Katastrofi Geologi oleh Super-erupsi

Seri  dari  Tulisan “Toba Big Bang” 74.000 Tahun yang Lalu: Katastrofi Geologi

Oleh : Awang H. Satyana

Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1992)

Katastrofi geologi adalah suatu proses geologi yang menyebabkan perubahan sangat besar bagi lingkungan Bumi dan penghuninya, ditandai dengan rusak atau hancurnya lingkungan, kondisi iklim yang tidak menunjang bagi kelangsungan kehidupan, sehingga sebagian besar makhluk hidup mengalami kepunahan dalam skala besar (kepunahan massa/ mass extinction). Dengan terjadinya erupsi Toba dalam skala megakolosal, VEI = 8, yang terbesar di Bumi dalam 28 juta tahun terakhir, maka suatu katastrofi geologi diperkirakan telah terjadi. Kejadian ini secara definitif disebut sebagai “Teori Katastrofi Toba”.

Katastrofi Toba terjadi melalui dua cara, yaitu musim dingin volkanik (volcanic winter) dan punahnya sebagian besar manusia modern yang saat itu sedang bermigrasi keluar dari Afrika (population bottlenecking) (Gibbons, 1993; Rampino dan Self, 1993; Ambrose, 1998)

Musim dingin volkanik terjadi bila banyak abu tersembur masuk ke dalam atmosfer. Kadar asam belerang pun memasuki atmosfer , dan bila abu volkanik terinjeksi lebih tinggi ke dalam atmosfer, maka abu volkanik dan asam belerang tersebut akan tinggal lebih lama di dalam atmosfer. Kejadiannya bisa selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun, lalu mereka akan menangkis dan mengubah influks energi matahari ke atmosfer bagian bawah. Manusia modern yang hidup antara 1815-1818 pun menderita akibat letusan Tambora. Bagaimana bila itu terjadi 74.000 tahun yang lalu dan berasal dari sebuah erupsi megakolosal yang puluhan kali lebih kuat daripadaTambora? Maka, mungkin benar, bahwa telah terjadi suatu kepunahan massa.

Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1993)
)

Letusan Toba 74.000 tyl telah menghasilkan 3 milyar ton abu halus dan aerosol H2SO4 dan SO2 yang terlontar setinggi 27-37 km menginjeksi atmosfer dan sangat signifikan mengurangi transmisi sinar Matahari ke permukaan Bumi (Rampino dan Self, 1992; Chesner dkk., 1991). Diperhitungkan bahwa transmisi sinar Matahari saat itu hanya 0,001-10 %. Menurunnya daya terima sinar Matahari ini telah menyebabkan temperatur menurun 3-5oC. Saat itu Zaman Es sedang menjelang, dan letusan Toba diyakini telah mempercepat datangnya Zaman Es ini. Toba juga telah melepaskan sebanyak 540 milyar ton air yang naik sampai stratosfer dan dapat mengubah gas belerang yang dilontarkan Toba menjadi 1-10 milyar ton aerosol H2SO4. Posisi Toba di wilayah tropis juga membuatnya lebih efisien untuk abu dan gas dari Toba memasuki stratosfer di kedua belahan Bumi.

Mengenai hal ini, para ahli umumnya sepakat bahwa letusan megakolosal Toba telah memicu ataumempercepat musim dingin sesuai siklus geologi. Mereka hanya berbeda pendapat di mekanisme terjadinya musim dingin volkanik dan tingkat penurunan temperatur, misalnya yang didiskusikan oleh Oppenheimer (2002) dan Robock dkk. (2009).

Parbakalan, Sidikalang, lembah terbuka sejajar (strike valley) Sesar Sumatra. Foto: Margaretha Purwaningsih

Kemungkinan terjadinya penciutan populasi manusia akibat erupsi mega-kolosal Toba pertama kali dikemukakan oleh Gibbons (1993). Pendapat ini kemudian segera disokong oleh Rampino dan Self (1993). Teori bottleneck ini kemudian dikembangkan oleh Ambrose (1998) dan Rampino dan Ambrose (2000). Menurut para pendukung teori genetic bottleneck, antara 50.000-100.000 tyl, populasi manusia mengalami penurunan yang sangat drastis, dari sekitar 100.000 individu menjadi sekitar 10.000 individu (Gibbons, 1993; Ambrose, 1998). Bukti-bukti genetik juga menunjukkan bahwa semua manusia yang hidup sekarang, meskipun sangat bervariasi, diturunkan dari populasi yang sangat kecil antara 1000-10.000 pasangan sekitar 70.000 tyl.

