Partuturan, Dasar Pergaulan Orang Batak

Semoga tulisan ini akan bermanfaat bagi Anda. Siapa tahu nanti mendapat tugas ke daerah Humbang, Silindung atau Toba Samosir. Bahkan ke daerah Sumatera Utara lainnya mungkin masih ada mirip-miripnya. Jadi polisi, hakim, jaksa, guru, wartawan bahkan karyawan swasta yang akan ditempatkan disana, bacaan ini akan berguna nanti dalam pergaulan sehari-hari.

Na tinitip sanggar Lao bahen huru-huruan Jolo sinungkun marga Asa binoto partuturan

Begitu bunyi sebuah syair Batak. Terjemahan bebasnya untuk 2 bari terakhir ialah “tanya dulu marganya sehingga bisa tahu partuturan“. Partuturan itu adalah hubungan antara satu orang dengan orang lain. Bagaimana kita memanggil orang lain itu ditentukan oleh partuturan.

Pada dasarnya Partuturan dilandasi oleh tiga pilar (seperti empat pilarnya MPR saja). Ketiga pilar itu disebut Dalihan Na Tolu – tungku nan tiga ditulis di buku SD dulu. Apa saja tiga pilar tersebut ialah:

1. Somba Marhula-hula: hormat kepada keluarga Ibu dan Istri, termasuk keluarga Istri dari Kakek dan Kakeknya Kakek.

2. Manat Mardongan Tubu: menjaga hubungan yang baik saling menghormati kepada teman semarga.

3. Elek Marboru: menyayangi keluarga putri kita sampai keturunannya semua.

Kira-kira begitu pengertian sederhananya. Karena saya bukan ahli filsafat ke-batak-an, jadi pengertian awam saja yang bisa saya sampaikan. Dari tiga pilar itulah keluar atau lahir sebutan-sebutan, bagaimana si A memanggil si B.

Dari pilar Hula-hula ada panggilan Tulang, Nantulang, Tunggane, Inangbao, Lae, Ito, Eda

Dari pilar Dongan Tubu ada panggilan Amang Uda, Amang Tua, Haha, Anggi, Ampara Dari pilar Boru ada panggilan Amang Boru, Namboru, Lae, Ito, Eda Panggilan Opung ada di semua pilar ini.

Barangkali bagi teman-teman yang pernah berkunjung ke Medan atau ke Tarutung, atau bergaul dengan orang seperti saya yang BTL alias Batak Tembak Langsung alias perantau, akan sering bertemu dengan istilah Lae, Ito, Tulang. Kemarin di lapak kompasianer bahkan sudah ada kata Eda. Memang kata-kata tersebut kerap muncul dalam pergaulan sehari-hari. Pada prakteknya tidak terlalu terikat dengan ketiga pilar tadi. Artinya, belum sempat menanyakan marga, belum sempat tahu partuturan tapi sudah memanggil Lae.

Contohnya, ada kawan Kompasianer wanita yang memanggil saya “Lae”. Jadi begini teman-teman. Lae itu adalah sebutan bagi laki-laki dari laki-laki juga. Kalau perempuan memanggil laki-laki maka dipakai kata Ito. Tapi kalau kita ternyata satu marga, tidak ada kamus panggilan Lae tersebut. Aslinya Lae adalah suami dari saudara perempuan kita. Juga berlaku bagi anak Tulang dan anak Namboru.

Dalam pergaulan sehari-hari, ketemu dengan marga lain dan belum tahu jelas posisi partuturan, sering digunakan sapaan Lae. Sapaan sesama laki-laki. Sapaan antar perempuan adalah Eda. Aslinya, Eda ialah istri dari Ito dan sebaliknya saudara perempuan dari suami.

Bagi yang baru saling kenal dan beda marga, biasanya panggil Eda. Untuk sapaan Ito, adalah panggilan bagi laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya. Anak perempuan dari Namboru juga dipanggil Ito. Sehari-hari kalau bertemu lawan jenis yang sebaya bisalah dipanggil Ito.

Sedangkan Tulang adalah saudara laki-laki dari ibu, nenek, dan saudara laki-laki dari nenek moyang kita. Itu semua masuk kelompok Tulang. Istri mereka dipanggil Nantulang. Harus selalu hormat kepada mereka.

Amangboru adalah suami dari saudara perempuan (Namboru) kita. Semua keturunannya bisa dipanggil amangboru. Tapi dalam pergaulan sehari-hari dipanggil juga Lae.

Ampara mungkin tidak begitu familiar kedengarannya. Karena partuturan tidak didasarkan oleh usia, maka lahirlah istilah Ampara.

Dalam pilar Dongan Tubu yang berlaku adalah nomor silsilah serta keturunan dari opung mana. Jadi opung-opung kita zaman dahulu kakak beradik. Keturunan si sulung tetap menjadi sulung sampai seterusnya dalam partuturan, mereka dipanggil Haha Doli, sebaliknya kita dipanggil Anggi Doli.

Dalam pergaulan sehari-hari seringkali si Anggi Doli ini usianya jauh lebih tua dari kita. Kita bisa panggil dia Anggi (adik) dan dia panggil kita Haha (abang). Untuk menghormati usianya itu, muncullah sapaan Ampara. Begitulah sedikit tentang Partuturan yang menjadi dasar dalam pergaulan orang Batak, semoga ada manfaatnya bagi yang akan bertugas ke sana. — kok saya malah bingung membacanya ya….hahahaha semoga anda tak bingung ya…

Sumber: kompasiana.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *