya, setelah direvitalisasi terusan ini memiliki lebar hingga 100 meter dan diperdalam untuk memudahkan kapal pesiar kecil yang digunakan wisatawan. Sementara itu, jembatan Tano Ponggol yang akan dibangun terdiri dari dua unit. Keduanya akan dirancang sebagai ikon baru Samosir. “Kami sudah buat dalam rencana jangka menengah, bahwa itu harus mejadi ikon wisata,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Samosir Rudi Sabar M Siahaan di lokasi, Kamis (24/3/2018). Advertisment Rudi menjelaskan, jembatan Tano Ponggol dirancang dengan memasukkan unsur budaya batak, yaitu dalihan no tolu. Secara falsafah, ada tiga arti yaitu somba marhulahula (menghormati keluarga istri), elek marboru (mengayomi wanita), dan minat mardongan tubu (bersikap hati-hati kepada teman semarga). “Jadi tiangnya itu tiga, dia punya tiga penopang dia, dia pny bentuk yang unik sendiri. Konsepnya masih dalam penilaian Komisi Jembatan,” terang Rudi. Selain nilai budaya, kawasan Tano Ponggol juga memiliki nilai sejarah. Pasalnya, terusan ini pertama kali dibuat pada masa penjajahan Belanda untuk memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Samosir. Saat ini, Rudi menambahkan, desain rancangan jembatan ini telah dimasukkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk dinilai Komisi Keamanan Jembatan Panjang dan Terowongan Jalan. Rencananya, untuk membangun jembatan ini dibutuhkan anggaran sekitar Rp 450 miliar. “Informasi yang kami dapatkan dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), mungkin bulan Mei-Juni akan dilelang. Jadi akan dikerjakan tahun ini,” tuntas Rudi. –– PenulisDani Prabowo

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Pemerintah akan Membangun Ikon Baru Samosir”, https://properti.kompas.com/read/2018/03/24/093759121/pemerintah-akan-membangun-ikon-baru-samosir.