Setelah genetic bottleneck dan pemulihan kembali, diiferensiasi ras populasi manusia terjadi dengan cepat. Oleh karenanya, diajukan pendapat bahwa Toba telah menyebabkan ras-ras modern berdiferensiasi secara mendadak hanya sekitar 70.000 tahun yang lalu, daripada secara berangsur selama satu juta tahun.

Terjadinya musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera karena letusan Toba dapat menjawab suatu paradoks tentang asal Afrika buat manusia, yaitu: bila kita semua berasal dari Afrika (Out of Africa) mengapa kita semuanya tidak mirip orang Afrika? Karena musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera telah mengurangi populasi sampai tingkat cukup rendah untuk meneruskan efek nenek moyang, lalu terjadi aliran genetik dan adaptasi lokal menghasilkan perubahan cepat pada populasi yang selamat, yang menyebabkan manusia-manusia di seluruh dunia terlihat begitu berbeda. Dengan kata lain, Toba telah menyebabkan ras modern manusia terdiferensiasi secara mendadak (Ambrose, 1998).

Demikian, beberapa aspek tentang Toba, tentang sejarah geologi, tektonik dan erupsi katastrofiknya pada 74.000 tahun yang lalu, tentang efeknya bagi iklim dunia dan akibatnya atas katastrofi biologi berupa penciutan jumlah manusia. Mengunjungi tempat-tempat dengan fenomena geo-histori di Indonesia yang menarik sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang tempat tersebut, yang mungkin sebelumnya tidak diketahui dengan baik. Hal ini akan makin membuat kita takjub atas warisan geo-histori Indonesia, sehingga kita dapat lebih mencintainya.

Penulis adalah spesialis utama di SKMIGAS dan penggiat komunitas “Geotrek Indonesia”.

Jembatan Tano Ponggol Yang Menghubungkan Sumatera dan Samosir

Jembatan Tano Ponggol

Sebuah jembatan yang menjadi penghubung Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera berada di suatu daerah yang bernama Pangururan dan jembatan ini diberi nama Jembatan Tano Ponggol adalah penghubung untuk menyebrangi Danau Toba ke Pulau Samosir yang berada di bagian tengahnya. Danau Toba ini  sudah terkenal ke seluruh dunia karena keindahan alamnya. Demikian halnya Pulau Samosir juga sudah dikenal sebagai pulau yang keberadaannya ada di tengah-tengah Danau Toba.

 

Jembatan Tano Ponggol ini adalah salah satu jalan wisatawan bisa menyeberang ke Pulau Samosir selain jalan lain melalui penyeberangan kapal ferry dari Parapat ke Tomok yang ada disisi lain Pulau Samosir, untuk bisa mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di pulau tersebut. Jembatan ini berada disisi barat Pulau Samosir tepatnya di kota Pangururan kabupaten Samosir. Jembatan ini menjadi penghubung antara Pulau Sumatera dengan Pulau Samosir.

 

Jembatan Tano Ponggol kelihatannya tidak memiliki keistimewaan, dengan jalanannya masih terbuat dari aspal kasar lalu besi-besi jembatannya ada yang putus dan bentuknya sama dengan jembatan pada umumnnya. Sementara jika diperhatikan ke arah sungai di bawahnya terlihat sudah mengalami pendangkalan oleh endapan lumpur. Jembatan ini kelihatannya biasa saja.

Namun jembatan ini memiliki keistimewaan yang tidak banyak diketahui orang dan oleh karenanya jembatan ini menjadi sangat penting karena jika tidak ada jembatan ini tidak akan ada dikenal Pulau Samosir, karena tanpa ada jembatan ini tidak akan ada Pulau Samosir seperti yang diketahui sekarang.

