KMP Ihan Batak Penyeberangan dari Ajibata ke Ambarita

KMP Ihan Batak Penyeberangan dari Ajibata ke Ambarita

Kado Natal Untuk Masyarakat Danau Toba di tahun 2018 ini, KMP Ihan Batak telah beroperasi sejak hari Kamis 27/12 2018 dari Pelabuhan Ajibata menuju Pelabuhan Ambarita Kabupaten Samosir, dengan pelayaran perdana mengangkut 282 penumpang, 34 unit minibus, 3 unit sepeda motor, dengan jarak tempuh sekitar 9 mil dengan kecepatan 10 Knot/Jam.

Harga tiket untuk kendaraan minibus Rp 135.000 per unit, sepedamotor Rp 13.000 per unit, untuk penumpang dewasa Rp 9.000 per orang, anak anak Rp 4.000 per orang.

Pelayaran Perdana ini dioperasionalkan oleh ASDP Sibolga Gunung Sitoli didampingi oleh Balai Perhubungan Transportasi Darat Wilayah II.

Dioperasikannya KMP Ihan Batak adalah sebagai bentuk dukungan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan transportasi prima bagi pariwisata di Kawasan Danau Toba

Ini dia tarif angkutan penyeberangan Kapal KMP IHAN BATAK dengan rute Ajibata – Ambarita beserta jadwalnya.

This image has an empty alt attribute; its file name is tarif-dan-jadwal.jpeg

Selamat berliburan di kawasan Danau Toba. Tetap utamakan Keselamatan. jangan lupa pake Life Jacket saat di kapal penyeberangan .

Shuttle Bus Damri Gratis Wisata Danau Toba

Shuttle Bus Damri Gratis Wisata Danau Toba

Selamat Datang Liburan
Selamat Datang ke Danau Toba
Kami siap melayani anda.

Damri dan BPODT menyiapkan 8 Shuttle Bus, melayani wisatawan jalan jalan, only with BOARDING PASS :
1. SILANGIT -HUTAGINJANG
2.SILANGIT – PARAPAT
3. BALIGE TOUR
4. PARAPAT TOUR

Sudah banyak penumpang di SILANGIT yang memanfaatkan SHUTTLE BUS DAMRI.

Contohnya kalau mau traveling ke samosir, bisa naik Bus Damri Silangit-Parapat, free dengan menunjukkan BOARDING PASS. nah berhentinya bisa langsung di pelabuhan kapal TIGARAJA…langsung ke tuktuk deh.

SILANGIT -HUTAGINJANG

This image has an empty alt attribute; its file name is Silangit-hutaginjang.jpg


SILANGIT – PARAPAT

This image has an empty alt attribute; its file name is silangit-parapat.jpg


BALIGE TOUR

This image has an empty alt attribute; its file name is Balige-loop.jpg


PARAPAT TOUR

This image has an empty alt attribute; its file name is parapat-loop.jpg

Kemegahan Danau Raksasa Toba

T Bachtiar

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Panorama Toba dari Panatapan Bakara, Foto: Igan S. Sutawidjaja

Berdiri di pinggir Danau Toba, hanya tepian danau terdekatlah yang terlihat. Burung berwarna putih berjajar di tiang penyangga jaringapung di tepian danau, sesekali terbang bila mendengar suara-suara yang mencurigakan. Inilah danau kaldera terbesar di dunia, dengan luas perairan danaunya 1.130 km2, dengan kedalaman maksimal danau 500 m., yang dapat menampung air tawar sebanyak 240 km3. Dari Kota Medan, Sumatera Utara, danau yang berukuran 87 x 294 km ini jaraknya 176 km ke arah selatan. Karena ukurannya yang sangat luas, sehingga untuk mendapatkan gambaran bentuk danau yang utuh, haruslah difoto dari pesawat terbang atau dari satelit.

Secara geografis, kawasan Danau Toba terletak di sisi timur rangkaian Bukit Barisan pada titik koordinat 20 21‘ 32‘‘– 20 56‘ 28‘‘ Lintang Utara dan 980 26‘35‘‘ – 990 15‘40‘‘ Bujur Timur. Permukaan danaunya berada pada ketinggian 903 m.dpl, dan Daerah Tangkapan Air (DTA) sampai di ketinggian 1.981 m.dpl, dan total luas Daerah Tangkapan Air (DTA) danau ini mencapai 4.312 km2.

Perahu-perahu penuh muatan dengan musik dangdut yang dibunyikan keras sekali, tak hentinya hilirmudik mempertalikan warga di tepian Danau Toba
dan Pulau Samosir. Perairan danau menjadi sarana transportasi yang tidak perlu dibeton atau diaspal. Jalur perahu penyeberangan di perairan Danau Toba itu menghubungkan Ajibata ke Tomok, Ajibata ke Pangururan melalui Ambarita, Balige ke Pangururan melalui Nainggolan dan Mogang, Ajibata ke Nainggolan, dan dari Nainggolan ke Muara. Perahu di Danau Toba perannya sangat penting untuk kelancaran pergerakan penduduk dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Penduduk yang bermukim di Kawasan Danau Toba itu tersebar di 443 desa/kelurahan, pada 37 Kecamatan, di 7 Kabupaten, yaitu: Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Simalungun, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Karo, dan Dairi.

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Tebing Sibaganding. Foto: T. Bachtiar

Jalan berliku, dengan jurang yang menganga. Punggung bukit meruncing ditutupi rerumputan dengan jajaran pohon yang renggang. Akhirnya sampai di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Di sini sudah ada pelataran untuk melihat airterjun Sipisopiso dari kejauhan. Airterjun yang menghujam setinggi 175 m. itu berada di celah sempit ujung barat laut Danau Toba, layaknya bilah pisau yang tajam mengiris alam. Namun, bagi pengunjung yang menyukai tantangan petualangan, disediakan jalan sedepa yang melipir meniti tebing yang curam. Dinding tegak ini merupakan dinding Kaldera Toba berupa bongkah-bongkah raksasa dari batuan dasar berumur Mesozoikum – Paleozoikum. Kesegaran uap air terjun yang tertiup angin akan didapat pengunjung yang sampai di dasar sungai.

Di ujung barat laut danau, sobekan bumi terlihat nyata, jejak dinamika kulit bumi Sumatera yang tiada henti ditekan dari Samudra Hindia dengan kecepatan 6-7 cm per tahun, telah mendorong sebelah barat pulau ini ke arah barat laut, dan sisi sebelahnya lagi bergerak ke arah tenggara. Ujung robekan di barat laut danau itu merupakan jejak sesar normal, situs bumi yang menyimpan pengetahuan.

Di ujung utara Danau Toba inilah tempat dimulainya tahap awal pembentukan gunung api, yang menurut Craig A. Chesner, Gunung Toba purba ini mulai membangun dirinya sejak 1.200.000 tahun yang lalu. Letusan Toba purba menghembuskan material letusan yang kemudian dinamai Haranggaol Dacite Tuff (HDT).

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Batugamping Formasi Sibaganding di tepi timur Danau Toba.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Tidak jauh dari gunung api purba ke arah barat laut danau, tak jauh dari titik letusan Gunung Toba Purba, terjadi letusan dahsyat generasi kedua dalam pembentukan Kaldera Toba. Menurut Craig A. Chesner, kaldera ini terbentuk pada 500.000 tahun yang lalu. Letusannya menghembuskan 60 km3 material yang dikenal sebagai Tuf Toba Menengah (MTT, Midle Toba Tuff), yang menghasilkan Kaldera Haranggaol, yang lingkaran kalderanya berbatasan dengan Kota Silalahi di barat dan Kota Haranggaol di timur.

Lereng-lereng terjal memagari danau yang jauh berada di bawahnya. Jalan menyusuri lereng luar kaldera, memotong zona sesar Sumatera menuju Sidikalang, tempat rehat untuk minum kopi, sebelum melaju di jalan yang berada di lembah yang diapit dua dinding yang memanjang barat laut – tenggara dengan ketinggian lebih dari 150 m. Setelah perjalanan sejauh 15 km, jalan berbelok ke arah timur, memotong lagi zona sesar Sumatera menuju Tele.

Dari menara pandang di Tele, Danau Toba terlihat pesonanya, namun tetap belum dapat melihat sebagian besar kaldera ini. Hanya satu sudut yang dapat dinikmati. Agar mendapat gambaran lebih nyata, Kaldera Toba seluas 2.270 km2 itu dapat dibandingkan dengan luas beberapa kota di Indonesia. Luas Kaldera Toba itu hampir sebanding dengan Kota Palangkaraya yang luasnya 2.400 km2, atau 13 kali luas Kota Bandung, 18 kali luas Kota Denpasar, 35 kali luas Kota Gorontalo, 47 kali luas Kota Sukabumi, atau 126 kali luas Kota Magelang.

Jalanan menikung tajam, di sana terdapat kedai kopi, tempat berisitrahat melepas lelah sambil dibuai pesona alam. Dari Tele pada ketinggian 1.800 m.dpl., perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pulau Samosir. Jalannya menurun berkelok-kelok sampai ketinggian 910 m.dpl di tapi danau. Hanya dari sisi barat inilah menuju Pulau Samosir dapat dicapai dengan berjalan kaki. Tinggal menyebrangi jembatan selebar 20 m., akan sampai di Pulau Samosir, pulau dengan bagian terpanjang 60 km. dengan lebar 20 km. Selama di sini pengunjung dapat diantar beca motor (betor), atau menyewa sepeda motor roda dua atau kendaraan roda empat ke berbagai tujuan wisata, seperti ke batu kursi parsidangan di Huta Siallagan dan ke Kompleks Makam Raja Batak di Tomok.

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

dilihat dari dinding kaldera di Prapat. Foto: Igan S. Sutawijaya

Saat beristirahat di Pangururan, tak terbayangkan, 74.000 tahun yang lalu telah terjadi letusan megakolossal yang membentuk kaldera generasi ketiga, yaitu Kaldera Sibandang. Tiang letusannya mencapai ketinggian lebih dari 50 km, abu halus dan aerosolnya mencapai lapisan stratosfer sehingga menghalangi pancaran cahaya matahari ke bumi, yang berdampak besar pada kehidupan karena terjadi perubahan iklim. Abu letusannya tertiup angin menyebar ke separuh bumi, dari daratan Cina sampai ke ke Afrika Selatan. Material letusan supervulkano Toba ini menutupi sebagian besar
Sumatera Utara, dan abunya tersebar menutupi seluruh Asia Selatan setebal 15 cm. Lapisan abunya terendapkan di Samudera Hindia, Laut Arabia, dan Laut Cina Selatan. Menurut Craig A. Chesner, endapan awan panas (ladu) menutup kawasan seluas 20.000 km2. Di beberapa tempat ketebalanya mencapai 400 m., namun, enadapan ladu itu rata-rata setebal 100 m.

Kekuatan letusannya berada diurutan teratas, mencapai 8 VEI (Volcanic Explosivity Index). Letusan ini merupakan letusan terbesar dalam 2 juta tahun terakhir yang terjadi selama seminggu. Batas-batas lingkaran kalderanya mulai dari Pangururan di barat, melingkar ke utara mengikuti ujung utara Pulau Samosir, menerus ke sisi timur dan selatannya sampai batas Blok Uluan, termasuk ke dalamnya Selat Latung. Inilah lingkaran kaldera yang oleh Craig A. Chesner dikategorikan sebagai kaldera hasil letusan Toba generasi ketiga atau terakhir. Letusan pamungkas yang mahadahsyat ini menghembuskan 2.800 km3 material letusan yang dikenal sebagai Tuf Toba Termuda (YTT, Youngest Toba Tuff), membentuk kaldera raksasa 87 x 30 km., yang kemudian terisi air hujan membentuk danau kaldera, danau volkanotektonik terbesar di dunia yang kemudian diberi nama Danau Toba.

Untitled-5

Danau Toba dilihat dari sebuah hotel Foto: Igan S. Sutawijaya.

Sejauh mata memandang, hanya air yang terlihat, sekelilingnya dipagari tebing-tebing tegak, perbukitan, dan pesawahan yang terhampar di bawahnya. Danau raksasa ini mampu menyimpan air tawar sebanyak  240 km3 yang bersumber dari air hujan yang langsung jatuh ke danau dan air yang berasal dari sungai. Sungaisungai yang mengalir dan bermuara ke Danau Toba di antaranya: Sungai Sigubang, Bah Bolon, Sungai Guloan, Arun, Tomok, Sibandang, Halian, Simare, Aek Bolon, Mongu, Mandosi, Gopgopan, Kijang, Sinabung, Ringo, Prembakan, Sipultakhuda, dan Sungai Silang. Keseluruhan sungai yang masuk ke Danau Toba sebanyak 289. Dari Pulau Samosir 112 sungai dan dari Daerah Tangkapan Air lainnya adalah 117 sungai. Dari 289 sungai, 57 di antaranya mengalirkan air secara tetap, dan 222 sungai merupakan sungai musiman. Sehingga Danau Toba dapat penyimpan cadangan air tawar sebagai air baku air minum. Sedangkan outlet Danau Toba hanya satu, yaitu ke Sungai Asahan, yang telah dimanfaatkan menjadi pembangkit energi listrik sebesar 450 Megawatt.

Di tempat-tempat yang lebih datar di pinggiran danau, yang memungkinkan untuk membangun kehidupan, rumah-rumah di sana didirikan, berdekatan dengan sumber air, tak jauh dari aliran sungai. Ada 289 sungai itu bermuara di Danau Toba, ditambah kegiatan di perairan danau, maka semua apa yang dibawa sungaisungai itu, tak terkecuali limbah domestik/limbah rumah tangga, termasuk limbah dari MCK, limbah dari budidaya perikanan berupa sisa pakan, limbah kegiatan pertanian berupa residu pestisida dan pupuk, limbah kegiatan pariwisata dan perdagangan, termasuk di dalamnya limbah dari pasar, hotel, restoran, industri kecil, serta kegiatan transportasi air yang berupa residu minyak dan oli, itu semua menjadi penyebab zat pencemar yang menurunkan kualitas air danau. Limbah itu telah penyumbang nitrogen, fosfor, dan kalium, yang dapat menyuburkan perairan danau, dapat dicirikan dengan meningkatnya jumlah tumbuhan air, seperti ganggang dan encenggondok yang tumbuh subur di perairan dengan pemukiman.

Di setap sudutnya, danau ini menyimpan pesonanya, dan banyak teka-teki sejarah buminya yang masih terkubur, yang belum dapat dijawab secara sempurna. Dengan bentang alam yang menakjubkan, Danau Toba mempunyai harapan yang tinggi sebagai tujuan wisata, apalagi bila dihubungkan dengan sejarah buminya yang mahadahsyat, dengan letusan supervolkano-nya 74.000 tahun yang lalu. Masalahnya selalu berakhir pada manajemen, bagaimana mengelola sumberdaya alam yang mahaindah itu dengan segala informasinya, agar menjadi objek geowisata andalan yang dapat menyejahterakan masyarakatnya. Penataan kawasan adalah kuncinya, sehingga tidak banyak bangunan atau kegiatan yang justru menurunkan kualitas fisik danau dan kenyamanan wisatawan.

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele. Foto: Igan S. Sutawidjaja

Daerah Paropo, Toba dan pemandangan Danau Toba dari Tele.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Bentang alam seputar Kaldera Toba yang membentengi danau ini, secara umum didominasi oleh perbukitan dan rangkaian gunung-gunung, dengan kelerengan mulai dari datar sampai curam, bahkan sangat curam dan terjal. Keadaan rona bumi itu oleh masyarakat dimanfaatkan sebagai pesawahan, pemukiman, hutan tanaman, hutan jarang, kebun campuran, dan yang paling menghawatirkan, sisa hutan alam hanya tinggal 13,47%. Sesungguhnya keadaan inilah yang akan sangat berpengruh pada jumlah air danau yang banyak menjadi tumpuan harapan.

Selama mengelilingi pinggiran danau, kerusakan lingkungan di Daerah Tangkapan Air (DTA) sudah terlihat nyata. Luas hutan di DTA Danau Toba pada tahun 1985 mencapai ± 78.558 ha, luasannya terus menurun pada tahun 1997 menjadi ± 62.403 ha. Kerusakan lingkungan itu salah satunya adalah perambahan hutan. Semuanya itu akan berdampak pada penurunan kamampuan lahan meresapkan air hujan. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian akan memperluas lahan terbuka, menyebabkan erosi menjadi tinggi, dan meningkatkan aliran permukaan, sehingga akan mengganggu neraca air danau. Padahal, di perairan itu menyimpan keragaman hayati berupa ikan Batak jenis Lissochilus sumatranus, Labeobarbus soro, dan remis Toba (Corbicula tobae), serta air tawarnya sangat dibutuhkan masyarakat.

Dari pantai barat Pulau Samosir yang landai, dari Pangururan, perjalanan memotong bagian terlebar yang berada tengah pulau. Perjalanan dari ketinggian
906 m.dpl. terus meninggi hingga mencapai daerah di ketinggian 1.600 m.dpl., yang di depannya, sedikit ke sebelah timur, terdapat tebing yang hampir tegak menghadap timur sedalam 200 m., di bawahnya terdapat pelataran selebar 2 km pada ketinggian 1.400 m.dpl.. Rona bumi ini terlihat dengan jelas bila berlayar dari arah Parapat, bagian timur Pulau Samosir itu nampak jelas lebih mencuat ke atas. Pulau Samosir berukuran 60 x 20 km itu telah terangkat setidaknya 1.100 m ke posisi sekarang.

Dalam tulisannya yang terbit pada tahun 1949, van Bemmelen memberikan jawaban atas keadaan rona bumi Pulau Samosir. Diawali dengan pembentukan “Tumor Batak”, lebarnya 150 km dan panjangnya 275 km, membentuk bangun lonjong berarah barat laut-tenggara, lalu terangkat menjadi cikal-bakal terbentuknya “Gunung Toba Purba”. Kubah itu kemudian meletus mahadahsyat, menghembuskan material ke angkasa, menyebabkan
terjadinya kekosongan di dalam tubuh “gunung”, sehingga bagian atas dari tubuhnya tak kuat lagi menahan beban, lalu runtuh. Dua blok raksasa itu melesak ambles lurus ke bawah, membentuk diding yang tegak di sekelilingnya. Air hujan mengisi runtuhan itu membentuk danau kaldera yang amat luas. Proses sedimentasi danau terus berlangsung, sehingga fosil ganggang (diatom) dan fosil daun dapat ditemukan di ketinggian Pulau Samosir, yang terhampar dengan ketebalan puluhan meter. Endapan itu memberikan keyakinan, bahwa daerah yang sekarang bernama Pulau Samosir itu semula merupakan dasar danau kaldera yang kemudian terangkat ke permukaan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sekitar 33.000 tahun yang lalu, Pulau Samosir masih di bawah permukaan danau.

Kegiatan magma yang menerebos ke permukaan telah memperkuat tekanan dari dalam, menyebabkan kubah di dasar kaldera terangkat kembali (resurgent doming), yaitu pengangkatan dasar kaldera karena adanya desakan magma. Bagian tengah blok mendapatkan tekanan yang lebih kuat, sehingga sisi timur dari blok barat terangkat lebih tinggi, sehingga Pulau Samosir sisi timur itu rona buminya lebih tinggi yang menurun halus ke bagian
baratnya.

Perjalanan kembali menyusuri lereng dalam kaldera bagian barat yang curam, untuk kembali ke Tele. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan ke arah tenggara. Setelah menempuh perjalanan 8 km, jalan berbelok ke arah barat daya, lalu menyusuri dataran yang memanjang, dibentengi patahan/sesar di sisi baratnya. 31 km dari Tele, akan sampai di jalan sempit yang menurun berkelok, dengan jurang yang dalam. Dari sana lembah
Bakkara terlihat keindahannya. Dari lembah ini pula telah lahir generasi awal Si Singamangaraja.

Dari Bakkara, perjalanan dilanjutkan melewati Balige menuju Porsea di bagian tenggara danau. Perjalanan sejauh 66 km itu dapat ditempuh selama 1,5 jam. Kawasan ini merupakan lingkar luar sisi tenggara dari Kaldera Porsea. Letusan kaldera generasi pertama Toba ini terjadi 840.000 tahun yang lalu, menghembuskan material letusan sebanyak 500 km3, menghasilkan endapan ignimbrit Tuf Toba Tua (OTT, Old Toba Tuff).

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Menuju Ambarita di P. Samosir. Foto: T. Bachtiar

Dari Porsea perjalanan dilanjutkan ke Parapat. Kota Porsea ini berada di Blok timur yang terangkat kembali setelah 33.000 tahun lebih berada di dalam dasar danau. Kawasan ini disebut juga Blok Uluan, namun tidak terangkat setinggi Blok Samosir. Ujung selatannya berada pada ketinggian 1.200 m.dpl. dan di bagian utara, di Kota Parapat, ketinggiannya 1.100 m.dpl., dengan rata-rata permukaan Blok Uluan 1.400 m.dpl.. Tebing sisi barat Blok Uluan ini setinggi 300-360 m. bila diukur dari permukaan air danau samai permukaan daratannya.

Menjelang pagi di bibir pantai Danau Toba, di Kota Parapat, kota terakhir yang kami singgahi setelah mengelilingi seluruh pinggiran danau dan mengeliling Pulau Samosir yang berada di tengahnya. Dalam remang cahaya, terlihat bayangan perahu terus melaju dalam riak yang berkilau, pantulan cahaya dari hotel yang berjajar. Nelayan itu menepikan perahu kecil selebar tubuhnya, lalu menawarkan ikan dan udang hasil tangkapannya. Ikan nila seukuran telapak tangan orang dewasa dan udang sebesar ibujari kaki. Pak Saragih, namanya. Ia terus bercerita tentang keluarganya, tentang anak-anaknya yang dikaruniai kepintaran, selalu mendapat nilai bagus di sekolahnya, yang menurutnya itu karena anak-anaknya selalu sarapan dengan ikan dan udang dari Danau Toba.

Di pinggiran Danau Toba, saya membayangkan letusan mahadahsyat Gunung Toba 74.000 tahu yang lalu, letusan yang menyemburkan abu vulkanik sebanyak 2.800 km3 yang menyebar dalam skala global, sehingga mendinginkan suhu di Bumi (volcanic winter), yang memicu terjadinya kemacetan genetis dalam evolusi manusia. Saat itu tak terbayangkan atmosfer bumi yang diselimuti lapisan kuning beracun, dan sebanyak 2-4 megaton mengendap di Greenland. Menurunnya suhu di bumi itu telah berdampak pada kehancuran hutan, sehingga menyebabkan terjadi badai debu yang dahsyat.

Para peneliti dari berbagai belahan Dunia akhirnya dapat mengisi sebagian besar puzzle dari teka-teki Kaldera Toba. Penelitian yang satu melengkapi hasil penelitian sebelumnya. Namun, penelitian selalu belum berakhir dengan sempurna. Selalu ada hal masih perlu penyempurnaan, dan ini memberikan kesempatan kepada para ilmuwan lain untuk berperan mengisi bilah-bilah puzzle yang belum terisi dengan sempurna. ( T. Bachtiar )

T Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia (MGI) dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Katastrofi Geologi oleh Super-erupsi

Seri  dari  Tulisan “Toba Big Bang” 74.000 Tahun yang Lalu: Katastrofi Geologi

Oleh : Awang H. Satyana

Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1992)

Katastrofi geologi adalah suatu proses geologi yang menyebabkan perubahan sangat besar bagi lingkungan Bumi dan penghuninya, ditandai dengan rusak atau hancurnya lingkungan, kondisi iklim yang tidak menunjang bagi kelangsungan kehidupan, sehingga sebagian besar makhluk hidup mengalami kepunahan dalam skala besar (kepunahan massa/ mass extinction). Dengan terjadinya erupsi Toba dalam skala megakolosal, VEI = 8, yang terbesar di Bumi dalam 28 juta tahun terakhir, maka suatu katastrofi geologi diperkirakan telah terjadi. Kejadian ini secara definitif disebut sebagai “Teori Katastrofi Toba”.

Katastrofi Toba terjadi melalui dua cara, yaitu musim dingin volkanik (volcanic winter) dan punahnya sebagian besar manusia modern yang saat itu sedang bermigrasi keluar dari Afrika (population bottlenecking) (Gibbons, 1993; Rampino dan Self, 1993; Ambrose, 1998)

Musim dingin volkanik terjadi bila banyak abu tersembur masuk ke dalam atmosfer. Kadar asam belerang pun memasuki atmosfer , dan bila abu volkanik terinjeksi lebih tinggi ke dalam atmosfer, maka abu volkanik dan asam belerang tersebut akan tinggal lebih lama di dalam atmosfer. Kejadiannya bisa selama berabad-abad, bahkan ribuan tahun, lalu mereka akan menangkis dan mengubah influks energi matahari ke atmosfer bagian bawah. Manusia modern yang hidup antara 1815-1818 pun menderita akibat letusan Tambora. Bagaimana bila itu terjadi 74.000 tahun yang lalu dan berasal dari sebuah erupsi megakolosal yang puluhan kali lebih kuat daripadaTambora? Maka, mungkin benar, bahwa telah terjadi suatu kepunahan massa.

Parameter-parameter klimatologi dan oseanografi global yang menunjukkan perubahan signifikan pada 74.000 tahun yang lalu, merespon efek letusan mega-kolosal Toba. (Rampino dan Self, 1993)
)

Letusan Toba 74.000 tyl telah menghasilkan 3 milyar ton abu halus dan aerosol H2SO4 dan SO2 yang terlontar setinggi 27-37 km menginjeksi atmosfer dan sangat signifikan mengurangi transmisi sinar Matahari ke permukaan Bumi (Rampino dan Self, 1992; Chesner dkk., 1991). Diperhitungkan bahwa transmisi sinar Matahari saat itu hanya 0,001-10 %. Menurunnya daya terima sinar Matahari ini telah menyebabkan temperatur menurun 3-5oC. Saat itu Zaman Es sedang menjelang, dan letusan Toba diyakini telah mempercepat datangnya Zaman Es ini. Toba juga telah melepaskan sebanyak 540 milyar ton air yang naik sampai stratosfer dan dapat mengubah gas belerang yang dilontarkan Toba menjadi 1-10 milyar ton aerosol H2SO4. Posisi Toba di wilayah tropis juga membuatnya lebih efisien untuk abu dan gas dari Toba memasuki stratosfer di kedua belahan Bumi.

Mengenai hal ini, para ahli umumnya sepakat bahwa letusan megakolosal Toba telah memicu ataumempercepat musim dingin sesuai siklus geologi. Mereka hanya berbeda pendapat di mekanisme terjadinya musim dingin volkanik dan tingkat penurunan temperatur, misalnya yang didiskusikan oleh Oppenheimer (2002) dan Robock dkk. (2009).

Parbakalan, Sidikalang, lembah terbuka sejajar (strike valley) Sesar Sumatra. Foto: Margaretha Purwaningsih

Kemungkinan terjadinya penciutan populasi manusia akibat erupsi mega-kolosal Toba pertama kali dikemukakan oleh Gibbons (1993). Pendapat ini kemudian segera disokong oleh Rampino dan Self (1993). Teori bottleneck ini kemudian dikembangkan oleh Ambrose (1998) dan Rampino dan Ambrose (2000). Menurut para pendukung teori genetic bottleneck, antara 50.000-100.000 tyl, populasi manusia mengalami penurunan yang sangat drastis, dari sekitar 100.000 individu menjadi sekitar 10.000 individu (Gibbons, 1993; Ambrose, 1998). Bukti-bukti genetik juga menunjukkan bahwa semua manusia yang hidup sekarang, meskipun sangat bervariasi, diturunkan dari populasi yang sangat kecil antara 1000-10.000 pasangan sekitar 70.000 tyl.

Setelah genetic bottleneck dan pemulihan kembali, diiferensiasi ras populasi manusia terjadi dengan cepat. Oleh karenanya, diajukan pendapat bahwa Toba telah menyebabkan ras-ras modern berdiferensiasi secara mendadak hanya sekitar 70.000 tahun yang lalu, daripada secara berangsur selama satu juta tahun.

Terjadinya musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera karena letusan Toba dapat menjawab suatu paradoks tentang asal Afrika buat manusia, yaitu: bila kita semua berasal dari Afrika (Out of Africa) mengapa kita semuanya tidak mirip orang Afrika? Karena musim dingin volkanik dan Zaman Es yang segera telah mengurangi populasi sampai tingkat cukup rendah untuk meneruskan efek nenek moyang, lalu terjadi aliran genetik dan adaptasi lokal menghasilkan perubahan cepat pada populasi yang selamat, yang menyebabkan manusia-manusia di seluruh dunia terlihat begitu berbeda. Dengan kata lain, Toba telah menyebabkan ras modern manusia terdiferensiasi secara mendadak (Ambrose, 1998).

Demikian, beberapa aspek tentang Toba, tentang sejarah geologi, tektonik dan erupsi katastrofiknya pada 74.000 tahun yang lalu, tentang efeknya bagi iklim dunia dan akibatnya atas katastrofi biologi berupa penciutan jumlah manusia. Mengunjungi tempat-tempat dengan fenomena geo-histori di Indonesia yang menarik sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang tempat tersebut, yang mungkin sebelumnya tidak diketahui dengan baik. Hal ini akan makin membuat kita takjub atas warisan geo-histori Indonesia, sehingga kita dapat lebih mencintainya.

Penulis adalah spesialis utama di SKMIGAS dan penggiat komunitas “Geotrek Indonesia”.

Daftar Alamat SPBU di Sumatera Utara

spbu

Untuk mengetahui lokasi-lokasi SPBU di Sumatera Utara, silahkan lihat dibawah ini.

SPBU di Kota Medan

SPBU 14.20111.51, Jl. Raya Medan Tenggara, Medan Denai
SPBU 14.20111.52, Jl. Karya Wisata Medan
SPBU 14.2011.23, Jl. Gatot Subroto Medan
SPBU 14.2011.86, Jl. Jend Gatot Subroto
SPBU 14.20211.37, Jl. KL. Yos Sudarso Medan
SPBU 14.20111.40, Jl. Platina Raya Titi Papan
SPBU 14.20111.50, Jl. Kasuari, Sei Sikambing B
SPBU 14.2011.21, Jl. Sempakata Simpang Pemd
SPBU 14.2122.74, Jl. Jl Besar Medan – Kisaran, Sei Bale, Kab Asahan
SPBU 14.2112.70, Jl. Jl P Siantar-Perdagangan, Kerasaan, Kab Simalungun
SPBU 14.20111.34, Jl. Setia Budi, Selayang
SPBU 14.20111.21, Jl. Jl. Outer Ringroad Lingkar Luar Barat, Tanjung Sari
SPBU 14.2011.06, Jl. Karya Jasa
SPBU 14.20111.02, Jl. Klambir Lima No. 131 (Simpang Gaperta Ujung)
SPBU 14.20111.08, Jl. Sei Batang Hari No. 61
SPBU 14.2011.47, Jl. Tritura, Medan Johor
SPBU 11.2011.02, Jl. Putri Merak Jingga No.1 (Belakang Restoran Merak Jingga)
SPBU 14.2031.99, Jl. Jamin Ginting KM. 8,5, Mangga-Medan Tuntungan (Sebelum Hotel Alam Indah)
SPBU 14.20211.19, Jl. Jl Sutomo Ujung No.6 kec Medan Timur
SPBU 14.20111.10, Jl. Gaperta No. 285
SPBU 14.20111.26, Jl. Brigjen Katamso
SPBU 14.20211.22, Jl. Pancing Martubung
SPBU 14.20411.20, Jl. Belawan, Kampung Salam
SPBU 14.20211.28, Jl. Krakatau Simpang Metal
SPBU 14.20211.33, Jl. Letda Sujono
SPBU 14.20211.41, Jl. Marelan Raya Pasar III
SPBU 14.2021.26, Jl. Sisingamangaraja No 45

SPBU di Kota Medan Deli Serdang

SPBU 14.20311.31, Jl. Manggan, KIM I
SPBU 14.20311.32, Jl. Raya Ds.Cinta Rakyat
SPBU 14.20511.35, Jl. Raya Pantai Labu
SPBU 14.20311.49, Jl. Perhubungan, Lau Dendang
SPBU 14.2031.58, Jl. Binjai Km. 12,5
SPBU 14.20511.11, Jl. Raya Medan-T. Tinggi Ds. Pagar Jati
SPBU 14.20311.16, Jl. Medan-Binjai Km. 11,5
SPBU 14.20311.17, Jl. Binjai Sei Semayang
SPBU 14.2031.76, Jl. Jl. Binjai Km. 10,3
SPBU 14.20311.43, Jl. Besar Tanjung Anom-Deli Serdang
SPBU 14.20311.46, Jl. Medan-L. Pakam

Kota : Langkat

SPBU 14.2081.91, Jl. Tanjung Pura. Ds Palu Manis, Kec Gebang Langkat
SPBU 14.2081.52, Jl. Sudirman, Ds Perdamean Stabat
SPBU 14.2081.67, Jl. Medan Tanjung Pura Km 57

Kota : Kab. Serdang Bedagai

SPBU 14.2051.56, Jl. Medan-T. Tinggi, Pasar Bengkel

Kota : Kab. Serdang Bedagai

SPBU 14.20611.07, Jl. Medan Tebing Tinggi KM.71

Kota : Tebing Tinggi

SPBU 14.20611.24, Jl. H. M. Yamin, Tebing Tinggi

Kota : Binjai

SPBU 14.2071.69, Jl. T. Amir Hamzah, Tandem Hulu

Kota : Pematang Siantar

SPBU 14.2112.05, Jl. Ahmad Yani

Kota : Kab. Simalungun

SPBU 14.2112.14, Jl. SM. Raja, Parapat
SPBU 14.2112.75, Jl. Siantar – T. Tinggi KM.8, Sinaksak
SPBU 14.2112.08, Jl. Asahan KM.17,Ds.Bangun – Simalungun

Kota : Kab. Asahan

SPBU 14.2122.68, Jl. Lintas Sumatera, Hessa.Simp.Kawat
SPBU 14.2122.79, Jl. Lintas Sumatera, Teluk Dalam