Penulis : Dani Prabowo

Ini Kecanggihan Toilet Rp 3,3 Miliar Buatan Kementerian PUPR

Sebuah toilet canggih dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di kawasan Wisata Tele, Danau Toba, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Toilet ini dilengkapi dengan teknologi Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang diciptakan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang). Baca juga : Toilet Canggih Rp 3,3 Miliar di Danau Toba Siap Digunakan Lantas, seperti apa kecanggihan teknologi yang dimiliki toilet seharga Rp 3,3 miliar itu? Peneliti Muda Puslitbang Kementerian PUPR Dimas Hastama Nugraha menjelaskan, teknologi IPA yang dibenamkan mencakup menara aerasi dan Reverse Osmosis (RO). Menara aerasi memiliki tinggi 13 meter dengan lima tingkatan. Menara Aerasi Menara Aerasi(Kompas.com / Dani Prabowo) “Menara itu bertugas mengelola air baku menjadi air bersih dengan Multiple Tray Aerator. Airnya berasal dari embung yang (berada di atas), dialirkan ke bawah menggunakan pipa naik ke atas. Dengan adanya selisih tekanan tinggi 25 meter, sehingga tidak membutuhkan pompa untuk naik ke atas,” terang Dimas kepada Kompas.com, di lokasi, Jumat (23/3/2018). Air yang diolah dinetralisasi kadar besi (Fe) dan mangan-nya (Mn). Pasalnya, kadar kedua mineral tersebut cukup tinggi yaitu 0,9 ppm untuk besi dan 1,2 ppm untuk mangan. Dari hasil uji laboratorium, tingkat besi dan mangan yang diproses turun menjadi 0,3 ppm untuk besi dan 0,5 ppm untuk mangan. Air yang sudah dinetralisir kemudian dialirkan ke dalam filtrasi, untuk dipisahkan ke dalam dua bagian yaitu toilet dan sistem RO. Sistem RO ini memiliki kapasitas 400 liter per hari dan dapat langsung dikonsumsi oleh masyarakat. Advertisment Reverse Osmosis Reverse Osmosis(Kompas.com / Dani Prabowo) “RO ini adalah air siap minum, dia mengelola air siap untuk diminum,” kata dia. Sementara, air yang dialirkan ke toilet akan dimanfaatkan saat buang air kecil dan air besar. Limbah yang dihasilkan kemudian ditampung di bak penampungan sebelum diolah di bio filter berkapasitas 5.000 liter. Setelah diolah, air tersebut dialirkan ke kolam sanita yang berisi tanaman air. Tanaman tersebut bertugas untuk menetralisir sisa limbah, sehingga air yang keluar dari kolam sanita sudah memenuhi standar air baku. “Biasanya taman sanita ini ada tipe vertikal dan horizontal. Karena di sini konturnya bergunung-gunung, kita mengikuti dengan empat layer,” terangnya. Kolam Sanita. Kolam Sanita.(Kompas.com / Dani Prabowo) Kepala Balai Litbang Penerapan Teknologi Pemukiman Kementerian PUPR Ahyat Dwiatno menjelaskan, anggaran Rp 3,3 miliar digunakan untuk perencanaan dan data Rp 289 juta, pengolahan air limbah Rp 210 juta serta pengolahan air bersih dan penyambungan sistem (Rp 560 juta). Di dalam sistem pengolahan air bersih terdapat teknologi menara aerasi senilai Rp 452 juta dan RO senilai Rp 46 juta. Adapun untuk pembangunan fisik bangunan menghabiskan anggaran Rp 1,95 miliar. Selasar pemantau. Selasar pemantau.(Kompas.com / Dani Prabowo) Pembangunan fisik itu meliputi pembangunan toilet pria dan wanita, toilet difabel, mushola, ruang laktasi, pantry, dan mushola di lantai satu. Sementara di lantai dua, terdapat ruang transparan yang dapat dimanfaatkan sebagai area serba guna berkapasitas 40 orang, area terbuka, dan selasar pemantauan. Ruang serbaguna. Ruang serbaguna.(Kompas.com / Dani Prabowo) PenulisDani Prabowo

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Ini Kecanggihan Toilet Rp 3,3 Miliar Buatan Kementerian PUPR”, https://properti.kompas.com/read/2018/03/23/213000121/ini-kecanggihan-toilet-rp-3-3-miliar-buatan-kementerian-pupr.