 

Keberadaan Jembatan

Jembatan yang menjadi satu-satunya jalan darat dari Pulau Sumatera ke Pulau Samosir memiliki panjang hanya 20 meter saja. Ternyata dahulu daratan yang merupakan bagian Pulau Samosir saat ini merupakan bagian yang menyatu dengan Pulau Sumatera membentuk sebuah tanjung di tengah-tengah Danau Toba. Bagian tersempit dari Samosir tersebut adalah daerah Pangururan dengan ukuran lebar sekitar 300 meter.

 

Oleh pemerintahan Belanda saat itu melakukan pembangunan kanal dengan memotong bagian yang sempit itu sehingga kedua sisi danau Toba bisa ketemu. Setelah pembangunan kanal tersebut akhirnya bagian Samosir benar-benar terpisah dari bagian Sumatera dan akhirnya bisa dikatakan menjadi sebuah pulau. Tujuan dibangun kanal ini agar tidak perlu lagi memutari Samosir untuk bisa berpindah dari sisi satu ke sisi satunya dari danau. Sebelumnya warga menyeret perahunya untuk berpindah ke sisi lain dari air danau daripada mengitari jauh mengelilingi bagian Samosir.

 

Sejarah Pembuatan Jembatan

Pembuatan kanal ini dikerjakan pada tahun 1913 oleh Belanda dengan mengandalkan kerja paksa. Setelah selesai dikeruk terbentuklah sebuah kanal yang oleh penduduk setempat untuk jembatan yang menghubungkan daratan yang dipisah tersebut dinamakan dengan Jembatan Tano Ponggol, yang artinya tanah putus. Pada awalnya jembatan ini terbuat hanya dari kayu saja dan digunakan dalam waktu yang cukup lama. Lalu sekitar tahun 1982 jembatan tersebut dibongkar dan diganti dengan jembatan beton. Kondisi saat ini jembatan ini dibiarkan hanya seperti jembatan biasa saja. Padahal jembatan ini bisa menjadi hal yang menarik buat wisatawan untuk mengunjungi daerah ini, apalagi di daerah Panguruan terdapat objek-objek wisata yang cukup menarik seperti permandian air panas. Dari sana wisatawan juga bisa bergerak ke arah Tele dimana wisatawan bisa melihat pemandangan ke arah Danau Toba yang bak cermin dilihat dari ketinggian Tele, tempatnya dinamakan panatapan Tele.

Cara Menuju Lokasi Jembatan

Jadi jembatan ini memang luar biasa karena menjadi penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Samosir yang melewati Danau Toba yang merupakan danau terbesar di Indonesia. Untuk bisa sampai di jembatan ini, wisatawan dari Medan bisa kesana dengan menaiki kenderaan angkutan semacam Elf yang disebut Sampri. Sampri adalah nama operator anngkutan itu yang merupakan singkatan dari PO. Samosir Pribumi . Perjalanan untuk sampai dilokasi adalah enam jam menaiki  Sampri jurusan Medan (Padang Bulan) – Pangururan dengan ongkos sebesar Rp 55.000 per orang.

 

Tano Ponggol bisa dikemas menjadi objek wisata yang menarik, karena memiliki sejarah yang istimewa karena  jembatan yang pendek ini adalah jembatan yang menghubungkan Pulau Samosir nan luas dengan daratan Sumatera di Danau Toba. Menakjubkan bukan! Apalagi jika jembatan ini diperbaiki sedemikian rupa sehingga lebih indah dan lingkungannya ditata lebih baik. Buat wisatawan yang tertarik bisa datang ke lokasi ini sekalian bisa menikmati permandian air panas di dekat sana.

 

 

 

Lihat lokasi jembatan Tano Ponggol disini!

 

Terbentuknya Danau Toba

Di balik permai Danau Toba yang menghampar di wilayah Sumatra Utara, daya rusak yang mahadahsyat tersembunyi di dalamnya. Sekitar 74.000 tahun lampau, Gunung Toba meletus hebat dan nyaris menamatkan umat manusia.

