Menu Close

Partuturon (Kinshipterm)

Setiap suku memiliki hubungan satu sama lain secara teratur, yang dikenal dengan sistim kekerabatan atau perkerabatan (kinshipterm). Bagi orang Batak, hubungan semacam ini dikenal dengan istilah “partuturon” – disebut juha “panggoaran”. Pada masyarakat tertentu, perkerabatan nampak lebih teratur dan tertata dibanding pada pada masyarakat lain. Keteraturan (tertata atau tidak) perkerabatan/partuturon sebenarnya relatif sesuai kebutuhan komuniti atau suku. Bisa disebut kurang tertata, tetapi nyatanya cukup untuk mengatur hubungan pribadi dan hubungan kekeluargaan bagi anggotanya. Sebaliknya, pada komuniti tertentu (katakan partuturon bagi orang Batak) dikatakan lengkap dan tertata, namun dianggap terlalu rumit oleh anggota tertentu karena kurang difungsikan dalam kehidupan setiap hari.

Partuturon dapat diberi pengertian sebagai “ungkapan” yang menggambarkan relasi antar anggota komuniti pada masyarakat Batak, baik relasi antar pribadi maupun relasi antar marga. Ungkapan yang menggambarkan relasi berarti “panggilan” yang menam-pakkan hubungan eksplisit diantara dua pihak. Artinya seseorang memanggil apa terhadap yang lain dalam kehidupan keseharian pada suatu komuniti, atau marga tertentu berkedudukan sebagai apa terhadap marga lain dalam kegiatan kemasyarakatan (event tertentu, terutama kegiatan “adat”) dan dalam kehidupan setiap hari. Orang yang tahu bertutur (martutur) merupakan indikasi bahwa yang bersangkutan mengerti sopan santun bermasyarakat, dan dianggap sebagai orang beradat (namaradat).

Sejalan dengan itu, perlu dikemukakan bahwa dalam setiap kinship pasti ada kinshipterm, yang terdiri dari term of reference (TOR) dan term of address (TOA). Dalam partuturon (kinshipterm orang Batak), TOR bisa sama dengan TOA seperti ayah yang melahirkan kita disapa “amang” dan ibu yang melahirkan kita disapa “inang”, tetapi bisa berbeda seperti anggi boru (TOA) disapa “inang” (TOR) dan parumaen (TOA) juga disapa “inang” (TOR). Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan hubungan antar pribadi dan hubungan antar marga pada masyarakat Batak, dan karena itu, tulisan ini akan membahas: partuturon yang menggambarkan relasi antar pribadi, dan partuturon yang menggambarkan relasi antar marga, serta beberapa kesimpulan.

 