Penulis : Dani Prabowo

Editor : Hilda B Alexander

Poles Danau Toba, Pemerintah Bangun Tol dan Jalur Lingkar

Guna mendukung kelancaran akses turis ke jalur pariwisata Danau Toba, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) saat ini tengah melakukan kegiatan perbaikan Jalur Lingkar Luar Danau Toba dan Jalur Lingkar Samosir. Kepala Pusat Pengembangan Kawasan Strategis Hadi Sucahyono mengatakan perbaikan ini meliputi kegiatan preservasi dan pelebaran jalan guna memenuhi standar jalan nasional. Hal ini melihat beberapa kondisi ruas kedua jalan itu saat ini mengalami beberapa kerusakan. Dari pantauan Kompas.com, di beberapa titik ditemui jalan berlubang, besar dan kecil. Selain itu, saat berada di jalur Lingkar Samosir kontur jalan sedikit bergelombang. Bahkan di beberapa titik jalan cenderung sempit. “Untuk jaringan jalan lingkar luar ini panjangnya sekitar 360 kilometer. Sementara, jalan lingkar dalam Samosir panjangnya 125 kilometer,” kata Hadi saat berbincang dengan sejumlah awak media, Jumat (23/3/2018) malam. Menurut Hadi, jalan menjadi salah satu aspek penting di dalam pengembangan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia. Terlebih, kawasan ini sebelumnya telah ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Hadi menambahkan, nantinya di sepanjang jalan ini dilengkapi dengan beberapa tempat peristirahatan di berbagai titik. Namun, bukan seperti pada umumnya, tempat isitirahat ini diharapkan juga dapat menjadi pusat informasi bagi turis yang ingin mengetahui destinasi wisata yang ada di sekitar lokasi tempat istirahat. Advertisment “Seperti anjungan cerdas yang kini sedang kita bangun di Jembrana, Bali. Kalau di sana, luas areanya sampai 5 hektar dimana terdapat tujuh bangunan ada restoran, ada amphi theatre yang bisa dimanfaatkan untuk menampilkan local wisdom di sana,” utur Hadi. Wisatawan menikmati Danau Toba di Pantai Pasir Putih Lumban Bulbul, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Jumat (9/6/2017). Wisatawan menikmati Danau Toba di Pantai Pasir Putih Lumban Bulbul, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Jumat (9/6/2017).(KOMPAS/NIKSON SINAGA) Untuk tempat istirahat, saat ini pihaknya masih mencari lokasi yang tepat untuk dibangun. Ia pun berharap agar pemerintah daerah setempat ikut andil dalam pembangunan tempat istirahat ini. Paling tidak, dalam hal penyediaan lahan. Tol Dipercepat Di samping perbaikan jalan, Kementerian PUPR juga berencana membangun jalan Tol Medan-Parapat. Untuk tahap pertama, dibangun Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi sepanjang 61,7 kilometer dengan melibatkan investasi swasta. Ditargetkan pada 2018 ruas pertama tol ini akan rampung. Selanjutnya, akan dibangun ruas Tebing Tinggi-Pematang Siantar sepanjang 35 kilometer dan Pematang Siantar-Parapat sepanjang 27 kilometer. Jalan tol ini nantinya akan terkoneksi dengan Jalur Lingkar Luar Danau Toba yang kini tengah diperbaiki. –– ADVERTISEMENT –– PenulisDani Prabowo EditorHilda B Alexander

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Poles Danau Toba, Pemerintah Bangun Tol dan Jalur Lingkar”, https://properti.kompas.com/read/2018/03/24/211206021/poles-danau-toba-pemerintah-bangun-tol-dan-jalur-lingkar.

Penulis : Dani Prabowo

 

Gaet Turis ke Toba, Pemerintah Perluas Terusan Tano Ponggol

Guna mendukung kawasan Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), sejumlah infrastruktur di sekitar kawasan ini pun akan direvitalisasi. Salah satunya yaitu pelebaran dan normalisasi terusan Tano Ponggol di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Samosir Rudi Sabar M Siahaan menjelaskan, revitalisasi dilakukan sebagai salah satu langkah untuk menarik minat turis berkunjung ke Samosir. Saat ini, terusan Tano Ponggol hanya memiliki lebar sekitar 30 meter dan cukup dangkal. Dengan revitalisasi, nantinya terusan ini akan diperlebar hingga 100 meter dan diperdalam sehingga dapat dilalui kapal persiar kecil. “Kita harapkan turis bisa keliling Danau Toba. Jadi kalau ini sudah bisa dilebarkan, jadi wisatawan bisa lihat langsung ini,” kata Rudi di lokasi, Kamis (23/3/2018). Setidaknya, dibutuhkan anggaran Rp 363 miliar untuk merampungkan revitalisasi terusan sepanjang 1.700 meter ini. Advertisment Anggaran tersebut berasal dari APBN murni yang dialokasikan melalui Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera dan saat ini sudah mulai dikerjakan. Rudi menambahkan, terusan Tano Ponggol memiliki nilai strategis bagi masyarakat. Dari aspek sejarah, terusan yang memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Samosir ini dibangun pada masa penjajahan Belanda. “Jadi ini dia punya nilai sejarah, yang diharapkan bisa menjadi obyek wisata,” sambung Rudi. Selain itu, terusan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai jalur destinasi wisata, setelah kapal pesiar kecil sudah dapat melaluinya. “Pekerjaan ini sudah haru selesai 2019,” sebutnya.

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Gaet Turis ke Toba, Pemerintah Perluas Terusan Tano Ponggol”, https://properti.kompas.com/read/2018/03/24/085017221/gaet-turis-ke-toba-pemerintah-perluas-terusan-tano-ponggol.

Penulis : Dani Prabowo