Kedahsyatan letusan gunung api raksasa (supervolcano) Toba itu bersumber dari gejolak bawah bumi yang hiperaktif. Lempeng lautan Indo-Australia yang mengandung lapisan sedimen menunjam di bawah lempeng benua Eurasia, tempat duduknya Pulau Sumatera, dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun.

Gesekan dua lempeng di kedalaman sekitar 150 kilometer di bawah bumi itu menciptakan panas yang melelehkan bebatuan, lalu naik ke atas sebagai magma. Semakin banyak sedimen yang masuk ke dalam, semakin banyak sumber magmanya.

Kantong magma Toba yang meraksasa disuplai oleh banyaknya lelehan sedimen lempeng benua yang hiperaktif. Kolaborasi tiga peneliti dari German Center for Geosciences (GFZ) dengan Danny Hilman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Fauzi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2010 menyimpulkan bahwa di bawah Kaldera Toba terdapat dua dapur magma yang terpisah.

Dapur magma ini diperkirakan memiliki volume sedikitnya 34.000 kilometer kubik yang mengonfirmasi banyaknya magma yang pernah dikeluarkan oleh gunung ini sebelumnya.

Vulkano-tektonik

Tak hanya dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dari dapur magma, Kaldera Toba ternyata juga sangat dipengaruhi oleh kegiatan tektonik yang mengimpitnya sehingga kalangan geolog menyebutnya sebagai vulkano-tektonik.

Tumbukan lempeng bumi yang sangat kuat dari lempeng Indo-Australia telah memicu terbentuknya sesar geser besar yang disebut sebagai Zona Sesar Besar Sumatera (Sumatera Fault Zone/SFZ). Sesar ini memanjang hingga 1.700 kilometer dari Teluk Lampung hingga Aceh. Hampir semua gunung berapi di Sumatera berdiri di atas sesar raksasa ini.

Uniknya, Kaldera Toba tidak berada persis di atas sesar ini. Dia menyimpang beberapa kilometer ke sebelah timur laut sesar Sumatera. ”Di antara Sungai Barumun dan Sungai Wampu, Pegunungan Barisan (yang berdiri di atas sesar) tiba-tiba melebar dan terjadi pengangkatan dari bawah yang membentuk dataran tinggi; panjangnya 275 km dan lebar 150 km yang disebut Batak Tumor,” papar Van Bemmelen, geolog Belanda yang pada 1939 untuk pertama kali mengemukakan bahwa Toba adalah gunung api.

Pengangkatan Batak Tumor ini, disebut Bemmelen, menjadi fase awal pembentukan Gunung Toba. Saat pembubungan terjadi, sebagian magma keluar melalui retakan awal membentuk tubuh gunung. Jejak awal tubuh gunung ini masih terlihat di sekitar Haranggaol, Tongging, dan Silalahi. Sementara sebagian besar lainnya telah musnah saat terjadinya letusan Toba terbaru sekitar 74.000 tahun lalu (Youngest Toba Tuff/YTT).

Danau Toba jelas terpengaruh oleh gaya sesar ini. Bentuk Danau Toba yang memanjang, bukan bulat sebagaimana lazimnya kaldera, menunjukkan dia terpengaruh dengan gaya sesar geser yang berimpit di kawasan ini. Sisi terpanjang danau, yang mencapai 90 km, sejajar dengan Zona Sesar Sumatera, yang merupakan salah satu patahan teraktif di dunia selain Patahan San Andreas di Amerika. Aktivitas gunung berapi di Sumatera, termasuk Toba, dikontrol oleh patahan ini.

http://nationalgeographic.co.id/

Air Terjun Tertinggi Di Indonesia

Air Terjun adalah gejala alam yang sangat menarik sehingga seringkali menjadi obyek wisata. Indonesia memiliki banyak sekali air terjun yang tersebar di berbagai pulau. Berikut adalah beberapa air terjun yang merupakan air terjun tertinggi di Indonesia.

Yang pertama adalah Air Terjun Sigura – gura. Air terjun ini terletak di Kabupaten Toba Samosir, sekitar 250 kilometer dari Kota Medan, airnya berasal dari Sungai Asahan yang bersumber dari Danau Toba. Air terjun ini memiliki ketinggian 250 meter dan apabila dari kejauhan tampak ukurannya yang raksasa. Di sekitar lokasi air terjun ini terdapat bendungan Sigura – gura, dan ada juga lokasi arung jeram. Beberapa ajang arung jeram tingkat nasional dan internasional beberapa kali pernah diadakan di sini. Oh yah, Travelholic juga bisa berkemah di sekitar lokasi air terjun loh.

Air terjun tertinggi kedua adalah Air Terjun Madakaripura. Air terjun ini terletak di Kecamatan Lumbang, Probolinggo dan merupakan salah satu air terjun di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Air terjun yang memiliki ketinggian 200 meter ini dikelilingi oleh tembok – tembok bukit dengan diameter 70 meter sehingga tampak seperti tabung. Air terjun ini menurut sebagian orang yang percaya adalah tempat tinggal terakhirnya Patih Gajah Mada.

Yang ketiga adalah Air Terjun Payakumbuh. Lokasinya berada di Ngarai Harau, 35 km dari Bukittinggi, air terjun ini memiliki ketinggian 150 meter. Air terjun ini memiliki 7 titik air terjun yang mengalir dari celah – celah tebing. Setiap air terjun hanya berjarak beberapa ratus meter jadi bisa sambil jalan kaki nih. Di sekitar lokasi air terjun utama terdapat kebun binatang dan taman bermain loh.

Yang keempat air terjun tertinggi adalah Air Terjun Sipiso piso. Air terjun ini berada di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, air terjun ini memiliki ketinggian 120 meter. Berbeda dengan air terjun pada umumnya, Air Terjun Sipiso-piso airnya bukan dari aliran sungai atau sejenisnya, melainkan dari sungai bawah tanah di plato Karo yang mengalir melalui sebuah goa disisi kawah danau Toba. Air terjun ini tidak begitu besar namun alirannya sangat deras.

Dan yang kelima adalah Air Terjun Jarakan. Air terjun ini tepatnya berada di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, air terjun ini memiliki ketinggian 115 meter.

Itulah beberapa air terjun yang menjadi air terjun tertinggi di Indonesia.

Highest Waterfall in Indonesia

Waterfall is a very interesting natural phenomenon that often becomes a tourist attraction. Indonesia has a lot of waterfalls scattered in various islands. Here are some waterfalls that are the highest waterfall in Indonesia.

The first is Sigura-gura Waterfall. This waterfall is located in Toba Samosir District, about 250 kilometers from Medan City, its water comes from River Asahan which sourced from Lake Toba. This waterfall has a height of 250 meters and if from a distance looks its size is gigantic. Around the location of this waterfall there is Sigura – gura dam, and there is also the location of rafting. Several national and international rafting events have been held here several times. Oh well, Travelholic can also camp around the waterfall location loh.

The second highest waterfall is Madakaripura Waterfall. This waterfall is located in District Lumbang, Probolinggo and is one of waterfalls in the area of ​​Bromo Tengger Semeru National Park. Waterfall that has a height of 200 meters is surrounded by walls – hills with a diameter of 70 meters so it looks like a tube. This waterfall according to some people who believe is his last residence Patih Gajah Mada.

The third is Payakumbuh Waterfall. The location is in Harau Gorge, 35 km from Bukittinggi, this waterfall has a height of 150 meters. This waterfall has 7 point waterfalls flowing from the crevices of the cliff. Every waterfall is only a few hundred meters so can walk while on foot. Around the location of the main waterfall there is a zoo and a playground loh.

The fourth highest waterfall is Sipiso piso Waterfall. This waterfall is located in Tongging Village, District Brand, Karo District, North Sumatra, this waterfall has a height of 120 meters. Unlike the waterfall in general, Sipiso-piso Waterfall is not from the river or the like, but from the underground river in Karo plateau that flows through a cave beside the crater of Lake Toba. This waterfall is not so big but the flow is very heavy.

And the fifth is Jarakan Waterfall. This waterfall precisely located in the Village Ngancar, District Plaosan, this waterfall has a height of 115 meters.

That’s some waterfalls that became the highest waterfall in Indonesia.

