Tarombo-ku

Berikut adalah silsilah dari Si Raja Batak hingga lahirnya saya, Mangara Maidlando Gultom (Huta Pea #18). Margaku, Gultom, merupakan sundut (generasi) ke-10 dari Si Raja Batak. Seharusnya aku bermarga Pandiangan. Namun marga Pandiangan hanya diteruskan oleh keturunan Raja Humirtap. Hal tersebut terjadi dikarenakan ketegangan hubungan antara Raja Humirtap dengan Raja Sonang di masa itu, sebagai dampak dari kisah boru Saroding yang kawin dengan Guru Sodungdongan (manusia ular).

Mengenai penulisan, saya hanya memakai nama tanpa marga, bukan bermaksud mengurangi/menghilangkan hormatku kepada tua-tua dalam partuturan. Namun agar lebih mudah mengetahui. Di samping itu, nama-nama di bawah ini masih ada yang belum lengkap/diketahui. Maka saya mengikuti data yang ada saja. Yang jelas, sejak sundut (generasi) Si Raja Batak ke-11 tentunya bermarga Gultom. Di atas telah saya sebut bahwa saya adalah Gultom Huta Pea nomor 18, hitungannya dimulai sejak Gultom (generasi ke-10 Si Raja Batak).

Nama-nama yang dicetak tebal merupakan leluhur langsungku. Jika dari nomor 1, cara bacanya seperti ini: si Raja Batak punya 3 orang anak, kemudian Guru Tatea Bulan punya 9 orang anak, dan seterusnya. Nama-nama yang tidak bercetak tebal pastinya memiliki keturunan, namun akan membutuhkan banyak ruang maupun waktu untuk menjabarkan. Jika dibaca dari nomor terbawah (saya sendiri), cara membacanya seperti ini: saya 2 bersaudara dari pasangan Max Donald dan Johanna Berlina, kemudian Max Donald merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara dari pasangan Soilangon dan boru Simanjuntak, dan seterusnya sampai ke Raja Batak. Kemudian, ada kemungkinan dari 1 sundut (generasi) di bawah ini belum mencantumkan nama saudara lainnya yang perempuan (boru). Begitulah Batak, yang menggunakan sistem kekerabatan patrilineal.

Berikut adalah rinciannya:

  1. Raja Batak
  2. Guru Tatea Bulan, Raja Isumbaon, Toga Laut.
  3. Raja Biak-Biak, Tuan Sariburaja, Limbong Mulana, Sagala Raja, Malau Raja, boru Pareme, boru Anting Sabungan, boru Biding Laut, Nan Tinjo.
  4. Raja Lontung, Raja Borbor, Raja Galeman.
  5. Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang, Siregar, boru Amak Pandan, boru Panggabean.
  6. Guru Mombang Pilian (Datu Ronggur)
  7. Sulutnihuta, Pande, Guru Solandason
  8. Parhutala
  9. Raja Humirtap, Raja Sumonang (Raja Sonang), boru Simenak-menak, boru Humot, boru Saroding.
  10. Gultom, Samosir, Pakpahan, Sitinjak.
  11. Huta Toruan (Tujuan Laut), Huta Pea, Huta Bagot, Huta Balian.
  12. Sumorong, Palang Namora, Sipunjung.
  13. Tumonggo Pulo, Namora Lontung, Namora Sende, Urang Pardosi (Datu Tambun).
  14. Namora Suharon, Baginda Raja, Saribu Raja, Pati Sabungan.
  15. Namora Soaloon (kawin dengan boru Galingging), Babiat Galemun (kawin dengan boru Hutasuhut).
  16. Op. Batu Holing, Op. Atahutan, Op. Sonda.
  17. Op. Manggur Barita, Raja Sila.
  18. Amani Atahutan, Guru Toloan, Op. Mangambit, Sibelut.
  19. Guru Soaloon, Op. Batu Hasak (kawin dengan boru Panggabean).
  20. Op. Juara, Marhite Bulu, Op. Dorma, Op. Hapogan (kawin dengan boru Panggabean).
  21. Haluppang
  22. Bekkan, Orem, Juram.
  23. Op. Hattor, Charli.
  24. Bpk. Hattor, Op. Lomak, Landen, Parningotan.
  25. St. Muaro/Op. Ganda (kawin dengan boru Pakpahan), Soilangon/Op. Sanggam (kawin dengan boru Simanjuntak), Bidun/Op. Tomos (kawin dengan boru Pakpahan).
  26. Alfonso/Op. Mikha, boru “Oci”, boru “Bora”, boru Sumiati, Max Donald (kawin dengan boru Purba Sigumonrong, boru Helena, Leo Lupini, Haposan, Sahat, Toho, Marulam.
  27. Mangara Maidlando, Yosanta Ramadear.
  28. (Perempuan atau boru batak mana yang mau bersama-sama berikhtiar/berupaya denganku agar nomor ini ada namanya??) hahhayy…