PARTUTURON: RELASI ANTAR PRIBADI

Relasi antar pribadi dalam masyarakat Batak sangat banyak jumlahnya. Nampaknya rumit bagi yang tidak memahami, tetapi sangat menolong bagi setiap orang untuk mengerti kedudukan pribadi dalam hubungan dengan sesama, baik terbatas dalam keluarga inti, keluarga besar (saompu) maupun dalam masyarakat kampung atau suatu komuniti yang terikat dalam suatu adat. Sepanjang sepengetahuan penulis, relasi antar pribadi tersebut terdiri dari: (No. Tutur Definisi/batasan:
1. Amang = Panggilan kepada orang tua (laki); panggilan kepada bapak/ pria yang lebih tua apabila belum diketahui tutur secara jelas; panggilan ibu mertua kepada anak hela; panggilan wanita bersuami kepada lae dari suaminya (lihat No.26); panggilan wanita bersuami kepada hahadoli (lihat No. 22); dan panggilan kepada bapak mertua.
2. Inang = Panggilan kepada orang tua (wanita); panggilan kepada ibu/ wanita yang lebih tua apabila belum diketahui tutur secara jelas; panggilan oleh bapak kepada parumaen/menantu; panggilan pria kepada istri dari tunggane (lihat No.27&28); panggilan kepada anggi boru (lihat No. 24); dan panggilan kepada ibu mertua.
3. Natoras/natua-tua = Panggilan kepada orang tua dan kepada mertua.
4. Amang uda = Adik dari bapak (baik kandung atau karena semarga); biasa juga digunakan sebagai panggilan pada suami dari inang baju (Lihat No. 12), bisa berarti lain marga.
5. Inang uda Istri dari amang uda
6. Amang tua = Abang dari bapak (baik kandung atau karena semarga).
7. Inang tua = Istri dari amang tua.
8. Namboru = Ito dari bapak (kandung atau karena semarga), baik lebih tua atau lebih muda dari bapak; bisa juga (oleh menantu wanita) untuk ibu mertua kalau semarga. Kalau bukan semarga lebih umun dipanggil inang seperti catatan No. 2.
9. Amang boru = Suami dari namboru; bisa juga (oleh menantu wanita) untuk bapak mertua.
10. Tulang = Ito dari ibu (kandung atau satu marga dengan ibu), baik lebih tua atau lebih muda dari ibu; juga panggilan terhadap tunggane dari tulang.
11. Nantulang = Istri dari tulang; istri tunggane dari tulang (lihat No. 10).
12. Inang baju = Suaminya dipanggil amang uda seperti catatan No. 4. Adik dari ibu (kandung atau semarga ibu) atau lain marga karena pariban dari ompung (marga ibu dari ibu kita sama dengan marga ibu dari inang baju kita).
13. Inang tobang (Angkola); Inang tua (Toba) = Kakak dari ibu (kandung atau semarga ibu) atau lain marga karena pareban dari ompung (marga ibu dari ibu kita sama dengan marga ibu dari inang tobang kita).
14. Amang tobang = Suami dari inang tobang. Bandingkan dengan No. 12.
15. Ompung doli = Bapak dari bapak
16. Ompung boru = Ibu dari bapak
17. Ompung = Bapak dari ibu, dan ibu dari ibu (kadang disebut juga ompung bao, lihat No. 28); bisa juga kepada orang yang sudah tua yang pantas sebagai ompung kita sebelum jelas tutur.
18. Amang (tua) mangulahi = Panggilan kepada Bapak dari ompung kita.
19. Abang/haha = Kakak (laki) yang lebih tua dari kita; Keturunan: urut nomor dalam silsilah (semarga) lebih tinggi/tua walau umur lebih muda.
20. Angkang boru = Istri dari abang.
21. Angkang = Suami dari boru tulang bila lebih tua dari kita (lihat No. 29).
22. Haha doli = Abang dari suami (Tutur: amang, lihat No. 1).
23. Anggi = Adik (laki) yang lebih muda dari kita; adik dari suami; dan suami dari boru tulang lebih muda dari kita (lihat No. 28).
24. Anggi boru = Istri dari adik (Tutur: inang, lihat No. 2).
25. Ito/Iboto = Kakak atau adik perempuan bagi pria; kakak atau adik laki bagi perempuan; boru ni namboru bagi pria; anak ni tulang bagi wanita; atau panggilan kepada lawan jenis yang sebaya sebelum jelas tutur.
26. Lae = Suami dari ito; anak (laki) dari namboru; panggilan sesame pria sebelum jelas tutur.
27. Tunggane (Toba: Lae) = No. 26 = Ito dari istri; anak (laki) dari tulang (terutama kandung atau hula-hula langsung).
28. Ompung bao = Istri dari tunggane; biasa juga disebut inang bao (Lihat No. 2 dan No. 43); panggilan oleh pria kepada ibu dari ibu kita (No. 17); lae dari suami dan sering disebut amang bao (No. 42).
29. Boru tulang = Putri dari tulang
30. Pariban = Boru tulang (bagi pria); suami dari kakak/adik istri; suami dari boru tulang (kadang disebut anggi, lihat No. 23 atau angkang, lihat No. 21); anak ni namboru (bagi wanita).
31. Boru tulang na so boi olion = Boru tulang dari tunggane (Lihat No. 27)
32. Eda = Istri dari ito; boru dari namboru; panggilan sesama wanita sebaya sebelum jelas tutur.
33. Pahompu = Cucu, anak dan boru dari anak dan boru kita
34. Amang simatua = Bapak dari suami atau Bapak dari istri
35. Inang simatua = bu dari suami atau ibu dari istri
36. Hela/amang hela = Suami dari putri
37. Parumaen = Istri dari anak
38. Maen = Putri dari tunggane bagi pria; putri dari ito bagi wanita
39. Tulang na poso = Anak (laki) dari tunggane
40. Paramaan/Amang na poso = Oleh wanita terhadap anak (laki) dari ito.
41. Babere/bere = Anak (laki/wanita) dari ito; anak dari ito suami. Ada yang membedakan babere untuk bere boru, dan bere untuk bere anak.
42, Amang bao = Panggilan oleh wanita kepada lae dari suami, yang kadang-kadang disebut ompung bao (Catatan Nomor 28)..
43. Inang bao = Panggilan oleh wanita kepada istri dari tunggane, yang kadang-kadang disebut ompung bao (Catatan Nomor 28)..

Dari tabel di atas, ada beberapa hal yang perlu mendapat penjelasan lebih lanjut, yaitu:
1. Natoras atau natua-tua (No. 3) lebih merupakan TOR daripada TOA. Natoras atau natua-tua biasa dipakai sewaktu menulis surat atau sewaktu berbicara (mandok hata) di depan umum. Bisa tunggal, “natua-tua/natorashu” atau jamak, “natua-tua/natoras nami”, dan umumnya ditujukan pada orangtua kandung dan atau mertua. Biasa juga dipergunakan untuk orang tua pada umumnya, khususnya dalam suatu pertemuan dimana pembicara biasa berkata “natua-tua nami na huparsangapi hami” (yang berarti “bapak-ibu yang kami hormati”).
2. Ompung bao (No.28) bisa TOR dan TOA, karena bisa sebagai amang bao (No. 42) sering disapa “amang” atau bisa sebagai inang bao (No. 43) sering disapa “inang”, tetapi kadang orang berkata “Eh…, ompung bao!” atau “Eh…, bao”.
3. TOR = TOA : amang, inang, amang uda, inang uda, amang tua, inang tua, amang tobang, inang tobang, inang baju (ujing di Angkola), namboru, amangboru, tulang, nantulang, ompung, ompung doli, ompung boru, ompung bao, abang, angkang, anggi, ito, eda, lae, tunggane, boru tulang, pariban, maen, dan bere.
4. TOR tidak sama dengan TOA : angkang boru, anggi boru, haha doli, simatua, parumaen, hela, boru tulang na so boi olion, pahompu, paramaan, amang na poso, tulang na poso, dan amangtua mangulahi.