5 Danau Terbesar Di Indonesia

 

  • Danau Toba di Sumatera Utara (Luas: 107.216 Ha). Danau ini begitu tersohor bahkan hingga ke mancanegara. Ia merupakan danau vulkanik terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Uniknya, tepat pada bagian tengan danau toba ini terdapat pula vulkanik yang dikenal dengan nama Pulau Samosir. Sejak dahulu, danau toba sudah dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling penting di Sumatera Utara. Di danau toba ini ada banyak jenis rekreasi yang bisa pengunjung coba.

 

  • Danau Towuti di Sulawesi Tengah (Luas: 59.840 Ha). Danau yang satu ini secara administrative berada di wilayah Kecamatan Towuti, Luwu Timur Sulawesi Selatan. Danau ini masuk ke dalam titik Taman Wisata Danau Tuwoti yang dikelola lembaga bernama BKSDA atau Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan. Lembaga ini menjalankan fungsinya di bawah Kementrian Kehutanan Republik Indonesia.

 

  • Danau Sentani di Papua (Luas : 34.375 Ha). Danau yang satu ini merupakan yang terbesar di Papua. Ia juga sekaligus menjadi kawasan wisata terpopuler di sana. Danau sentani ini setiap tahunnya menjadi lokasi pelaksanaan berbagai festival yang terkenal di Papua.

 

  • Danau Poso di Sulawesi Tengah (Luas : 34.280 Ha). Danau di Indonesia terbesar selanjutnya terletak di Provinsi Sulawesi Tengah. Ia berada di ketinggian 657 meter di atas permukaan laut. Danau ini memang belum banyak dikelola oleh Pemerintah Daerah. Tapi, keelokannya tetap memukau siapa saja yang pernah mengunjunginya.

 

  • Danau Matana di Sulawesi Selatan (Luas : 16.640 Ha). Danau yang satu ini berada di Sorako Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan. Danau ini memiliki kedalaman hingga 590 meter.

 

Geopark Kaldera Toba

Lokasi Geopark Danau Toba menjadi obyek wisata andalan di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, dipusatkan di Desa Sigulatti, Kecamatan Sianjur Mulamula.
Danau Toba sebagai danau vulkanik terluas di Asia Tenggara itu adalah obyek yang menarik karena keindahan alamnya dilengkapi kekayaan adat budaya serta dianggap sebagai asal leluhur suku Batak.
Disebut sebagai Geopark Toba bukan karena suku Batak Toba atau ada Danau Toba, tetapi karena kekayaan dan potensi geologi di kawasan danau yang terletak di bagian tengah Provinsi Sumatera Utara itu meliputi tujuh kabupaten.
Terdapat 42 geosite untuk Geopark Toba yang dibagi dalam empat geo area, yakni:
1. Kaldera Haranggaol,
2. Porsea,
3. Kaldera Sibandang
4.  Geo Area Pulau Samosir.
Gabungan dari Geo Area itu disebut sebagai Geopark. Untuk Kabupaten Samosir dibangun sebanyak delapan panel (papan petunjuk) untuk delapan geosite.
Lokasi Geopark tersebut dikelola menjadi obyek wisata dengan tiga aspek pengelolaan meliputi konservasi, edukasi (pendidikan, riset ilmu geologi, biologi dan budaya secara luas) serta aspek pengembangan nilai ekonomi lokal melalui kegiatan pariwisata yang berkelanjutan.