Jadi, kalau dari Raja Batak, saya adalah keturunannya yang ke-27. Apabila dari sisi marga (toga), saya adalah marga Gultom yang ke-18 dari Huta Pea. Kampung halamanku di Medan, tepatnya di Jl. Gaharu. Kalau opung, kampungnya di Batu Manumpak (kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara). Dan keturunan Gultom Huta Pea, secara turun temurun tinggal di daerah Pangaribuan.

Mengenai orang tua dari Si Raja Batak, belum ditemukan kepastian atau kebenarannya, yang ada hanyalah legenda. Disebut legenda karena kisahnya secara turun temurun diwariskan melalui cerita dari mulut ke telinga dan seterusnya. Konon, bermula dari Manuk-manuk Hulambujati (seekor ayam yang badannya serupa dengan kupu-kupu besar). Berkat kuasa Mulajadi Nabolon (sebutan Tuhan bagi orang Batak, selain Debata), Manuk-manuk Hulambujati mengerami 3 telur sebesar periuk tanah (kira-kira sebesar bola kaki).

Ketika ketiga telur tersebut menetas, ternyata isinya berbeda dengan Manuk-manuk Hulambujati, melainkan manusia. Mulajadi Nabolon pun memerintahkan Manuk-manuk Hulambujati untuk menamai mereka yakni, Tuan Batara Guru, Ompu Tuan Soripada, dan Ompu Tuan Mangalabulan. Ketiganya adalah laki-laki. Manuk-manuk Hulambujati pun memohon kepada Mulajadi Nabolon untuk memberikan mereka pasangan agar dapat terus bereproduksi. Akhirnya Tuan Batara Guru diberi pasangan yang bernama Pareme, Ompu Tuan Soripada diberi pasangan yang bernama Parorot, dan Ompu Tuan Mangalabulan diberi pasangan yang bernama Panuturi.

Dari Tuan Batara Guru dengan si boru Pareme, lahirlah Tuan Sori Muhammad, Datu Tantan Debata Guru Mulia, serta 2 orang anak perempuan kembar yang diberi nama Sorbajati dan Deakparujar. Dari Ompu Tuan Soripada dengan si boru Parorot, lahirlah laki-laki yang diberi nama Tuan Sorimangaraja, dan Raja Enda-Enda. Sedangkan dari Ompu Tuan Mangalabulan dengan si boru Panuturi, lahirlah laki-laki yang diberi nama Tuan Dipampat Tinggi Sabulan.

Entah dari mana datangnya Raja Odap-Odap (konon dari Mulajadi Nabolon), si boru Deakparujar pun dikawinkan dengan Raja Odap-Odap oleh Mulajadi Nabolon. Mereka pun hidup dan tinggal di kaki gunung Pusuh Buhit, yaitu desa Sianjur Mula-Mula. Dari perkawinan Raja Odap-Odap dengan si boru Deakparujar, lahirlah 2 bayi kembar. Yang laki-laki diberi nama Raja Ihat Manisia, sedangkan yang perempuan diberi nama Boru Itam Manisia.

Tidak diketahui dengan siapa Raja Ihat Manisia kawin (entah dengan kembarannya sendiri atau “dikirim” oleh Mulajadi Nabolon). Raja Ihat Manisia memiliki 3 orang anak laki-laki, yaitu Raja Miok-Miok, Patundal Nabegu, dan Ajilapas-lapas. Setelah dewasa, ketiga bersaudara tersebut terjadi perselisihan, sehingga 2 orang pergi entah ke mana, dan hanya tersisa Raja Miok-Miok yang bertahan di Sianjur Mula-Mula.