Kota : Kab. Batubara

SPBU 14.2122.16, Jl. Lintas Sumatera, Petatal
SPBU 14.2122.58, Jl. Lintas Sumatera, Siparepare Indrapura
SPBU 14.2122.83, Jl. Lintas Sumatera, Ds. Sumber Padi – Kab. Batubara

Kota : Tanjung Balai

SPBU 14.2132.76, Jl. Kapias Tj. Balai

Kota : Kab. Toba Samosir

SPBU 14.2233.05, Jl. Patuan Nagari No.99

Kota : Kab. Tapanuli Tengah

SPBU 14.2253.24, Jl. Sibolga Sidimpuan KM.8.5
SPBU 14.2263.42, Jl. Padang Sidempuan Km.20 Ds.Lopian

Kota : Kab. Padang Lawas

SPBU 14.2273.39, Jl. Rantau Prapat-Gunung Tua, Ds. Halongonan

Kota : Kab. Nias

SPBU 14.2283.34, Jl. Diponegoro KM.5 Ds.Sihero
SPBU 14.2283.36, Jl. Diponegoro KM.5,7 Ds.Miga

Kota : Kab. Nias Selatan

SPBU 14.2283.41, Jl. Diponegoro,Teluk Dalam

Kota : Labuhan Batu

SPBU 14.2142.26, Jl. Lintas Sumatera, Blok Songo
SPBU 14.2142.35, Jl. Perdamaian. Sigambal
SPBU 14.2142.63, Jl. Lintas Sumatera, Torgamba
SPBU 14.2142.80, Jl. SM. Raja, Ds. Simpang Mangga – Rantau Prapat

Kota : Padang Sidempuan

SPBU 14.2273.12, Jl. P. Sidempuan-Penyabungan, Manunggang

Tags: Lokasi SPBU, Sumatera Utara

Daftar SPBU Di Kota Medan

Daftar alamat SPBU di kota Medan

 

SPBU 11.2011.02

Jl. Putri Merak Jingga No. 1

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.06

Jl. Karya Jasa

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.02

Jl. Klambir Lima No. 131

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.08

Jl. Sei Batang Hari No. 61

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.10

Jl. Gaperta No. 285

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.21

Jl. Outer Ringroad Lingkar Luar Barat

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.26

Jl. Brigjen Katamso
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.34

Jl. Setia Budi
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.40

Jl. Platina Raya Titi Papan
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.50

Jl. Kasuari
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.51

Jl. Raya Medan Tenggara
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20111.52

Jl. Karya Wisata Medan
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.21

Jl. Sempakata Simpang Pemda
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.23

Jl. Gatot Subroto Medan
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.47

Jl. Tritura
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2011.86

Jl. Jend Gatot Subroto
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.19

Jl. Sutomo Ujung No. 6 kec Medan Timur

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.22

Jl. Pancing Martubung

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.28

Jl. Krakatau Simpang Metal

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.33

Jl. Letda Sujono

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.37

Jl. KL. Yos Sudarso Medan

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20211.41

Jl. Marelan Raya Pasar III

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2021.26

Jl. Sisingamangaraja No 45

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2031.99

Jl. Jamin Ginting KM. 8

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.20411.20

Jl. Belawan

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2112.70

Jl. P Siantar-Perdagangan

Medan, Sumatera Utara, Indonesia

SPBU 14.2122.74

Jl. Besar Medan – Kisaran
Medan, Sumatera Utara, Indonesia

Geoareas in Kaldera Toba Geopark

Geopark is a unity of ecosystems in a sustainable school with conservation, education and people’s economy for the welfare of society. In Geopark Toba Caldera is divided into four geoareas whose division is based on the age of occurrence of the formation of the location.
GEOPARKGeopark is a concept of geodiversity as a tourist attraction that includes geology, biology, socio-culture and tourism. Lake Toba surrounded by rocks of volcanic eruption and lake is the result of volcanic caldera with 3 times big eruption. Biggest explosion 840.000 year ago, 501.000 year and 75 thousand years ago.
 

GEOAREA

Geoarea is a collection of several geosites in one region. Geo-Geosite Distribution of Geopark Toba is covering 7 districts, namely Samosir District, Simalungun Regency, Toba Samosir Regency, North Tapanuli Regency, Humbang Hasundutan Regency, Dairi Regency, and Karo Regency. This Geoarea grouping is based on the order of the time and the process.


ACCESS TO GEOPARK

Medan is the International gateway. The main airport in Medan is Kualanamu International. There are several ways to enjoy the beauty of Geopark scattered in various areas of Lake Toba. Flights from Jakarta, Malaysia and Singapore to Medan. At the airport many travel agencies offer travel tours with Medan route to Berastagi or Medan to Parapat. The other options are flight from Medan to Silangit and Jakarta to Batam which then continued with flight to Silangit. To save time you can use the flight with an alternative route from Jakarta directly to Silangit.


4 GEOAREA

(A) Geoarea Porsea Caldera, to the east includes geosite in parapat (Simalungun district) to Porsea (Toba Samosir district). Happened about 840ribu years ago.

(B) Geoarea Caldera Haranggaol, in the north includes geosite in Simalungun district, Karo distric, and Dairi district. It happened about 501 thousand years ago.

(C) Geoarea Caldera Sibandang, in the south includes geosite, in the south includes geosite in Tapanuli Utara district and Humbang Hasundutan district. Happened about 74ribu years ago.

(D) Geoarea of ​​Samosir Island, which is located in the center of geosite in Samosir district. The base of the Caldera is raised to form the Samosir of a large Island in the lake. Happened around 33ribu years ago.