This image has an empty alt attribute; its file name is Geopark-Kaldera-Toba.jpg
Peta Danau Toba
Danau Toba adalah danau kaldera terbesar di dunia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, berjarak 176 km ke arah Barat Kota Medan. Danau Toba (2,88o N – 98,5o  2 E dan 2,35o N – 99,1o E) adalah danau terluas di Indonesia (90 x 30 km2) dan juga merupakan sebuah kaldera volkano-tektonik (kawah gunungapi raksasa) Kuarter terbesar di dunia. Kaldera ini terbentuk oleh proses amblasan (collapse) pasca erupsi supervolcanogunungapi Toba Purba, kemudian terisi oleh air hujan.
Danau Toba mempunyai ukuran panjang 87 km berarah Baratlaut-Tenggara dengan lebar 27 km dengan ketinggian 904 meter di atas permukaan laut (dpl) dan kedalaman danau yang terdalam 505 meter. Di tengah Danau Toba terdapat Pulau Samosir dengan ketinggian berkisar antara 900 hingga 1.600 meter dpl, yang terbentuk akibat pengangkatan dasar danau pasca erupsi kaldera yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu, sebagai akhir dari proses pencapaian kesetimbangan baru pasca-erupsi kaldera supervolcano.
Kawasan dinding Kaldera Toba  memiliki morfologi perbukitan bergelombang sampai terjal dan lembah-lembah membentuk morfologi dataran dengan batas caldera rim watershedDTA Danau Toba dengan luas daerah tangkapan air (catchment area) 3.658 km² dan luas permukaan danau 1.103 km². Daerah tangkapan air ini berbentuk perbukitan ( 43%), pegunungan (30 %) dengan puncak ketinggian 2.000 meter dpl (27%) sebagai tempat masyarakat beraktifitas.
Sehubungan dengan keunikannya, Kaldera Toba diusulkan menjadi geopark dengan nama Geopark Kaldera Toba (GKT). Untuk merealisasikan keinginan tersebut, dibentuk Tim Percepatan Pengajuan Geopark Kaldera Toba menjadi anggota dalam Global Geopark Networking UNESCO, dengan menerbitkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara No. 188.44/404/KPTS/2013 pada tanggal 26 Juni 2013.
Pada awalnya, tahun 2011 nama geopark diusulkan dengan nama Geopark Toba, namun dalam perkembangannya mengingat bahwa yang bernilai warisan dunia adalah peninggalan dari letusan super volcano Toba yang berdampak global berupa Danau Toba yang tiada lain adalah suatu Kaldera Kuarter terbesar di dunia, maka diusulkan nama geopark tersebut pada tahun 2013 dengan nama Geopark Kaldera Toba.
Geopark Kaldera Toba mengusung Tema Gunungapi (supervolcano) dengan keunikan sebagai kaldera Volkano-Tektonik  Kuarter terbesar di dunia. Kawasan ini mencakup bagian dari wilayah administrasi dari tujuh kabupaten yang mempunyai pantai di Danau Toba yang dibatasi oleh kaldera rim yaitu Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir,  Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Utara, dan Kabupaten Simalungun.
 
Geopark Kaldera Toba, Sumatera Utara, Indonesia: Dokumen Usulan Keanggotaan Jaringan Geopark Nasional Indonesia.

Daftar Geoarea Dalam Geopark Kaldera Toba

Geopark adalah kesatuan ekosistem dikelolah secara berkesinambungan dengan konservasi, edukasi dan ekonomi kerakyatan untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam Geopark Kaldera Toba dibagi menjadi empat geoarea yang pembagiannya didasarkan kepada umur kejadian terbentuknya lokasi tersebut.

GEOPARK

Geopark merupakan sebuah konsep manajemen sumber daya keragaman bumi (geodiversity) sebagai daya tarik wisata yang mencakup geologi, biologi, sosial-budaya dan pariwisata. Danau Toba dikelilingi batuan hasil letusan gunung api dan danau merupakan hasil kaldera volkanik dengan 3 kali letusan besar. Ledakan yang paling besar 840 ributahun, 501ribu tahun dan 75 ribu tahun lalu.

GEOAREA

Geoarea adalah kumpulan dari beberapa geosite yang berada dalam satu kawasan. Sebaran Geosite dari Geopark toba ini yang meliputi 7 kabupaten, yaitu Kabupaten Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi, dan Kabupaten Karo. Pengelompokan Geoarea ini berdasarkan pada urutan waktuterjadi dna prosesnya.