Sama halnya dengan Raja Ihat Manisia, Raja Miok-Miok pun tidak diketahui kawin dengan siapa, namun memiliki 3 orang anak laki-laki, yaitu Raja Ujung (ketika dewasa diduga pergi ke daerah Aceh), Raja Bonang-Bonang (Eng Domia), dan Raja Jau (ketika dewasa diduga pergi ke arah Nias). Selanjutnya secara singkat (karena memang sejauh ini saja yang saya ketahui), Raja Bonang-Bonang (Eng Domia) memiliki anak yang diberi nama Raja Tantan Debata. Dan Raja Tantan Debata memiliki anak yang dikenal dengan nama si Raja Batak.

Silsilah dan legenda di atas, lebih melekat ke kaum Batak Toba. Untuk sub suku Batak lainnya, seperti Karo, Simalungun, Angkola, Pak-Pak, dan Mandailing, memiliki legenda tersendiri mengenai asal muasalnya. Sistem penomoran pada marga, hanya berlaku bagi Batak Toba, yang lainnya tidak menggunakan penomoran pada marga.

Begitulah legenda lahirnya si Raja Batak. Legenda memang perlu ditelusuri kebenarannya, namun itulah sejarah/cerita yang diwariskan secara turun temurun oleh para orang-orang tua dahulu. Itulah bangsa Batak, yang dalam sejarahnya telah melahirkan semacam agama atau keyakinan yang disebut Malim. Jika saja dahulu orang-orang Batak itu sudah berpikiran modern seperti di Yunani, Romawi, maupun daerah-daerah Timur Tengah, tentunya sudah banyak orang Batak yang keluar dari Sianjur Mula-Mula untuk menyebarkan agama Malim ke pelosok bumi, seperti yang dilakukan oleh para penyiar agama-agama besar di dunia ini. Sekalipun banyak orang Batak yang berpindah agama, namun mereka tak pernah menistakan maupun meremehkan agama leluhurnya. Bisa dilihat dari berbagai pesta adat Batak yang menyebut-nyebut nama leluhur, yang mana kegiatan-kegiatan adat Batak merupakan ritual agama Malim. Mereka tetap melakukannya, meskipun agama mereka bukan agama Malim. Itulah orang Batak yang kampungan, tapi tidak gegabah untuk mengklaim agama yang dianut leluhurnya (Malim) sebagai yang paling benar. Maaf melebar, paragraf ini mungkin lebih tepat untuk menabok mulut-mulut yang mengklaim lebih suci karena agama yang dianutnya, dan mengkafirkan orang-orang yang tidak menganut agama yang dianutnya.

Rangkaian sejarah maupun legenda di atas belum dapat dikatakan sempurna atau valid seluruhnya. Tentu masih ada kemungkinan terjadi kekeliruan, karena proses yang panjang dalam mempertahankannya. Saya selalu membuka diri terhadap kritik maupun masukan agar rangkaian di atas menjadi lebih sempurna/valid, tentunya dengan alasan-alasan yang masuk akal dan/atau terbukti jelas. Silahkan memuat pada spot komentar di bawah.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mempertahankan sejarah, legenda, dan budaya Batak, khususnya Batak Toba, sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar ini.

Horas gabe ma di hita saluhutna!!

 

Balikpapan, 16 Agustus 2015

Sumber:

– Ibrahim Gultom, 2010, Agama Malim di Tanah Batak, Penerbit Bumi Aksara.

– Richard Sinaga, 2010, Silsilah Marga Batak, Penerbit Dian Utama.

– Bapak, Bapak Uda, Inang Boru, Bapak Tua, dan Opung-Opung melalui beberapa diskusi.

– Para Opung, Bapak Tua, Bapak Uda, Abang, Ampara, melalui tulisan-tulisannya di berbagai laman, termasuk diskusi tulisan.

 

 

Sumber: kompasiana.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *