Bagian danau yang luas ini terletak di bagian utara Danau Toba, yg oleh masyarakat di sana dikenal sebagai: Tao (danau) Silalahi. Tao ini diapit oleh empat kabupaten: Samosir, Simalungun, Karo, Dairi.

Menurut legenda setiap wilayah perairan danau ini ada penguasanya.

Tao Silalahi, dipercaya sebagai wilayah “kekuasaan” Namboru boru Silalahi. (Namboru: Saudara perempuan klan ayah kita). Tao ini sangat luas, bahkan elang pun katanya akan kelelahan menerbanginya.

Namboru boru Silalahi ini dipercaya sebagai putrinya Raja Silalahi. “Istananya” ada di dasar danau, sedangkan pemandiannya ada di tepi ‘Huta Silalahi’. Lokasi pemandian sang namboru sampai sekarang tetap dihormati masyarakat lokal dan pendatang. Disitu tak boleh berkata jorok, buang sampah sembarangan, dll. Itu tempat sakral, sebagaimana seluruh wilayah tao-nya yg luas itu.

Dahulu, apabila kapal melintasi wilayah Namboru boru Silalahi, kernet kapal dan penumpang yg paham akan mengingatkan semua penumpang agar tidak bicara kotor, tak buang sampah, jangan kecentilan, jangan ngakak berlebihan, pendeknya harus tertib. Umumnya penumpang patuh, dan pelayaran selama dua jam dari Pangururan ke Tigaras itu pun terasa menegangkan, apalagi bila ombak besar atau cuaca mendadak buruk. Tak jarang penumpang menjatuhkan daun srih atau telur ayam ke danau sebagai bentuk penghormatan dan minta izin. Bila penumpang buang hajat di toilet kapal, wajib menyampaikan “santabi (permisi) namboru.”

Danau tak boleh dikotori, ucapan dan perilaku harus dijaga, itu telah menjadi semacam kearifan bagi masyarakat Samosir dan penghuni pinggir danau. Maka, bila ada orang tenggelam atau kapal terbalik, para tetua atau keluarga korban lazim memanggil “orang pintar” untuk dijadikan medium yg dipercaya bisa menyambungkan ke namboru-namboru di lokasi kejadian supaya korban muncul ke permukaan danau. Mirip dng yg dilakukan oleh masyarakat di Pantai Selatan Jawa.

Tak ada maksud menghubungkan kecelakaan ini dengan keberadaan “mitos” di atas, namun mari kita belajar mengenal kearifan lokal dan mengenal tanda-tanda alam dimana kita bertempat.

Ikut prihatin dan berduka sedalam-dalamnya bagi seluruh keluarga-kerabat korban kapal yang tenggelam. Tenanglah kiranya arwah semua korban didekap pemilik alam semesta, ampunilah kesalahan semua pihak yg sepatutnya bisa mencegoah. Mistisime Toba, menyatulah kiranya dng “tondi” mereka semua, tak ada amarah, melainkan nikmat nirwana.*

(Disadur dari tulisan Suhunan Situmorang, perantau asal Pangururan, Samosir)