AKSES KE GEOPARK

Medan adalah pintu gerbang Internasional. Bandara utama di Medan adalah Internasional Kualanamu. Ada beberapa cara untuk menikmati keindahan Geopark yang tersebar di berbagai kawasan Danau Toba. Penerbangan dari Jakarta, Malaysia, dan Singapore menuju Medan. Di bandara banyak agen travel yang menawarkan perjalanan wisata dengan rute Medan menuju Berastagi atau Medan menuju Parapat. Adapun opsi lain yang yaitu penerbangan dari Medan menuju Muara Silangit dan Jakarta menuju Batam yang kemudian dilanjutkan dengan penerbangan menuju Muara Silangit. Untuk lebih menghemat waktu Anda bisa menggunakan penerbangan dengan rute alternatif yaitu dari Jakarta langsung menuju Muara Silangit.

4 GEOAREA

( A ) Geoarea Kaldera Porsea, disebelah timur meliputi geosite di parapat (Kab. Simalungun) sampai Porsea (Kab.Toba Samosir). Terjadi sekitar 840ribu tahun yang lalu.

( B ) Geoarea Kaldera Haranggaol, disebelah utara meliputi geosite di Kab. Simalungun, Kab.Karo, dan Kab.Dairi. Terjadi sekitar 501 ribu tahun yang lalu.

( C ) Geoarea Kaldera Sibandang, disebelah selatan meliputi geosite, disebelah selatan meliputi geosite di kab. Tapanuli Utara dan Kab.Humbang Hasundutan. Terjadi sekitar 74ribu tahun yang lalu.

( D ) Geoarea Pulau Samosir, yang berada di bagian tengah meliputi geosite di Kab. Samosir. Dasar dari Kaldera terangkat membentuk Samosir suatu Pulau besar di dalam danau. Terjadi sekitar 33ribu tahun yang lalu.

GEOAREA PORSEA

  1. Parapat Welded (YTT)
  2. Taman Eden Meta-Sediment
  3. Batu Basiha Kekar kolom Andesit

GEOAREA HARANGGAOL

  1. Tiga Runggu (YTT) + 1380m
  2. Air terjun Sipiso-Piso + 1402m
  3. Kodon-kodon Meta Sediment
  4. Paropo Caldera rim
  5. Sipisopiso Volcano + 1464m
  6. Haranggaol (YTT) + 1322m
  7. Haranggaol (MTT) + 1258m
  8. Haranggaol (HDT) + 1084m

GEOAREA SIBANDANG

  1. Bakara Kaldera rim (YTT) + 1467 m
  2. Bakara Welded YTT + 1271 m
  3. Bakara Meta – Sediment + 969m
  4. Tipang-Simamora YTT + 949m
  5. Sibandang dacitic dome + 936m
  6. Plateu Sipinsur Paranginan Humbahas
  7. Pardepur Dacitic Dome +920m
  8. Dolok Martumbur Meta-Sediment + 1047m
  9. Tapian Nauli Vulkanik Breksi + 1329m
  10. Colored Non Welded YTT + 1507m
  11. Plateu Hutaginjang Muara (YTT) + 1472m

GEOAREA SAMOSIR

  1. Pusuk Buhit-Aek rangat + 969m
  2. Tele Plateu non Welded YTT + 1547m
  3. Simanuk-manuk non welded YTT + 1327m
  4. Simpang limbong meta – pebbly mudstone + 1002m
  5. Simpang Harian Slaty Meta sedimen +1082m
  6. Pusuk buhit Batu hobon Dacite + 1167m
  7. Pusuk buhit – Batumanikot (Tulus), Banded flow dacite + 1051m
  8. Tanjungbunga Slaty Meta-sedimen +927m
  9. Danau Aek Natonang
  10. Batu Marhosa welded Ignimbrite
  11. Danau sidihoni
  12. Samosir-Hutatinggi3 debris deposits +1141m
  13. Samosir Hutatinggi2 danau sedimen +1096m
  14. Samosir Hutatinggi1 danau sedimen +1078m
  15. Danau Tomok sedimen +973m
  16. Tuktu, Rhyodacitic dome
  17. Pertamina cottage welded Ignimbrite (YTT)+1011m
  18. Sibaganding Mesozonic Limestone +927m
  19. Salaon Toba Tectonic depression +1039m
  20. Huta Sibabiat Diatomite Soil+939m
  21. Danau Simanindo slumping sedimen
  22. Pintu batu Geothermal field +969m
  23. Simanindo Up-lifting +941m