 

GEOAREA PORSEA

Parapat Welded (YTT)
Taman Eden Meta-Sediment
Rock Basiha Stumpy Andesite column

 

GEOAREA HARANGGAOL

Tiga Runggu (YTT) + 1380m
Sipiso-Piso waterfall + 1402m
Meta Sediment codons
Paropo Caldera ream
Sipisopiso Volcano + 1464m
Haranggaol (YTT) + 1322m
Haranggaol (MTT) + 1258m
Haranggaol (HDT) + 1084m

 

GEOAREA SIBANDANG

Bakara Caldera rim (YTT) + 1467 m
Bakara Welded YTT + 1271 m
Bakara Meta – Sediment + 969m
Tipang-Simamora YTT + 949m
Sibandang dacitic dome + 936m
Plateu Sipinsur Paranginan Humbahas
Pardepur Dacitic Dome + 920m
Dolok Martumbur Meta-Sediment + 1047m
Tapian Nauli Volcanic Breccia + 1329m
Colored Non Welded YTT + 1507m
Plateu Hutaginjang Muara (YTT) + 1472m

 

GEOAREA SAMOSIR

Pusuk Buhit Aek Rangan + 969m
Tele Plateu non Welded YTT + 1547m
Simanuk-manuk non welded YTT + 1327m
Simpang limbong meta – pebbly mudstone + 1002m
Simpang Harian Slaty Meta sediment + 1082m
Pusuk buhit Stone hobon Dacite + 1167m
Pusuk buhit – Batumanikot, Banded flow dacite + 1051m
Tanjungbunga Slaty Meta-sediment + 927m
Lake Aek Natonang
Marhosa Stone welded Ignimbrite
Lake sidihoni
Samosir-Hutatinggi3 debris deposits + 1141m
Samosir Hutatinggi2 sediment lake + 1096m
Samosir Hutatinggi1 sediment lake + 1078m
Tomok Lake sediment + 973m
Tuktuk, Rhyodacitic dome
Pertamina cottage welded Ignimbrite (YTT) + 1011m
Sibaganding Mesozonic Limestone + 927m
Salaon Toba Tectonic depression + 1039m
Huta Sibabiat Diatomite Soil + 939m
Lake Simanindo slumping sediment
Geothermal field stone door + 969m
Simanindo Up-lifting + 941m

Google Translate for Business:Translator ToolkitWebsite Translator

Ikan Batak Atau Ihan Yang Langka

Ikan Batak atau Ihan orang batak sering menyebutnya merupakan hewan ikan endemik di Tanah Batak yang diduga sudah hampir punah dan sudah terdaftar Red List Status di IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dengan kode Ref.57073 sejak tahun 1996. Nama ilmiah ihan genus Neolissochilus .

Ikan Batak yang aslinya disebut sebagai Ihan dari genus Neolissochilus pada zaman dahulu merupakan makanan para raja-raja. Selain itu ihan ini dibuat menjadi upa-upa atau persembahan kepada Tuhan, biasanya dalam acara adat diberikan kepada seseorang oleh Hula-hula dengan harapan pemberian makanan itu mendapat berkat dari Yang Maha Kuasa baik kesehatan dan panjang umur, harapan mendapat banyak keturunan, dan murah rezeki dan banyak harta. Dalam acara adat perkawinan, penganan ini juga diberikan kepada pihak boru sebagai balasan pemberian makanan yang enak berupa suguhan makanan yang disebut dengan tudu-tudu sipanganon sebagai harapan dan doa mendapat berkat dari Tuhan.

Pemberian makanan ikan atau dekke masih ada berlangsung sampai saat ini tetapi sudah tidak menggunakan ihan lagi karena keberadaannya sudah semakin langka di Tanah Batak. Sebagai penggantinya sekarang dipakai jenis ikan yang hampir mirip dengan ihan, jenis ikan tersebut adalah dekke jurung-jurung. Tetapi belakangan ini ikan tersebut juga sudah semakin digantikan menjadi ikan mas dari genus Cyprinus. Jenis ikan mas sebagai pengganti penganan adat tersebut adalah dari spesies Cyprinus carpio yang berwarna kuning kemerahan.

Habitat Ikan Batak

Di Desa Bonan Dolok kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosi terdapat sebuah sungai yang bernama Sungai Sirambe Nauli, terdapat Ikan Batak yang mereka sebut Ihan namun sebenarnya adalah Ikan Batak yang umum disebut sebagai Ikan Jurung dari genus Tor. Oleh warga setempat sungai itu dianggap keramat namun berfungsi juga sebagai sumber air untuk minum oleh masyarakat setempatkarena airnya sangat jernihdan bersih.

Yang unik di sungai ini hidup ratusan ekor Ikan Batak berukuran besar dan kecil, Ikan Batak atau ihan inilah yang menjadikan Desa Bonan Dolok terkenal dan menjadi salah satu objek parawisata di Balige Kabupaten Toba Samosir. Pengunjung yang datang bisa memberi makan ikan-ikan tersebut dengan memberi pakan berupa nasi atau kacang-kacangan. Ikan Batak yang ada di sungai ini tidak bisa diambil dan dimasak karena terlarang.

Selain itu habitat lainnya Ihan Batak ada di sungai Binangalom di Kecamatan Lumbanjulu Kabupaten Tobasa. Masyarakat disini memiliki aturan bila hendak menangkap ikan dari sungai tersebut untuk menjaga kepunahan ikan tersebut karena semakin langka.

Sebagai Ikan Komersial

Ikan Batak Atau Ihan yang disebut Ikan Jurung, selain sebagai penganan dalam prosesi adat oleh masyarakat Batak, juga dikonsumsi sebagai makanan biasa. Kalau di Tanah Batak khususnya bahwa Ikan Batak sebagai ikan konsumsi sementara banyak pula kawasan menganggapnya sebagai ikan keramat dan mempercayai bahwa yang memakannya akan mendapat sakit, bahkan musibah yang membawa kematian, tentu sangat jauh dari logika akal sehat, namun cerita yang dimitoskan ini memang diakui efektif untuk melestarikannya.