PARTUTURON: RELASI ANTAR MARGA DALAM ADAT

Relasi antar marga di dalam masyarakat Batak tidak sebanyak relasi antar pribadi seperti digambarkan di atas. Namun relasi antar marga tersebut semuanya bermuara pada relasi dalam ikatan “dalihan na tolu”, yang mencakup hula-hula, dongan sabutuha dan boru. Posisi setiap marga dalam salah satu sisi dalihan natolu tersebut bisa berubah sesuai peristiwa (event) budaya/adat yang sedang diikuti/dilaksanakan, baik pernikahan, mangupa, patuathon/kematian dan lain sebagainya. Berbagai “tutur” tersebut mencakup: (No. Tutur Definisi/batasan:)
1. Hula-hula, disebut mora di Angkola Marga istri kita
2. Tulang = Mertua ayah beserta abang adiknya dan keturunannya
3. Bona tulang = Tulang dari bapak kita, ada yang menyebut hula-hula dari bapak, ada yang menyebut marga ibu dari ibu kita (marga dari ompung), ada yang menyebut mertua ompung beserta abang dan adiknya dan keturunannya.
4. Tulang rorobot = Marga tulang istri kita atau marga ibu istri kita.
5. Hula-hula ni hula-hula = Hula-hula dari tunggane kita
6. Hula-hula ni anak manjae = Hula-hula dari anak kita (anak adik/kakak kita)
7. Bona ni ari = Marga ibunya ompung (ibu dari ibu kita), mertua dari ayah ompung beserta abang adik serta keturunannya.
8. Bona ni mual = Simatua ni ompung ni ompung.
9. Pariban = Boru tulang; suami dari kakak/adik istri; suami dari boru tulang, anak ni namboru.
10. Suhut/Suhut sihabolonan = Tuan rumah dalam pelaksanaan acara adat.
11. Dongan sabutuha = Semua yang semarga dengan suhut
12. Pamarai/pangamai = Paidua ni suhut, bisa amang uda atau amang tua atau haha/anggi yang sudah diadati
13. Anak manjae = Anak sendiri, anak adik, atau anak abang yang sudah nikah dan manjae.
14. Boru = Boru, namboru (dengan parebannya), ito semarga.
15. Boru Natuatua = Namboru Bapak kita dan namboru Ompung kita
16. Boru Sihabolonan = Namboru dari Ompung Bapa kita dan seterusnya ke atas.
17. Boru parsonduk, boru hasian, boru naumburju = Boru yang “paling jujur dan baik” dan berperan sebagai bendahara kalau pamuli boru.
18. Bere = Anak dari ito, bisa laki atau wanita.
19. Ibebere = Suami dari bere kita (boru ni ito).
20. Simolohon/simandokhon = Ito dari pengantin perempuan
21. Simanggonghon = Kakak/adik (haha/anggi) pengantin pria
22. Sihunti ampang = Ito dari pengantin pria atau namboru, sudah diadati
23. Suhi ni ampang na opat = Dari pihak pengantin wanita: Suhut (orang tua pengantin perempuan), biasa diwakili Pamarai (No.12), Tulang (No. 2), Simolohon (No. 20), dan Pariban (No.9). Sementara itu, dari pihak pengantin pria: Pamarai (No.12), Simanggonghon (No. 21), Sihunti ampang (No. 22), dan Tulang (No. 2).
24. Ale-ale = Sahabat terdekat bagi kita
25. Dongan sahuta = Teman sekampung

BEBERAPA KESIMPULAN DAN HARAPAN

Setiap orang dalam suatu komuniti (dalam hal ini pada suku Batak), baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota marga, memiliki kedudukan tertentu yang khas. Teguh dalam kedudukan tersebut sewaktu melaksanakan acara adat atau dalam kehidupan sehari-hari karena pemahaman yang benar atas relasi pribadi yang bersangkutan dengan sesama anggota masyarakat lain melalui apa yang dikenal dengan partuturon. Partuturon penting karena anggota masyarakat yang bisa martutur yang dianggap sopan dan santun dalam bermasyarakat dan dianggap maradat. Dengan memahami partuturon secara benar, generasi muda terhindar dari kemungkinan kawin-mawin dengan tutur yang seharusnya tidak boleh dinikahi, dan hanya akan nikah dengan tutur yang boleh dinikahi. Karena partuturon, yang mengatur relasi antar pribadi dan antar marga dalam suku Batak, dapat berfungsi dengan baik menjaga sopan santun bermasyarakat pada suku Batak, maka di-harapkan dapat diajarkan lebih lanjut kepada generasi mendatang. Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat bagi anggota masyarakat Batak yang sempat membacanya. Terima kasih.

Salatiga, 1 Nopember 2008

 

Sumber: kompasiana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *